Maroko-Israel Tingkatkan Hubungan Diplomatik di Tengah Kekhawatiran Palestina

Maroko dan Israel sepakat meningkatkan hubungan diplomatik. Kesepakatan itu ditandai dengan rencana pembukaan kedutaan besar dan penunjukan duta besar.
Hal tersebut disampaikan Pemerintah Israel melalui X pada Rabu (17/9).
Maroko merupakan satu dari empat negara Arab—bersama Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Sudan—yang menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel sejak 2020 melalui Abraham Accords yang diprakarsai Amerika Serikat (AS).
Keputusan Maroko dan negara Arab lainnya menuai kontroversi. Sebab, sampai saat ini Palestina masih berada di bawah pendudukan Israel.
Pemerintah Palestina pun kerap menyampaikan keprihatinan terkait keputusan sejumlah negara Arab tersebut, yang dipandang berlawanan dengan seruan agar Israel menarik diri dari wilayah pendudukan serta menerima pembentukan negara Palestina.
Adapun peningkatan hubungan diplomatik tersebut terwujud usai pertemuan antara Menlu Israel Gideon Saar, Menlu Maroko Nasser Bourita, dan Dubes AS untuk PBB Mike Waltz. Pertemuan itu digelar di New York.
"Para pejabat menegaskan kembali komitmen terhadap serangkaian langkah yang bertujuan memajukan hubungan antara Israel dan Maroko, termasuk meningkatkan status misi diplomatik masing-masing menjadi kedutaan besar serta menunjuk duta besar," menurut pernyataan tersebut, seperti dikutip dari Reuters.
Mereka juga sepakat memperluas penerbangan antara Israel dan Maroko serta berupaya merampungkan perjanjian yang bertujuan memfasilitasi investasi timbal balik serta hubungan ekonomi dan perdagangan.
