Mari Dengar Kata Ahli: Anti-Vaksin Bikin Kacau; Anak Muda Dirawat karena Corona
ยทwaktu baca 5 menit

Pandemi virus corona di Indonesia belum usai. Bahkan, beberapa waktu terakhir ini, angka kasus positif kembali melonjak.
Para ahli bicara soal cara agar pandemi bisa cepat berlalu. Mulai dari menggencarkan vaksinasi hingga pengetatan protokol kesehatan.
Namun, ada juga tantangan-tantangan yang dihadapi untuk mencapai tujuan tersebut.
Selain itu, para ahli juga bicara terkait perkembangan virus corona yang kini dihadapi. Seperti adanya varian baru yang sudah ditemukan di tanah air.
Yuk, dengarkan kata ahli terkait cara-cara agar corona cepat berlalu.
Tindak Kelompok Anti-vaksin
Salah satunya tantangan untuk menekan kasus corona yang naik adalah adanya kelompok yang anti terhadap vaksin. Padahal, vaksinasi merupakan cara untuk memutus penyebaran virus dengan menciptakan kekebalan tubuh.
Kelompok anti-vaksin ini adalah salah satu tantangan yang apabila tidak diselesaikan bisa membuat pandemi tidak kunjung usai. Pemerintah diminta untuk turun tangan mengatasi kelompok ini.
"Kalau perlu pemerintah memang harus turun. Walaupun kecil jumlahnya, yang antivaksin ini masih ada. Ini buat kacau," kata Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Aman B Pulungan dalam konferensi pers virtual yang disaksikan kumparan, Jumat (18/6).
"Jadi walaupun jumlah mereka sedikit, tapi mereka menyebar di WhatsApp grup, secara medsos. Jadi akan sangat sulit kalau masih ada yang masih antivaksin," sambungnya.
Aman mengatakan, apabila kelompok ini tidak segera diatasi bisa saja pandemi masih akan berlangsung lama di Indonesia.
"[Yang tidak percaya vaksin] ini tidak melihat background sosial, ekonomi dan pendidikannya. [Kalau masih antivaksin], kita pandemi ini akan 3-5 tahun mungkin. Jadi pemerintah juga harus tegas soal ini. Kalau perlu tarik rem darurat. Pulau Jawa paling penting," ucap dia.
Indonesia diminta mencontoh negara-negara yang berhasil mensukseskan vaksinasi COVID-19, seperti Amerika Serikat dan Prancis.
Gejala COVID-19 Mirip Gejala Flu, Segera Periksakan Diri
Salah satu tindakan preventif yang dapat dilakukan saat masa pandemi seperti sekarang adalah dengan mengenali gejala dari COVID-19. Penyakit ini juga memiliki gejala yang hampir mirip dengan gejala flu pada umumnya.
Saat ini beberapa wilayah di Indonesia sudah terdeteksi adanya varian baru COVID-19 seperti salah satunya adalah varian Delta.
Varian ini menurut para ahli memiliki kecepatan penyebaran yang lebih cepat. Maka dari itu, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Daeng Muhammad, menyampaikan masyarakat perlu mengenali betul kondisi tubuhnya maupun gejala-gejala dari COVID-19 sendiri.
"Kalau kita terinfeksi atau ada gejala, maka sebaiknya segera meminta pertolongan. Karena pada kasus COVID-19 ini meskipun ada varian baru, semakin cepat kita bisa ditolong, itu angka kesembuhan tinggi. Jadi masyarakat harus mengetahui kalau ada gejala-gejala covid segeralah minta pertolongan untuk segera diobati, dirawat, supaya kemungkinan sembuhnya tinggi," jelas dr. Daeng.
Terlepas dari apa pun varian yang menyerang, pada umumnya semua varian corona ini memiliki gejala yang hampir sama.
Begitu pula dengan cara penanganannya. Namun, pendeteksian dini menjadi sangat penting untuk mencegah penularan yang lebih luas pada orang di sekitar juga mencegah terjadinya perburukan gejala.
Maka dari itu, masyarakat harus segera memeriksakan diri apabila gejala yang ditimbulkan menyerupai dengan gejala COVID-19.
Anak Muda Tanpa Komorbid Tapi Dirawat
Dokter Spesialis Paru, Erlina Burhan, berpendapat kalau varian corona baru dicurigai mempengaruhi tingkat kefatalan pasien COVID-19. Musababnya sebelum ada varian baru, hampir semua pasien itu lansia atau memiliki komorbid.
Namun saat ini, pasien yang muda-muda tanpa komorbid malah banyak dirawat di RS.
"Dari pengalaman, kalau nonvarian itu gejalanya khas, kita tahu biasanya pasiennya tua atau komorbid. Nah sekarang dengan ditemukannya varian baru, banyak di RS itu pasien masih muda-muda dan tidak ada komorbid, sehat. Nah, ini sepertinya terjadi shifting usia karena varian baru," kata Erlina dalam jumpa pers virtual, Jumat (18/6).
"Ya varian baru [Delta] 28 [kasus] ditemukan di Kudus. Di Jakarta sudah sudah 20 varian baru Delta. Jadi kalau di Jakarta sudah ditemukan maka sekitarnya juga terpapar," imbuh dia.
Masker Kain Tak Lagi Disarankan
Vaksinolog dan Spesialis Penyakit Dalam dr. Dirga Sakti Rambe mengatakan, penggunaan masker kain saat ini tidak disarankan, meski tiga lapis. Musababnya jenis masker ini sudah dinilai kurang melindungi seseorang dari paparan virus corona.
Masker yang lebih dianjurkan yakni masker bedah. Dirga mengatakan, penggunaan masker kain boleh digunakan, tapi hanya untuk melapisi masker bedah saja.
"Masker kain sudah tidak dianjurkan, lagipula masker bedah sudah banyak tersedia dan harganya terjangkau, gunakan hanya masker berkualitas," kata Dirga, dikutip dari Antara.
Dirga menegaskan, penggunaan masker memang sangat penting dalam mencegah penularan COVID-19. Masker medis terbukti masih paling efektif, tetapi itu pun harus digunakan dengan tepat.
"Saya menyarankan untuk mengganti masker maksimal 6 jam, atau ganti segera setelah masker sudah basah atau kotor," imbau dia.
Saran IDAI Atasi Corona
5 organisasi profesi dokter di Indonesia mendesak pemerintah untuk memberlakukan PPKM yang lebih maksimal dan masif, serta meminta masyarakat lebih taat prokes. Sebab saat ini angka kasus corona kembali meninggi.
Selain itu ada sejumlah rekomendasi lain yang disampaikan 5 organisasi yang terdiri dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), serta Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI).
5 rekomendasi tersebut yakni:
1. Agar pemerintah pusat memberlakukan PPKM secara menyeluruh dan serentak terutama di Pulau Jawa
2. Agar pemerintah atau pihak yang berwenang memastikan implementasi serta penerapan PPKM yang maksimal
3. Agar pemerintah atau pihak yang berwenang melakukan percepatan dan memastikan vaksinasi tercapai sesuai standar
4. Agar semua pihak lebih waspada terhadap varian baru COVID-19 yang lebih mudah menyebar, mungkin lebih memperberat gejala, mungkin lebih meningkatkan kematian dan mungkin menghilangkan efek vaksin
5. Agar masyarakat selalu dan tetap memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, tidak berpergian jika tidak mendesak, menjaga kesehatan dan menjalankan protokol kesehatan lainnya
