Mainan Kayu dan Sisa Kejayaan Tempo Dulu

Unik, itulah yang pertama kali terlintas di benak saat mengintip kios kecil yang dibalut triplek dan kayu-kayu nan usang di emperan daerah Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan Jumat (17/2) dari kejauhan.
Kios itu kecil, begitu sederhana, letaknya berada di emperan jalan dan amat mudah dicari. Di dalamnya berjejer bermacam rupa mainan, terbuat dari kayu yang berwarna - warni memikat mata.
Ada truk berwarna kuning, hijau, biru, ada juga lokomotif berbagai bentuk. Di sudut - sudut pilar, nampak mentereng yang paling jadi idola pelanggan: bajaj merah dengan suaranya yang khas tergantung rapih di pilar-pilar kayu.
Di dalam kios nampak pigura besar menggantung di dinding memperlihatkan Amir (75) dan mainan-mainannya puluhan tahun silam saat masih berjaya di era 80an.
Nampaknya lelaki renta itu tengah melayani pembeli berjaket tebal di atas etalase kaca. Jalan dan berdirinya sudah tak tegap lagi, tapi tangan dan kepalanya masih lincah betul menata segala bentuk besar dan kecil mainan buatan tangannya sendiri.

Amir kemudian bernostalgia, Jalan Raya Pasar Minggu puluhan tahun silam tak seramai sekarang, setelah adanya pelebaran jalan pada tahun 1972 yang merenggut sebagian tanah kiosnya yang dulu besar, kini tercekik oleh kerasnya asap polusi metro mini dan angkot yang semrawut berseliwean.
Tren mainan kayu ini mengingatkan kejayaannya pada dekade 60-80an. Amir mengaku dulu dirinya punya begitu banyak kios di penjuru ibukota seperti Bogor, Ragunan, Kalideres, Jatinegara, Kramat Jati.
Amir masing ingat betul, titik baik kejayaannya terjadi saat krisis moneter 1998.
Amir (75) sang pemilik kios mengaku mendapatkan ide berjualan mainan kayu sejak tahun 1977 silam. Berawal dari hobinya yang suka membuat kincir angin dan wewayangan dari kayu mengantarkannya memiliki kios sendiri.
"Ide sendiri aja. Ya itu, awalnya seneng bikin kincir, lagi bengong aja waktu itu, beli triplek, cat sendiri harga 200 perak aja udah dapet satu becak. Dan memang pada masa kecil saat saya di Sekolah Rakyat dulu memang senang buat wayang - wayangan, saya jual dapat 5 sen masih murah-murah," ujar lelaki asli Serang itu.

Siapa sangka dari kayu-kayu limbah bekas dirinya mampu menyulap semua menjadi miniatur dan mainan yang unik. "Dulu, dari uang 800 perak itu bisa jadi 300.000 rupiah waktu itu makanya saya begitu semangat, sampai pesanan begitu banyak dari orang-orang yang datang.Seperti Pemda, pesan miniatur angkutan umum, becak oplet sampai PPD, bemo saya bikin," ujar kakek kelahiran tahun 1942 tersebut.
Dari kenangannya dulu dirinya bisa menjual lebih dari 50 unit mainan dalam kurun waktu satu hari. Amir juga tak jarang mendapatkan pesanan dari luar kota bahkan hingga luar negeri seperti Jerman, Belanda, Australia, Filipina dan negara lainnya berminat membeli dagangannya secara borongan.
"Banyak kalau dulu mah tadinya, dari Lampung, sampai ke Bogor. Yang dari Belanda aja pesan ke saya minta ratusan unit, tapi saya enggak menyanggupi, hanya puluhan unit aja, enggak ratusan karena pasti kualitasnya berbeda dan menurun."
"Dulu contohnya, Jerman dan Belanda minta Mercedes dan Bajaj ukuran kecil 9x5 centimeter. Sekarang mah udah enggak ada, yang bikin juga udah pada tua-tua. Akhirnya di sini aja udah tersisa, sampai sekarang biasa-biasa aja," kenangnya.
Amir menumpahkan kekecewaan saat peristiwa bom bali 2002 silam dan JW Marriot meletus. Hampir tak ada lagi turis asing yang menghampiri kios kecilnya. Semua pelanggan yang semula ramai tak datang lagi hingga kini. Turis asing pun sudah tak ada lagi yang membeli.
"Kalau dulu mah orang asing yang beli, rame, banyak, sekarang aja satu orangpun enggak ada,bener - bener enggak ada sekarang," tuturnya penuh rasa kecewa.

Mainannya kini dijual dari harga Rp 75.000 untuk mainan berukuran 14x30cm. Yang paling besar, tak tanggung-tanggung, Truk berukuran sekitar 30x70cm dijualnya seharga Rp 250.000.
Tak jarang dagangan Amir sepi pengunjung, namun kekecewaannya itu akhirnya terbayarkan berbuah senyum dan syukur saat akhir pekan datang, begitu juga di hari-hari biasa saat pelanggannya ramai berdatangan ke kiosnya yang telah berdiri 40 tahun lamanya.
Matahari sudah kelelahan di ufuk barat. Sinarnya perlahan melunturkan peluh Amir dan kios kecilnya yang terjepit di pinggiran jalan. Keunikan mainannya inilah yang kini coba dipertahankannya saat mainan-mainan plastik kian membanjiri pasar - pasar tradisional hingga pedagang pikul.
"Malah kita senang. Senangnya kalau orang paham bahwa mainan kayu ini dibuat dengan tangan langsung menggunakan tenaga, Kalau mainan plastik kan bisa dicetak, sehari bisa 100-300, kalau kayu beda," ujarnya penuh senyum bangga.

Tak lama malam pun menyapa, kios yang dibukanya mulai pagi hingga pukul 22.00 WIB ini selalu menyimpan harapan di benak Amir membangun kejayaan mainan klasiknya ini.
"Mau bikin yang lebih besar dan bikin yang kualitas lebih baik. Palingan kalau ada yang ngasih modal. Dan semoga orang tetap terus ingat dan melestarikan. Karena banyak sekali banyak respon positif dari orang yang datang ke sini," ujar kakek 7 cucu ini penuh harap.
