Makna Arafah yang Dinilai Jadi Sebaik-baiknya Tempat Berdoa
·waktu baca 3 menit

Wukuf di Arafah menjadi bagian penting dalam pelaksanaan ibadah haji. Tidak sah haji seseorang tanpa berwukuf di Arafah. Sehingga semua jemaah haji wajib melaksanakannya, baik yang sehat maupun yang sakit.
Konsultan Ibadah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (Arab Saudi), Abdul Moqsith Ghazali, mengatakan wukuf di Arafah menjadi salah satu rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan oleh jemaah haji dari seluruh dunia.
“Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Haji adalah Arafah. Maka Arafah ini menjadi bagian terpenting dari seluruh rangkaian haji,” kata Moqsith.
Mengingat pentingnya wukuf ini, seluruh jemaah haji wajib dibawa ke Arafah, selagi masih memungkinkan untuk dibawa ke Arafah.
Bagi jemaah haji Indonesia yang uzur, bisa melaksanakan wukuf dengan skema safari wukuf, baik yang diselenggarakan oleh Klinik Kesehatan Haji Indonesia karena sakit, maupun safari wukuf bagi jemaah lanjut usia.
Moqsith menjelaskan Arafah menjadi istimewa karena disebutkan di Al-quran dengan kata Arafaat. Arafah ini memilki beberapa makna, di antaranya adalah sebagai ruang perjumpaan antara Nabi Adam dan Siti Hawa. Arafah menjadi ruang bagi mereka untuk saling mengenal kembali setelah berpisah ratusan tahun.
Makna kedua, Arafah adalah tempat Malaikat Jibril untuk memperkenalkan ritus-ritus tempat menunaikan ibadah haji dan manasik haji kepada Nabi Ibrahim. Lalu Jibril bertanya kepada Ibrahim, “Apakah kamu mengetahui?”. Kemudian Ibrahim menjawab "Araftu, saya mengenalnya."
“Makanya dikenal sebagi Arafah,” kata Moqsith.
Sebaik-baiknya Tempat Berdoa
Wukuf di Arafah dimulai dari tanggal 9 Zulhijjah setelah kecelakaan matahari hingga 10 Zulhijjah sebelum fajar. Moqsith menjelaskan, selama wukuf di Arafah, tidak ada bacaan wajib, sebagaimana ibadah salat. Menurutnya, seluruh ibadah haji adalah rukun fi'li (tindakan), tidak seperti shalat yang mewajibkan rukun qauli (ucapan seperti membaca takbir, Alfatihah, dan lainnya).
Moqsith menuturkan untuk ibadah fi'li wukuf adalah tindakan yang pasif, tidak aktif seperti tawaf atau sai.
“Saat wukuf, jemaah haji cukup berdiam diri saja. Jemaah cukup duduk, berdoa dan berzikir kepada Allah SWT. Meminta semua yang dibutuhkan oleh jemaah,” terang Moqsith.
Moqsith mengungkapkan Arafah bukan bagian dari Makkah, berbeda dengan Muzdalifah dan Mina yang masih menjadi bagian dari Makkah. Namun, kata Moqsith, Nabi Muhammad SAW bersabda doa terbaik adalah di Arafah.
Oleh karena itu, Moqsith mengimbau kepada jemaah haji agar mengumpulkan doa sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya saat wukuf.
"Arafah adalah perjumpaan langsung antara Allah dan hamba-Nya. Maka berdoalah sebaik mungkin. Mendoakan orang lain dengan baik," ungkap Moqsith.
Mengingat sucinya wukuf ini, Moqsith mengimbau jemaah haji selama di Arafah agar tidak mencaci orang lain.
"Berdoa yang baik saja untuk orang lain, jangan mencaci dan jangan melakukan melaknat. Karena Nabi Muhammad saw bersabda, tidak boleh mencaci ayam, karena ia yang membangunkan kita saat subuh, apalagi mencaci orang lain. Jangan juga bertransaksi jual barang saat wukuf di Arafah," kata Moqsith.
Tidak Keluar Tenda
Selama di Arafah, jemaah akan salat Zuhur berjemaah dan mendengarkan khotbah, dilanjutkan berdoa. Selain berdoa, jemaah diimbau untuk memperbanyak zikir dan membaca Al-quran.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, jemaah haji wajib menjaga larangan ihram saat wukuf Arafah. Moqsith mengimbau jemaah agar selama di Arafah, jemaah cukup berdiam diri di dalam tenda.
“Karena cuaca ekstrem, kami imbau jemaah untuk wukuf di dalam tenda.kecuali ke toilet,” pesannya.
