Mahasiswa Pelayaran di Aceh Tewas saat Ospek, Ibu Minta Keadilan

Ibunda Muhammad Rasya Fadhillah (18), Laila, meminta agar penyebab kematian anaknya saat menjalani masa orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) diusut menyeluruh. Rasya adalah mahasiswa atau taruna salah satu Politeknik Pelayaran (Poltekpel) di Aceh yang sudah mengikuti ospek hampir sebulan.
Taruna D-III Studi Nautika asal Kota Lhokseumawe itu mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Minggu (27/9) sore.
Kabar meninggalnya Rasya menimbulkan pertanyaan di kalangan keluarga. Sebab, mahasiswa asal Kota Lhokseumawe itu disebut sempat mengalami demam dan sesak napas sebelum kondisinya memburuk.
Laila masih mempertanyakan kondisi yang dialami putranya sebelum meninggal dunia. Ia berharap polisi dapat mengungkap secara jelas apa yang sebenarnya terjadi terhadap anaknya.
Menurut Laila, terdapat sejumlah perubahan pada kondisi tubuh Rasya yang dilihat keluarga setelah jenazah dimandikan. Menurutnya, terdapat bagian tubuh yang tampak memar atau mengalami perubahan warna.
Sejumlah bagian yang menjadi perhatian keluarga di antaranya memar di sekitar mata, leher, hidung, lengan hingga bagian perut. Kondisi tersebut membuat keluarga berharap pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh dan tidak berhenti pada pemeriksaan awal.
“Minta tolong untuk keadilan. Apabila benar, tolonglah diusut anak saya. Kasihan dia,” ujar Laila.
Keluarga, kata Laila, ingin memperoleh kepastian mengenai kondisi Rasya sebelum meninggal dunia. Mereka berharap hasil pemeriksaan medis nantinya dapat menjelaskan perubahan yang terlihat pada tubuh korban.
Polisi Tunggu Hasil Pemeriksaan
Sementara itu, pihak kepolisian masih menyelidiki kematian Rasya. Kasatreskrim Polresta Banda Aceh Kompol Miftahuda Dizha Fezuono mengatakan pihaknya telah mendatangi lokasi di Poltekpel serta rumah sakit tempat jenazah Rasya berada.
Penyidik juga telah meminta keterangan dari sejumlah pihak, termasuk tenaga pendidik di Poltekpel dan tenaga medis yang menangani Rasya sebelum dirujuk ke RSUDZA.
“Kami melakukan penyelidikan dan wawancara terhadap berbagai pihak, sampai melakukan observasi awal terkait penyebab meninggalnya peserta didik tersebut bersama dokter forensik rumah sakit,” kata Dizha.
Menurutnya, pemeriksaan terhadap jenazah juga telah dilakukan oleh tim medis forensik. Sejumlah pemeriksaan dilakukan untuk membantu mengetahui kondisi tubuh Rasya, termasuk pemeriksaan CT scan.
Namun, hasil resmi pemeriksaan medis tersebut masih ditunggu dan diperkirakan baru diketahui dalam beberapa hari ke depan.
Terkait kondisi tubuh yang menjadi perhatian keluarga, polisi menyebut hal tersebut belum dapat langsung disimpulkan sebagai akibat kekerasan.
“Secara lisan kami sudah mendapatkan informasi daripada tenaga medis menjelaskan dari jenazah tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan dan hal-hal yang tidak wajar,” ujarnya.
Meski demikian, polisi belum menyimpulkan penyebab pasti kematian Rasya. Penyidik masih menunggu hasil pemeriksaan forensik, termasuk CT scan dan pemeriksaan medis lainnya.
Selain itu, keterangan dari pihak Poltekpel, tenaga medis, serta saksi-saksi lain masih akan didalami untuk mengetahui rangkaian kejadian sebelum Rasya meninggal dunia.
“Kami tetap akan melakukan penyelidikan dan mengambil keterangan-keterangan dari berbagai pihak dan saksi-saksi untuk menentukan langkah ke depannya,” kata Dizha.
