Macron: Konflik China-AS Timbulkan Risiko Konflik yang Lebih Besar di ASEAN

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan istrinya Brigitte Macron tiba di Bandara Internasional Noi Bai, Hanoi, Vietnam, Minggu (25/5/2025). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan istrinya Brigitte Macron tiba di Bandara Internasional Noi Bai, Hanoi, Vietnam, Minggu (25/5/2025). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS

Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan mahasiswa Vietnam bahwa pengaruh negara adikuasa dapat mengubah segala hal. Hal itu disampaikan Macron saat berbicara di hadapan sekitar 150 mahasiswa di Universitas Sains dan Teknologi di Hanoi.

"Konflik antara China dan Amerika Serikat merupakan fakta geopolitik yang menimbulkan bayang-bayang risiko konflik yang jauh lebih besar di kawasan yang penting ini (ASEAN--red)," kata Macron sebagaimana dilaporkan AFP, Selasa (27/5).

Macron mengatakan, China sebaiknya ingat bahwa kebebasan navigasi dan kebebasan maritim penting untuk Laut China Selatan. Ia juga menyebut apa yang terjadi di Laut China Selatan membuat semua orang khawatir.

Macron kemudian menyinggung AS yang menurutnya memberlakukan tarif dagang sesuai apa yang menguntungkannya. Kemudian, Macron menyatakan Prancis merupakan alternatif yang dapat diandalkan.

Selain itu, Macron mendesak mahasiswa -- yang beberapa dapat berbahasa Prancis -- untuk tidak jatuh dalam dunia orang bodoh yang marak di media sosial. Menurutnya, media sosial adalah tempat orang-orang dengan bebas mengkritik mereka yang pemikirannya tidak dimengerti lewat pesan singkat.

Presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan pernyataan pers di Istana Kepresidenan di Hanoi, Vietnam, Senin (26/5/2025). Foto: NHAC NGUYEN/Pool/REUTERS

"Saya tidak percaya semua kata-kata itu sama. Saya rasa ada orang-orang yang tahu [sesuatu] dan mereka yang kurang tahu," lanjutnya.

Lebih dari 100 mahasiswa tidak dapat masuk ke aula universitas tetap mendengarkan pidato Macron melalui tautan video. Mereka terlihat sering bertepuk tangan sepanjang pidato Macron.

Beberapa dari mereka tampak yakin dan melihat peluang di Prancis untuk menghindari kekacauan yang dihadapi mahasiswa asing di AS, khususnya setelah Trump melarang Universitas Harvard menerima mahasiswa asing.

"Mengingat di AS masalah visa untuk mahasiswa asing cukup berisiko, saya memprioritaskan menempuh pendidikan di Prancis karena di sana lebih stabil," kata Nguyen Quang (21).

Mahasiswa lainnya, Nguyen Thi Thuy Linh (21), yang sempat mengobrol dengan Macron sebelum pidato menyebut pemimpin Prancis itu sebagai sosok yang bersahabat dan mudah didekati.

Prancis sendiri dekat dengan sejarah Vietnam. Pada pertengahan abad ke-19, Prancis pernah menguasai seluruh wilayah yang kini dikenal sebagai Vietnam, Kamboja, dan Laos, membentuk sebuah federasi kolonial yang disebut Indochina Prancis.

Macron Tawarkan Prancis sebagai Jalan Alternatif

Presiden Vietnam Luong Cuong dan mitranya dari Prancis, Emmanuel Macron, meninjau pasukan kehormatan di Istana Kepresidenan di Hanoi, Vietnam, Senin (26/5/2025). Foto: Luong Thai Linh/Pool via REUTERS

Kunjungan Macron di Vietnam yang kemudian akan dilanjutkan ke Indonesia dan Singapura sekaligus untuk menawarkan posisinya negaranya sebagai jalan alternatif antara AS dan China. Apalagi, posisi Asia Tenggara 'terjebak' antara ketegangan dua negara adidaya itu.

"Strategi Indo-Pasifik [milik] Prancis dapat menawarkan jalur kebebasan dan kedaulatan," kata Macron dalam kesempatan itu.

Sementara itu, Vietnam mengambil sikap berhati-hati untuk menyeimbangkan sikapnya antara China dan AS.

Vietnam juga memiliki kekhawatiran tentang meningkatnya tindakan China di Laut China Selatan. Meski di satu sisi, Vietnam juga mempertahankan hubungan ekonomi yang erat dengan China.

Vietnam yang dipimpin pemerintahan komunis diancam oleh tarif dagang 46% yang ditetapkan Presiden Donald Trump.

Setelah dari Vietnam, Macron terbang ke Jakarta untuk kunjungan pada 27-29 Mei.