Malam Tahun Baru Islam Akan Dihiasi Hujan Meteor

19 Juli 2022 19:35
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi Meteor. Foto: Geermy/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Meteor. Foto: Geermy/shutterstock
ADVERTISEMENT
Fenomena astronomi berupa hujan meteor diprediksi akan terjadi pada akhir bulan nanti menjelang Tahun Baru Islam 1 Muharam 1444 H yang diperkirakan jatuh Sabtu, 30 Juli 2022. Meteor nantinya akan tampak seperti bintang jatuh atau bintang berpindah.
ADVERTISEMENT
Peneliti Utama bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin menjelaskan, fenomena hujan meteor yang terjadi berjenis Alpha-Capricornids dan Delta-Aquariids.
"Semua wilayah di Indonesia bisa melihat fenomena ini, ke arah langit selatan," kata Thomas kepada kumparan, Selasa (19/7).
Hujan meteor Delta Aquariids dapat diamati pada 29-30 Juli mulai pukul 23.00 WIB di ufuk timur. Puncaknya sekitar pukul 02.00 WIB di langit selatan.
“Hujan meteor ini menampilkan belasan meteor per jam. Debu-debu komet 96P/Machholz diduga menjadi sumber hujan meteor ini,” ujarnya.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Fenomena hujan meteor Alpha-Capricornids dan Delta-Aquariids yang diprediksi akhir Juli 2022. Foto: BRIN
zoom-in-whitePerbesar
Fenomena hujan meteor Alpha-Capricornids dan Delta-Aquariids yang diprediksi akhir Juli 2022. Foto: BRIN
Sementara hujan meteor Alpha-Capricornids ini bisa diamati pada 30-31 Juli 2022 mulai pukul 20.00 WIB di ufuk timur.
"Namun waktu terbaik adalah setelah lewat tengah malam di arah langit selatan. Diperkirakan ada sekitar lima meteor per jam yang tampak melintas di langit,” lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Hujan meteor Alpha-Capricornids berasal dari gugusan debu komet 169P/NEAT yang berpapasan dengan bumi. Debu-debu komet yang berukuran kecil memasuki atmosfer bumi lalu terbakar dan terlihat seperti bintang jatuh.
Prof Thomas Djamaluddin Foto: Joseph Pradipta/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Prof Thomas Djamaluddin Foto: Joseph Pradipta/kumparan
Thomas menjelaskan kondisi kemarau dan tanpa gangguan cahaya bulan, akan membuat pengamatan hujan meteor lebih baik. Lokasi yang minim gangguan cahaya lampu menjadi tempat yang cocok untuk pengamatan. Melihat meteor juga lebih baik tanpa alat, karena mata mempunyai medan pandang yang lebih luas.
Fenomena hujan meteor ini disebut tidak berbahaya sama sekali. Debu-debu sisa komet habis terbakar pada ketinggian di atas 80 kilometer.
Hujan meteor merupakan fenomena astronomi tahunan yang terjadi ketika sejumlah meteor tampak meluncur silih berganti dari titik tertentu di langit. Meteor adalah batuan atau debu antar-planet yang memasuki atmosfer lalu terbakar karena gesekan atmosfer.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020