Mahasiswa UGM Kemah di Kampus, Protes soal Penanganan Kasus Kekerasan Seksual

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UGM berkemah di depan Balairung atau gedung rektorat UGM, Kamis (15/5/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UGM berkemah di depan Balairung atau gedung rektorat UGM, Kamis (15/5/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UGM berkemah di depan Balairung atau gedung rektorat. Mereka sudah dua hari ini berkemah untuk menuntut tanggung jawab kampus atas karut marut penanganan kasus kekerasan seksual.

Menurut para mahasiswa, UGM belum bisa memberikan rasa nyaman kepada korban kekerasan seksual untuk melaporkan peristiwa yang dialaminya.

"Tuntutan kami pertama Satgas Penanganan Kekerasan Seksual (KS) ini sebagaimana terjadi di farmasi itu kan sempat ketahan mahasiswa mau melapor tapi (butuh waktu) empat tahun," kata Singo salah satu perwakilan aliansi ditemui Kamis (15/5).

Menurutnya, hal ini menjadi contoh UGM belum menjadi tempat yang nyaman bagi korban kekerasan seksual. Mereka butuh waktu bertahun-tahun untuk memberanikan diri melapor.

"Menunjukkan masih belum efektif. Mahasiswa masih ragu-ragu untuk melapor. Berarti institusinya masih perlu diperbaiki," katanya.

Kedua, mahasiswa menilai UGM selalu bersikap abu-abu ketika ada kebijakan yang dinilai tidak benar. Contohnya seperti RUU TNI beberapa waktu lalu dan RUU Polri mendatang.

"Kami harapkan UGM kan tempat keresahan intelektual. Seharusnya punya stand point yang jelas bagaimana mereka menanggapi kebijakan," katanya.

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UGM berkemah di depan Balairung atau gedung rektorat UGM, Kamis (15/5/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Mahasiswa mengaku akan terus berkemah sampai Rektor UGM Prof Ova Emilia datang menemui mereka.

"Turun ke mahasiswa, menyepakati tuntutan kami," katanya.

Kata UGM

Soal aksi mahasiswa ini, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Arie Sujito, mengatakan aksi mahasiswa adalah ekspresi kepedulian dan sikap kritis dalam merespons berbagai persoalan aktual yang harus dihargai.

"Aksi itu bagian dari kepedulian dan sikap kritis mahasiswa melihat realitas situasi ekonomi, sosial, dan politik makro, termasuk beberapa isu. Itu hal yang lumrah saja menurut saya. Dan saya yakin mahasiswa juga punya tanggung jawab secara sosial atas situasi yang dianggap perlu diperbaiki," kata Arie dalam keterangan tertulisnya.

Arie berpesan soal menjaga nilai-nilai non-kekerasan dalam penyampaian aspirasi. Supaya tidak memicu reaksi yang kontraproduktif.

Dijelaskannya isu yang disampaikan mahasiswa yakni ancaman terhadap demokrasi, kekhawatiran akan remiliterisasi, meningkatnya pengangguran, serta dampak krisis terhadap masyarakat, adalah persoalan nyata yang perlu mendapat perhatian bersama.

"UGM punya tanggung jawab untuk bisa merespons dengan porsinya. Kami meyakini krisis ini memang perlu menjadi perhatian secara serius. Semoga saja ini akan makin membaik," tuturnya.