Malioboro Disarankan Ditutup saat Malam Tahun Baru Demi Cegah Lonjakan Wisatawan

Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memutuskan untuk menerapkan sistem buka tutup di Jalan Malioboro pada malam tahun baru 2021. Padahal baik DPRD Kota Yogyakarta maupun DPRD DIY telah menyarankan agar kawasan Malioboro ditutup untuk mencegah lonjakan kasus corona.
Terkait hal ini, Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana menjelaskan semestinya Malioboro dan Tugu Pal Putih ditutup. Dia pun tak yakin Pemkot Yogyakarta bisa mengendalikan kerumunan.
"Saya tidak yakin pemkot bisa mengendalikan kerumunan saat malam tahun baru, sebagaimana liburan kemarin yang akibatnya kita rasakan saat ini," kata Huda dalam keterangan tertulisnya, Kamis (31/12).
Huda menjelaskan saat ini rumah sakit sudah mulai penuh. Banyak warga yang kesulitan mendapatkan ruangan padahal mereka membutuhkan perawatan.
"Mungkin nanti kalau ada lonjakan kasus perlu buat shelter perawatan di halaman Balai Kota Jogja, sepertinya masih cukup luas," katanya.
Lanjutnya, harus diakui saat ini kasus harian corona di DIY sudah sangat tinggi. Menurutnya separuh dari belasan ribu kasus konfirmasi positif di DIY terjadi dalam dua bulan terakhir.
"Khususnya akhir Desember ini luar biasa peningkatannya. Rata rata dua ratus lebih, bahkan kemarin sudah hampir tembus 300," katanya.
Dia pun mengapresiasi para bupati di DIY yaitu Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul yang menutup objek wisata di malam tahun baru.
"Saya sangat mengapresiasi rekan-rekan bupati yang menutup tempat wisata di malam tahun baru agar mengurangi kerumunan dan risiko tinggi," katanya.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Yogyakarta memutuskan untuk menerapkan sistem buka tutup di Jalan Malioboro pada malam tahun baru. Langkah itu dianggap solusi untuk mencegah kerumunan di Jalan Malioboro.
"Buka tutup. Penutupan full tidak ada, hanya buka tutup ya. Penutupan ada sifatnya situasional buka tutup, kalau itu padat ya kita tutup. Semua itu untuk menghindari orang mengakses Malioboro yang lebih banyak lagi," kata Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti ditemui di Hotel Ibis, Yogyakarta, Rabu (30/12).
Pria yang akrab disapa HS ini menjelaskan situasional yang dimaksud adalah aspek rasio volume kendaraan dibandingkan dengan luasan jalan.
"Parameternya kerumunan aspek rasio. Sepuluh orang kumpul di area seluas seratus meter ya nggak apa, tapi kalau sepuluh orang di sepuluh meter ya ramai itu," katanya.
"Kita punya rasio-rasionya lah, renggang, jarak terjaga, ya silakan. Tetapi, kalau memang terjadi kepadatan, kita cairkan," ujarnya.
