Makna Petir Hijau di Langit NTB Jelang Gempa 7,0 Magnitudo

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi petir (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi petir (Foto: Pixabay)

Sejumlah warga Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), melaporkan penampakan petir hijau pada malam hari ketika terjadi gempa 7 magnitudo pada Minggu (5/8). Dilaporkan ada beberapa warga yang melihat fenomena tersebut.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meragukan jika kilatan itu adalah aurora yang biasanya muncul di kawasan artik. Kerapatan udara di kawasan khatulistiwa seperti Indonesia dianggap tidak memungkinkan untuk memunculkan aurora.

Peneliti Petir Atmosfera BMKG Deni Septiadi menyebutkan penampakan petir jelang gempa besar bukan baru terjadi kali ini. Kejadian serupa pernah muncul saat gempa berkekuatan 7,2 magnitudo di Kobe, Jepang, pada 1995. Laporan yang disusun Wadatsumi dalam 1519 Statements: Precursors of the Kobe Earthquake memaparkan 490 tanda di langit (unusual sky and atmosphere).

Kondisi Pasar di Kecamatan Tanjung, Kab. Lombok Utara, pascagempa, Rabu (08/08/2018). (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi Pasar di Kecamatan Tanjung, Kab. Lombok Utara, pascagempa, Rabu (08/08/2018). (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Menurut Deni, kemunculan petir jelang gempa dapat dijelaskan secara ilmiah. Pasalnya, pergerakan lempeng yang menyebabkan gempa dapat menghasilkan gelombang elektromagnetik sehingga memicu munculnya petir.

"Kejutan gelombang elektromagnetik yang dihasilkan dari zona gempa bumi bahkan sampai ke lapisan ionosfer mampu menjadi pemicu dan menginduksi terjadinya petir yang bersumber dari awan terutama petir awan ke tanah (Cloud to Ground, CG) baik positif maupun negatif," kata Deni dalam keterangan tertulisnya yang diterima kumparan, Kamis (9/8).

"Peningkatan aktivitas petir ini seakan menjadi tak biasa (unusual) karena diinduksi secara mendadak dari gelombang elektromagnetik yang dilepaskan oleh energi gempa bumi," sambungnya.

Petir jelang gempa besar, disebut Deni, juga pernah diteliti sejumlah ahli di Taiwan. Mereka memantau petir yang muncul 18 hari jelang gempa berkekuatan 5 magnitudo ke atas.

Selain itu, peneliti di Amerika Serikat, Italia, dan China juga melakukan penelitian serupa. Deni berharap Indonesia juga tergerak meneliti hubungan kemunculan petir jelang gempa besar.

"Pengembangan penelitian prekursor gempa bumi di Indonesia dengan parameter aktivitas petir selayaknya menjadi pertimbangan penting untuk mengurangi dampak bencana yang ditimbulkan," sebutnya.