Mahasiswa Asing Diserang di Asrama Kampus India saat Salat Tarawih, 4 Orang Luka

19 Maret 2024 11:37 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi serangan. Foto: Alain Jocard / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi serangan. Foto: Alain Jocard / AFP
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Setidaknya empat mahasiswa asing terluka saat asrama Universitas Gujarat, India, yang mereka tinggali diserang oleh kelompok sayap kanan Hindu. Dilansir dari Indian Express, akibat serangan ini, dua orang mahasiswa mengalami luka parah dan masih dirawat di rumah sakit.
ADVERTISEMENT
Menurut Al Jazeera, penyerangan itu terjadi di malam hari saat para mahasiswa asing sedang menjalankan Salat Tarawih berjemaah di dalam asrama.
Kepada sebuah media lokal, salah satu mahasiswa bercerita insiden ini terjadi pada Sabtu (16/3) malam saat para mahasiswa laki-laki sedang menggelar Salat Tarawih. Mereka salat di asrama karena tak ada masjid di area kampus yang berbasis di Ahmedabad itu.
"Sekitar 15 orang mahasiswa sedang salat saat tiga orang datang dan mulai berteriak, 'Jai Shri Ram' (Kejayaan untuk Tuan Rama, ekspresi ketaatan yang biasa diucapkan umat Hindu di India). Mereka keberatan kami salat di sini," kata mahasiswa tersebut.
Tak lama kemudian, datang puluhan orang lainnya yang meneriakkan kata serupa. Mereka mulai melempari batu, menyerbu asrama, merusak kamar, motor, laptop, hingga menyerang mahasiswa yang ada di dalam.
ADVERTISEMENT
"Kami tidak bisa bertahan hidup seperti ini. Kami datang ke India untuk belajar, dan sekarang kami diserang hanya karena sudah masuk Ramadan dan umat Islam sedang salat," ucap mahasiswa lainnya yang datang dari Afrika.

Pemerintah India Akan Tindak Tegas Pelaku

Kementerian Luar Negeri India pada Minggu (17/3) berjanji akan mengusut kasus ini dan menindak tegas para pelaku. Komisaris Polisi Ahmedabad, GS Malik, menyebut pihaknya telah menerima laporan terhadap 20-25 orang pelaku, dan salah satu di antaranya telah berhasil diidentifikasi, dan lima orang telah ditangkap.
"Kami telah membentuk sembilan tim untuk menyelidiki insiden ini," tutur Malik.
Sementara itu, Asaduddin Owaisi, anggota parlemen dari Kota Hyderabad meminta Perdana Menteri Narendra Modi dan Menteri Dalam Negeri, Amit Shah, untuk turun tangan dan mengirimkan "pesan yang kuat". Apalagi insiden ini berhubungan dengan masalah keagamaan.
ADVERTISEMENT
"Kebencian anti-Muslim dalam negeri telah menghancurkan niat baik India," tulis Owaisi dalam akun X miliknya sambil menandai akun Menlu India, S Jaishankar.
Wakil Rektor Universitas Gujarat, Dr. Neerja A Gupta, menilai para mahasiswa internasional perlu belajar soal "sensitivitas budaya" saat beraktivitas di luar negeri. Termasuk saat menempuh ilmu di India.
"Ini mahasiswa asing [korbannya], dan kalau ke luar negeri harus belajar kepekaan budaya. Para mahasiswa ini perlu orientasi. Kami akan duduk bersama mereka, memberikan orientasi budaya, dan mendiskusikan bagaimana caranya memperkuat keamanan mereka," ucap Gupta.
Beberapa waktu sebelumnya, kelompok sayap kanan Hindu telah berkampanye menentang penyelenggaraan ibadah salat di ruang publik. Di awal bulan ini, seorang polisi di Ibu Kota New Delhi mendapat hukuman skorsing karena menentang seorang pria yang sedang salat di pinggir jalan.
ADVERTISEMENT