Mahasiswa UGM Bikin Batako Tahan Gempa dari Sampah dan Oli Bekas

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Enviroblock 2024 membuat batako yang terbuat dari sampah plastik dengan agregat limbah sekam padi dan oli bekas, Senin (8/7/2024). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Enviroblock 2024 membuat batako yang terbuat dari sampah plastik dengan agregat limbah sekam padi dan oli bekas, Senin (8/7/2024). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Enviroblock 2024 bikin batako tahan gempa. Produk terbuat dari sampah plastik dengan agregat limbah sekam padi dan oli bekas.

Karya ini dibuat oleh Mohammad Ridwan mahasiswa Teknik Sipil UGM, Yohanes Mario Putra Bagus mahasiswa Teknik Fisika UGM, Shafa Zahra Aulia mahasiswa prodi Kimia UGM, Ratri Dwiyanti mahasiswa Akuntansi UGM, dan Rakha Faiq Muyassar mahasiswa Teknik Industri UGM.

"Jadi enviroblock di sini dilatarbelakangi keprihatinan kami atas persoalan sampah di Indonesia. Yang pertama adalah sampah plastik. Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar," kata Mario ditemui di UGM, Senin (8/7).

Sampah plastik ini lama terurai sehingga harapannya bisa dikurangi dengan membuat produk yang bermanfaat. Lalu, limbah sekam padi yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai bekatul dan pupuk, manfaatnya lebih diperluas.

"Kemudian oli bekas ini salah satu bentuk sampah yang perlu diperhatikan karena banyak oli bekas di bengkel kurang bisa dimanfaatkan dengan baik. Meskipun beberapa dimanfaatkan untuk mengatasi rayap," jelas Mario.

Bahan-bahan tersebut ternyata bisa untuk memperkuat batako. Contohnya, abu sekam padi yang memiliki kandungan silika yang tinggi. Fungsi silika berfungsi untuk memperkuat batako sehingga tidak mudah retak.

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Enviroblock 2024 membuat batako yang terbuat dari sampah plastik dengan agregat limbah sekam padi dan oli bekas, Senin (8/7/2024). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Enviroblock 2024 membuat batako yang terbuat dari sampah plastik dengan agregat limbah sekam padi dan oli bekas, Senin (8/7/2024). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Kandungan silika pada abu sekam padi ini juga dapat menyerap logam berat di oli bekas sehingga tetap aman.

Meminimalisir Dampak Gempa Bumi

Batako karya mahasiswa UGM ini diklaim bisa meminimalisasi dampak gempa bumi dengan desain interlock.

"Desain ini bisa menahan gaya lateral saat terjadi gempa bumi. Jika menggunakan batako biasa saat terjadi gempa bumi bisa terjadi patahan atau retakan di batako tersebut," bebernya.

Jauh Lebih Murah

Shafa menjelaskan ketiga bahan baku ini mudah didapat dan murah sehingga ongkos produksi pun bisa ditekan. Harga batako karyanya pun dipatok lebih murah dibanding di pasaran.

"Produk kami dipatok Rp 5.300 per pieces. Atau 12 batako kami jual Rp 63.600," jelasnya.

Batako ini juga telah dibeli sejumlah pengembang maupun perseorangan. Namun, saat ini para mahasiswa belum bisa memproduksi dalam skala besar karena keterbatasan modal.

"Kami di masa awal belum memproduksi secara massal dalam bentuk manufaktur. Kami hanya beberapa melayani dan menjual ke agen properti pembangunan perumahan dan kami di pesan warga Pogung Kidul untuk membangun pagarnya," katanya.

Dalam sehari, maksimal mahasiswa ini baru bisa memproduksi 120-an batako. Mereka baru bisa membuat berdasarkan permintaan pemesan.

Komposisi perbandingan semen dan pasir 1:6, lalu sampah plastik 25 persen terhadap volume pasir, sekam padi sekitar 10 persen, dan oli bekas satu sampai tiga persen.

"Kami memproduksi berdasarkan permintaan konsumen terlebih dahulu," jelasnya.