Marak WNI jadi Operator Judol, Indonesia Akan Buka Atase Imigrasi di Kamboja

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mou Imigrasi Indonesia-Kamboja terkait TPPO di Hotel Mulia. Foto: Dok. Imigrasi
zoom-in-whitePerbesar
Mou Imigrasi Indonesia-Kamboja terkait TPPO di Hotel Mulia. Foto: Dok. Imigrasi

Pemerintah Indonesia bakal membuka atase atau kantor perwakilan imigrasi di Kamboja. Hal ini menyusul maraknya WNI bekerja di negara tersebut menjadi operator judi online dan pelaku penipuan online.

"Kita ada rencana untuk penempatan atase di Kamboja," kata Plt Dirjen Imigrasi Yuldi Yusman di Bali, Senin (19/5).

Pembukaan kantor perwakilan Imigrasi ini merupakan salah satu isi perjanjian kerja sama atau Mou antara Indonesia dengan Kamboja yang berlangsung di Hotel Mulia, Senin (19/5) pagi tadi.

Kerja sama kedua negara ini merupakan upaya memerangi tindak pidana perdagangan orang (TPPO) ke Kamboja.

Beberapa isi perjanjian kerja sama lainnya berkaitan dengan pertukaran informasi keimigrasian dan upaya penyelesaian permasalahan keimigrasian WNI di Kamboja.

"Dengan adanya kerja sama ini diharapkan kita bisa meningkatkan warning terhadap WNI yang ke sana, dengan adanya kerja sama ini kita bisa menahan dan ada penanganan yang lebih baik terkait judol. Ini karena banyak sekali juga WNI yang berangkat ke sana," sambungnya.

Imigrasi mencatat sekitar 5 ribu WNI ditolak berangkat ke luar negeri karena terindikasi bekerja ilegal ke sejumlah negara sepanjang tahun 2025. Sebanyak 303 WNI ditunda keberangkatannya karena terindikasi bekerja ilegal ke sejumlah negara.

Sementara itu, ada 80 WNI ditolak mengajukan paspor untuk berangkat ke Kamboja karena diduga terindikasi bekerja di sektor judi online.

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding mencatat ada 80 ribu pekerja WNI di Kamboja secara ilegal. Mereka rata-rata berangkat melalui calo atau unprosedural.

Puluhan ribu PMI yang bekerja di Kamboja itu rata rata bekerja di online scammer hingga judi online. Baik Yuldi dan Karding mengaku kesulitan memonitor para PMI bekerja di Kamboja.

"Sekarang banyak tren baru ke Kamboja dan Myanmar terutama anak anak terkini yang ditipu informasi di sosmed," di Semarang, Selasa (15/4).