Marine Le Pen: Ekstremis Sayap Kanan di Pilpres Prancis

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Marine Le Pen Foto: REUTERS/Benoit Tessier
zoom-in-whitePerbesar
Marine Le Pen Foto: REUTERS/Benoit Tessier

Nasionalisme Prancis merupakan bisnis keluarga bagi kandidat pemilihan presiden, Marine Le Pen. Mulai dari kerja sama dengan NAZI Jerman selama PD II hingga retorika Islamofobik, garis keluarga Le Pen dihiasi dogma ekstrem.

Jalan aliansi antara para Le Pen pun terkenal berbatu. Media Prancis bersuka cita melalap skandal pengkhianatan keluarga yang kerap mencuat ke muka publik selama berdekade-dekade.

Nama ‘Le Pen’ bahkan telah menjadi semacam merek. Bagi sang pewaris, warisan keluarga itu bak kelemahan dan kekuatan. Marine Le Pen meraup keuntungan, tetapi mengemban pula beban untuk menaikkan nama partai warisan keluarga.

Ayah Marine, Jean-Marie Le Pen, membantu mendirikan partai sayap kanan Front Nasional pada 1972. Marine Le Pen kemudian mengambil alih partai itu pada 2011 lalu. Sejak mewarisinya, ia telah berjerih membangkitkan partai itu agar dapat dipilih.

Warga Prancis di depan poster Macron dan Le Pen Foto: REUTERS/Ronen Zvulun

Kini, ia mendapati peluang nyata untuk mewujudkan harapan itu. Le Pen kini mencoba mengguncang atau bahkan menendang Emmanuel Macron dari kursi kepresidenan Prancis.

Cara bagaimana? yaitu lewat pilpres pada 10 April mendatang dan 24 April 2022 mendatang. Pelaksanaan pilpres 24 April tergantung pada hasil putaran pertama bila tidak ada kandidat mencapai 50 maka putaran kedua berlangsung.

Identitas dua kandidat yang akan kembali bertarung di putaran kedua tampaknya sudah jelas. Jajak pendapat kerap dipimpin oleh Macron dan Le Pen.

Pasangan itu sempat bergontokan pula pada pemilu 2017. Saat itu, Le Pen kalah jauh dari Macron. Tetapi, jajak pendapat teranyar menunjukkan selisih yang jauh lebih kecil kali ini. Le Pen mungkin akan memenangkan 47 suara dalam putaran kedua mendatang.

Marine Le Pen Foto: Dok. Wikimedia

Selepas menanggung rasa malu dari kekalahan terdahulu, Le Pen telah bangkit kembali. Perombakan citra dinilai berperan dalam kebangkitan Le Pen. Ia telah melunakkan representasinya dalam ruang publik selama 11 tahun terakhir.

Misalnya saja, Le Pen mengubah nama partai warisannya menjadi National Rally (RN). Ia bahkan 'mengusir' sang ayah dari partai itu pada 2015 sebab dikenal sebagai orang yang sangat rasis.

Demi menarik dukungan, Le Pen lantas membenahi citranya. Wanita berusia 53 tahun itu berkampanye di akar rumput. Le Pen berupaya menggambarkan diri sebagai pemimpin arus utama yang modern dan kompeten.

Le Pen memposisikan dirinya sebagai populis ekonomi. Ia memutar akal untuk menjerat pemilih dari kelas pekerja dan seluruh spektrum politik. Bersaing ketat dengan Macron, Le Pen tidak dapat pilih-pilih. Ia tidak peduli bila pendukungnya berasal dari kanan atau kiri.

Seorang imigran mengambil barang-barang mereka ketika polisi Prancis mengevakuasi ratusan imigran yang tinggal di bawah jembatan Porte de la Chapelle, Paris, Prancis (29/1/2019). Foto: REUTERS/Benoit Tessier

Strateginya itu membuahkan hasil. Le Pen disebut-sebut berhasil menjaring suara yang sulit dijangkau kandidat lain. Le Pen mengeksploitasi kegundahan warga.

"Ia selalu berhasil merayu orang yang sama sekali tidak tertarik dengan politik, justru karena ia menawarkan solusi untuk mengekspresikan kemarahan mereka terhadap politik," ungkap lembaga survei Emmanuel Riviere, seperti dikutip dari CNN.

Kendati demikian, sebagian masyarakat masih melihat Le Pen dengan skeptisisme. Mereka menyibak bualan dalam strategi transformasi dirinya itu.

Le Pen mungkin melunakkan nada bicara ketika membahas topik seperti euroskeptisisme dan Islam. Namun, ia tidak pernah lepas dari akarnya dalam politik ekstremis sayap kanan.

Manifesto Le Pen tidak bergeser jauh dari ‘menghentikan imigrasi yang tak terkendali’ dan ‘membasmi ideologi Islamis’. Menghindari kritik, Le Pen juga mengalihkan fokus kepada pembahasan lain, yakni ekonomi.

Ilustrasi mahasiswa muslim di Prancis Foto: Philippe Desmazes/AFP

Le Pen sempat mengalami kekalahan memalukan dalam debat televisi pada 2017 lalu. Saat itu, ia dan Macron memperdebatkan kebijakan ekonomi dan Eropa. Le Pen kemudian kehilangan dukungan dari kelompok konservatif.

"Kami membutuhkan tokoh politik yang intelektual. Seseorang yang tidak membuat kami malu," tegas jurnalis konservatif muda, Eugénie Bastie.

Le Pen lantas berupaya membuang potretnya yang tercoreng itu. Berjuang pulih, ia berkampanye mengenai masalah biaya hidup dan kenaikan inflasi.

Walau begitu, detail dalam program yang ia gagas tidak banyak berubah. Le Pen masih masih mendiskriminasi dan membahayakan kelompok rentan.

video youtube embed

Le Pen mendorong langkah-langkah untuk menghapus dukungan bagi para imigran. Ia juga menolak keutamaan hukum Uni Eropa dan menutup pintu bagi sebagian besar pencari suaka.

Para ahli juga telah memperingatkan konsekuensi atas rencana kebijakan Le Pen, seperti ‘preferensi nasional’. Le Pen berniat memprioritaskan pekerjaan bagi orang Prancis daripada orang asing.

Strategi politik Le Pen untuk mengamankan dukungan terungkap satu persatu. Berbagai pihak tidak semata-mata menelan bualannya.

Presiden Prancis Emmanuel Macron. Foto: Christophe Petit Tesson/Pool via REUTERS

Kedekatannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin turut dinilai problematik. Le Pen telah mengungkap kekaguman terhadap Putin. Selebaran kampanye Le Pen bahkan memamerkan foto pertemuan keduanya.

Macron tidak membuang waktu itu memanfaatkan situasi yang mendera Le Pen. Ia menyebut Le Pen telah menimbulkan ‘gangguan besar’ dalam masyarakat. Menurut Macron, Le Pen menggunakan rasa takut sebagai senjata politik.

"Semua ini menciptakan ketakutan. Dan mereka yang bermain dengan ketakutan meningkat. Saya belum berhasil menahan mereka," ujar Macron.