Marine Le Pen Bakal Larang Hijab Bila Terpilih Jadi Presiden Prancis

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemimpin Partai Front Nasional Prancis Marine Le Pen Foto: AFP/Alain Jocard
zoom-in-whitePerbesar
Pemimpin Partai Front Nasional Prancis Marine Le Pen Foto: AFP/Alain Jocard

Kandidat Presiden Prancis Marine Le Pen bersumpah untuk melarang pemakaian hijab di tempat umum, jika dia terpilih dalam putaran kedua pilpres ini.

Le Pen menyebut hijab sebagai seragam muslim radikal atau tanda dari interpretasi agama Islam anti-barat. Bila terpilih menjadi Presiden, Le Pen akan memberlakukan hukuman denda bagi siapa pun yang mengenakan hijab di tempat terbuka.

“Orang-orang akan didenda, sama seperti mereka tidak menggunakan sabuk pengaman, Menurut saya, pihak polisi sangat mampu untuk menegakkan aturan ini,” paparnya, dikutip dari TRT.

Marine Le Pen Foto: REUTERS/Benoit Tessier

Perspektif sayap kanan dari kampanye Le Pen telah mendapat sorotan di hari-hari terakhir, jelang putaran kedua pilpres Prancis pada 24 April 2022 mendatang. Janji Le Pen untuk melarang penggunaan hijab menuai kritik dan cemooh dari berbagai pihak.

Wali Kota Perpignan dan eks pasangan Le Pen, Louis Aliot mengatakan, larangan jilbab ini adalah salah satu alat politik untuk melawan Ideologi Islamisme, tetapi penerapannya perlu dilakukan secara bertahap.

Sekutu Le Pen lainnya Wali Kota Frejus, David Rachline, pun menggaungkan upaya yang sama untuk menghaluskan larangan ini.

“Kami tak ingin menyerang orang-orang, tak semua perempuan berhijab adalah penganut Islamisme,” tuturnya, dikutip dari Reuters.

Le Pen akan berhadapan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada putaran kedua yang akan dilaksanakan pada Minggu (24/4/2022). Dalam pilpres ini, kebebasan beragama, terutama bagi umat Muslim, yang meliputi hampir 9 persen populasi, merupakan isu yang sangat penting.

Macron, sebelumnya, pernah membuat marah beberapa anggota warga Muslim, terutama melalui undang-undang yang dirancang untuk memerangi apa yang dia sebut separatisme Islam.

Pada putaran pertama, sekitar 70 persen Muslim Prancis memilih kandidat sayap kiri Jean-Luc Mélenchon. Mélenchon tersingkir dengan perbedaan suara yang sangat tipis.

Sejak 2011, penggunaan niqab yang menutupi wajah atau burqa yang menutupi seluruh tubuh di depan umum telah dilarang di Prancis.

Undang-undang Prancis melarang mengenakan simbol agama yang mencolok—termasuk hijab—di sekolah dan oleh pegawai sipil. Namun, sejauh ini, tidak ada larangan terhadap penggunaan hijab secara umum di area publik.

Penulis: Airin Sukono.