Marinir AS Veteran Perang Afghanistan Tembak Satu Keluarga, 4 Orang Tewas

Seorang pria berpakaian rompi antipeluru di Florida, Amerika Serikat, menembak empat orang hingga tewas dan melukai satu anak perempuan berusia 11 tahun pada Minggu (5/9).
Pelaku yang bernama Bryan Riley (33) itu adalah seorang purnawirawan Marinir AS. Dikutip dari Reuters, Riley mendatangi rumah lokasi penembakan pada Sabtu (4/9) malam dan langsung meninggalkan tempat itu ketika petugas kepolisian datang.
Ia kembali mendatangi rumah itu pada Minggu (5/9) pagi. Petugas kepolisian langsung bergerak menuju tempat kejadian saat menerima laporan terdengarnya dua kali suara tembakan. Ketika petugas tiba, pelaku berada di luar rumah tanpa memegang senjata.
Riley kemudian kembali memasuki rumah. Setelah itu, kembali terdengar suara tembakan, jeritan wanita, dan tangisan bayi.
Penembakan itu menewaskan seorang pria 40 tahun, seorang wanita 33 tahun, serta satu bayi laki-laki. Ia juga membunuh seorang lansia berusia 62 tahun yang merupakan ibu dari korban lainnya.
Sementara satu korban selamat adalah anak perempuan berusia 11 tahun, yang harus menjalani operasi akibat menderita tujuh luka tembakan.
Kepala kepolisian Polk County, Grady Judd, mengatakan Riley juga menembak anjing peliharaan keluarga tersebut hingga tewas.
Pelaku diketahui tidak memiliki hubungan apa pun dengan para korban. Ia sempat terlibat dalam baku tembak dengan petugas kepolisian sebelum akhirnya menyerahkan diri.
Menurut Judd, ketika Riley tengah dirawat di rumah sakit akibat luka-lukanya, ia mencoba untuk merebut senjata api milik satu petugas kepolisian tetapi gagal.
Riley merupakan purnawirawan perang AS di Irak dan Afghanistan yang pernah bekerja sebagai seorang bodyguard serta penjaga keamanan. Kekasih Riley mengatakan kepada penyelidik, Riley menderita gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan depresi.
Judd menambahkan, sekitar satu pekan lalu, kondisi kesehatan mental Riley kian memburuk. Riley mengakui kepada petugas, ketika insiden penembakan terjadi ia tengah menggunakan narkoba jenis metamfetamin.
“Ia sempat mengatakan kepada detektif-detektif kami, “Mereka [korban] memohon-mohon untuk tidak dibunuh, tetapi saya tetap membunuh mereka,’” ujar Judd pada sebuah konferensi pers.
