Mahfud MD Beberkan Sejarah NII, dari Operasi Ali Moertopo hingga Panji Gumilang

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Plt Menkominfo Mahfud MD memberikan keterangan kepada wartawan usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/5/2023). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Plt Menkominfo Mahfud MD memberikan keterangan kepada wartawan usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/5/2023). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Menko Polhukam Mahfud MD menyebut bahwa Panji Gumilang dan Pesantren Al-Zaytun merupakan rentetan dari gerakan Darul Islam dan Negara Islam Indonesia yang dicetuskan oleh Kartosoewirjo.

"Di masa awal kemerdekaan Indonesia, banyak pejuang dari kalangan Islam yang terpinggirkan dan tak tertampung dalam tata kelola pemerintahan," kata Mahfud MD dalam Halaqah Ulama Nasional yang digelar di Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Jatim, dikutip dari Antara, Kamis (13/7).

Sekelompok pejuang Republik Indonesia yang akan diinterogasi oleh Kelompok Intelijen dan Keamanan di Sidikalang, Sumatera Barat Laut, awal tahun 1949. Foto: Arsip Nasional/Handout via REUTERS

Menurut Mahfud, hal itu imbas dari politik pendidikan yang diwariskan oleh pemerintah Hindia Belanda yang cenderung diskriminatif. Hanya kalangan Islam yang punya ijazahlah yang bisa masuk ke pemerintahan.

"Pejuang, anak-anak muda, dan tokoh Islam banyak yang tidak tertampung dalam tugas-tugas di pemerintahan negara baru. Kemudian banyak kalangan Islam yang memutuskan untuk kembali ke pesantren dan fokus dalam mendidik santrinya. Tapi ada juga yang marah karena tidak tertampung," katanya.

Kepolisian Resor Garut menangkap tiga orang warga yang mengaku sebagai jenderal Negara Islam Indonesia (NII). Foto: Dok. Istimewa

Selain itu, sambung Mahfud, terpinggirkannya kalangan Islam dalam tata kelola negara baru Indonesia ini bahkan menimbulkan kemarahan sebagian kalangan Islam, salah satunya adalah Kartosoewirjo yang kemudian mendirikan Darul Islam atau Negara Islam Indonesia (NII).

"Perjuangan yang dilakukan Kartosoewirjo untuk mendirikan Negara Islam Indonesia sebenarnya terus berlanjut, masih ada ekornya sampai sekarang, hingga sekarang ada ribut-ribut soal Panji Gumilang. Jadi Panji Gumilang dulu induknya adalah Negara Islam Indonesia," kata Mahfud.

Dijelaskan oleh Mahfud, NII merupakan organisasi tanpa bentuk, gerakan bawah tanah tetapi NII memiliki struktur yang terdiri dari syekh yang memimpin, gubernur, menteri, bupati hingga camat.

Ratusan anggota NII dari berbagai daerah mencabut baiat di Tanah Datar, Sumatera Barat, April 2022. Foto: Polda Sumbar/HO ANTARA

Operasi Ali Moertopo: NII vs NII

Pemikiran Kartosoewirjo yang dilanjutkan oleh penerusnya itu akhirnya diketahui oleh pemerintah. NII bikinan Kartosoewirjo yang seolah sudah tamat itu kemudian dioperasi kembali oleh intelijen.

Pemerintah mengetahui bahwa NII itu sebenarnya masih hidup meski sudah ditumpas di berbagai tempat. Akhirnya pemerintah menggalang gerakan untuk melemahkan NII dengan cara dipecah dan diadu, NII versus NII.

Nah, (NII) itu diketahui oleh pemerintah, sehingga pada awal tahun 1970-an, NII oleh pemerintah dipecah, diadu, yang satunya untuk melawan yang lain. Itu operasi yang dilakukan Ali Moertopo," ujar Mahfud.

Masjid Rahmatan Lil Alamin yang berada di Pondok Pesantren Al Zaytun di Gantar, Indramayu, Jawa Barat, Selasa (4/7/2023). Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Ali Moertopo adalah tokoh intelijen dan politikus era Orba. Dia terkenal atas jasanya memodernisasi intelijen Indonesia. Mantan Menteri Penerangan ini memiliki pangkat militer terakhir letnan jenderal.

"Memang begitu dulunya, dulu ada Komando Jihad, ada orang dipancing untuk berkumpul lalu disuruh membuat resolusi, disuruh buat pernyataan keras, setelah itu ditangkap lalu dicitrakan ada Komando Jihad yang sama dengan NII sebelumnya. Saya dengar dari sumbernya langsung," lanjut Mahfud.

kumparan post embed
Ahli intelijen Letjen Purn Ali Moertopo. Foto: perpusnas.go.id

Lebih lanjut, Mahfud membeberkan, NII hasil operasi dan bentukan pemerintah waktu itu salah satu wilayahnya adalah Komandemen 9, yang sekarang menjadi Al Zaytun.

Mengadu NII dengan NII itu kalau pakai salawatnya orang NU itu sama dengan salawat asyghil. Wa asyghilid dholimin bid dholimin. NII diadu dengan NII, maka NII akan hancur sendiri, kira-kira begitu," tutur Mahfud.

Panji Gumilang setelah diperiksa Bareskrim Polri. Foto: Thomas Bosco/kumparan

Panji Memecahkan Diri

Kemudian sesudah merasa nyaman dengan pemerintah, merasa aman, kemudian Panji Gumilang ini memecahkan diri, menampilkan sosok Al-Zaytun yang seperti sekarang.

Mahfud mengatakan di balik inilah latar belakang sejarahnya dan pengikut-pengikutnya itu masih banyak, yang memang ideologinya sendiri.

kumparan post embed