Makna Ayat Al-Quran di Pembukaan Muktamar ke-35 NU: Seruan Merawat Persatuan

Mars Syubbanul Wathon karya KH Abdul Wahab Chasbullah mengalun membuka rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Ponpes Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8).
Setelah lantunan lagu yang sarat semangat kebangsaan itu, suasana beralih menjadi lebih hening ketika ayat-ayat Al-Quran dibacakan.
Dua ayat dari Surah Ali Imran, yakni ayat 102-103, dipilih sebagai pembuka yang seakan membawa pesan agar sebelum membicarakan arah organisasi, kepemimpinan, dan berbagai persoalan umat, ada sesuatu yang lebih mendasar untuk diingat yaitu ketakwaan dan persatuan.
Allah berfirman dalam Ali Imran ayat 102:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
Ayat berikutnya kemudian memberikan jalan bagaimana ketakwaan itu dijaga dalam kehidupan bersama:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
Pesan ayat 103 tidak berhenti pada larangan untuk berpecah. Al-Quran justru mengajak manusia mengingat kembali nikmat persatuan. Allah menggambarkan bagaimana orang-orang yang sebelumnya saling bermusuhan kemudian dipersatukan hatinya hingga menjadi saudara.
Kisah di Balik Ayat
Surah Ali Imran merupakan surah Madaniyah. Dalam sejumlah riwayat asbabun nuzul, ayat 102-103 dikaitkan dengan perselisihan antara dua kelompok besar kaum Anshar, yakni Aus dan Khazraj. Keduanya memiliki sejarah permusuhan bahkan peperangan sebelum kedatangan Islam.
Dalam salah satu riwayat yang dinukil dalam kitab-kitab tafsir, perselisihan lama itu kembali tersulut ketika terjadi saling ejek dan membanggakan kelompok masing-masing. Perselisihan tersebut bahkan nyaris berkembang menjadi bentrokan. Ketika kabar itu sampai kepada Nabi Muhammad SAW, turunlah ayat yang mengingatkan mereka tentang takwa, persatuan, dan nikmat persaudaraan yang telah diberikan Allah.
Konteks tersebut menjelaskan bahwa persatuan bukan sekadar keadaan tanpa konflik, melainkan sesuatu yang harus dijaga ketika perbedaan mulai menarik manusia kembali kepada fanatisme kelompok.
Tarqib dalam "Wa‘tasimu Billahi Jami‘an"
Ada satu bagian yang menarik dari ayat 103, yakni susunan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا
Kata "jami'an" (جميعًا) berfungsi sebagai penegas bahwa perintah berpegang kepada hablullah bukanlah pekerjaan individual yang dilakukan masing-masing orang secara terpisah. Ada penekanan pada kebersamaan: "berpeganglah kalian semua."
Di sinilah kekuatan retoris ayat tersebut. Perintah i‘tisam (berpegang teguh) diperkuat dengan "jami'an", lalu segera disusul larangan "wa la tafarraqu", jangan bercerai-berai. Struktur kalimatnya seperti mengikat dua sisi: perintah bersatu dan larangan berpecah ditempatkan berdampingan.
Dalam tafsir al-Tabari, "hablullah" dijelaskan antara lain sebagai agama Allah, perjanjian-Nya, dan sesuatu yang mengantarkan manusia kepada keselamatan. Al-Tabari juga menukil pendapat yang memaknainya sebagai Al-Quran. Sementara itu, sejumlah riwayat dari sahabat dan tabi'in menyebut hablullah sebagai Al-Quran, agama Allah, atau jamaah.
Dengan demikian, persatuan yang dimaksud ayat bukan sekadar berkumpul secara fisik. Ia memiliki poros agar umat bersatu di atas agama, kebenaran, dan petunjuk Allah.
Tafsir Ibnu Katsir juga menekankan bahwa ayat tersebut memerintahkan umat untuk menetapi jemaah dan meninggalkan perpecahan. Persatuan menjadi jalan untuk menjaga kemaslahatan agama dan kehidupan bersama.
Sementara dalam penjelasan al-Tabari, perintah tersebut berkaitan dengan berpegang kepada agama Allah dan perjanjian-Nya serta berkumpul di atas kebenaran dan ketundukan kepada perintah Allah.
Maka ketika dua ayat ini dibacakan di awal Muktamar, pesannya terasa melampaui sekadar pembukaan seremoni.
Di tengah forum yang mempertemukan ribuan warga NU dengan latar belakang, pandangan, dan pilihan yang mungkin beragam, Al-Quran terlebih dahulu mengingatkan tentang fondasi yang harus dijaga, yakni takwa kepada Allah, berpegang pada tali-Nya, dan tidak tercerai-berai.
Seolah sebelum menentukan siapa yang memimpin dan ke mana organisasi akan melangkah, ada pertanyaan yang lebih mendasar, bisakah perbedaan tetap berada dalam satu tali persaudaraan?
Sebab ayat itu sendiri mengingatkan bahwa persatuan adalah nikmat. Dan ketika nikmat itu telah diberikan, tugas berikutnya bukan menciptakannya kembali, melainkan merawatnya agar tidak berubah menjadi perpecahan.
