Malawi Murka Negara-negara Larang Penerbangan dari Selatan Afrika
·waktu baca 2 menit

Akibat merebaknya varian Omicron (B.1.1.529) sejumlah negara dunia melarang penerbangan dari negara di selatan Afrika. Salah satu negara di wilayah tersebut, Malawi, murka karenanya.
Pada Minggu (28/11) Presiden Malawi Lazarus Chakwera menuduh Barat menunjukkan “Afrophobia”--rasa takut atau kebencian terhadap bangsa Afrika.
Varian Omicron pertama ditemukan di Botswana dan menyebar di Afrika Selatan, negara tetangganya.
Puluhan negara, mulai dari Amerika Serikat, Australia, Inggris, Kanada, negara-negara anggota Uni Eropa, Jepang, hingga Indonesia menutup pintu masuknya.
Sejumlah negara yang terdampak adalah Afrika Selatan, Botswana, Eswatini, Lesotho, Namibia, Mozambik, Malawi, dan Zimbabwe.
“Kita semua khawatir tentang varian baru COVID dan kita menyampaikan rasa terima kasih kepada ilmuwan-ilmuwan Afrika Selatan yang sudah mengidentifikasinya sebelum pihak-pihak lain,” ungkap Chakwera dalam laman resmi akun Facebook pribadinya dikutip dari AFP.
“Namun, larangan penerbangan unilateral yang diberlakukan terhadap negara-negara SADC oleh Inggris, Uni Eropa, AS, Australia, dan lainnya sungguh tidak pantas. Kebijakan COVID harus didasarkan pada ilmu pengetahuan, bukan Afrophobia,” tegasnya.
Chakwera kini menjabat sebagai ketua SADC, atau Komunitas Pembangunan Afrika bagian Selatan, yang beranggotakan 16 negara. Sebagian dari anggota SADC menjadi sasaran blacklist akibat Omicron.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja menetapkan Omicron sebagai Variant of Concern (VoC), atau varian yang mengkhawatirkan. Dampak dari varian ini tengah diteliti.
Dikutip dari BBC, varian Omicron memiliki jumlah mutasi yang sangat banyak. Bahkan pada bagian protein spike virus tersebut, terdapat lebih dari 30 mutasi.
Perubahan signifikan pada protein spike virus corona merupakan alarm bahaya bagi para ahli. Protein spike sendiri merupakan bagian terluar virus yang bentuknya seperti paku, dan dipakai SARS-CoV-2 (virus corona penyebab COVID-19) untuk masuk ke dalam sel manusia.
Sebab, mutasi pada protein spike dapat mempengaruhi kemampuan virus untuk menginfeksi sel serta memungkinkan virus untuk lolos dari antibodi yang dibentuk oleh vaksin.
Varian ini dianggap sebagai penyebab dari meroketnya kasus di Afrika Selatan.
Negara-negara “blacklist” merasa aturan ini terlalu tergesa-gesa dan tidak adil. Sedangkan Afsel sendiri merasa “dihukum” akibat mengumumkan penemuannya tersebut.
WHO pun meminta perbatasan negara dunia untuk tetap dibuka.
“Kita harus bekerja dengan solidaritas. Kita tidak akan meng-geopolitisasi virus ini,” tegas Menteri Luar Negeri Botswana Lemogang Kwape pada Minggu (28/11).
Kasus pertama varian Omicron di Botswana tercatat pada 7 November lalu. Hingga sekarang, Botswana telah mendeteksi 19 kasus dari varian baru ini.
