News
·
13 Februari 2021 12:56

Ma'ruf Amin: Kalau Banjir Berulang Artinya Kita Itu Apa Ya? Tidak Cerdas

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Ma'ruf Amin: Kalau Banjir Berulang Artinya Kita Itu Apa Ya? Tidak Cerdas (18683)
Wakil presiden Ma'ruf Amin berikan sambutan dalam acara simposium nasional studi relasi lintas agama berparadigma (SIGMA). Foto: KIP
Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin meninjau korban banjir Subang, Jawa Barat. Ia berharap banjir tidak terjadi lagi di masa-masa mendatang dan jika berulang berarti cara pencegahannya tidak cerdas.
ADVERTISEMENT
"Mudah-mudahan banjir tahunan di Subang tidak terus berulang-ulang. Kalau berulang artinya kita itu apa ya? tidak cerdas," ujar Ma'ruf di Kantor Kecamatan Pamanukan, Jalan Pamanukan, dikutip dari Antara, Sabtu (13/2).
Dalam kesempatan ini, Ma'ruf juga menyerahkan secara simbolis bantuan korban banjir Subang.
Ma'ruf Amin: Kalau Banjir Berulang Artinya Kita Itu Apa Ya? Tidak Cerdas (18684)
Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin menyerahkan bantuan untuk korban banjir Subang, di Kantor Kecamatan Pamanukan, Jalan Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (13/2). Foto: Rangga Pandu/ANTARA
Ma'ruf mengatakan dalam istilah Arab, jangan sampai orang mukmin atau beriman terperosok dua kali di satu lubang.
"Dua kali saja tidak boleh, berarti itu kita kurang cerdas. Apalagi berkali-kali (banjir)," ujar Ma'ruf.
Oleh karena itu, Ma'ruf mengajak semua pihak untuk mengatasi dan mengakhiri banjir yang terus berulang dengan bekerja keras bersama, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, serta dunia usaha.
Ma'ruf Amin: Kalau Banjir Berulang Artinya Kita Itu Apa Ya? Tidak Cerdas (18685)
Warga melintasi jalan raya yang terendam banjir saat proses evakuasi di Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (9/2). Foto: Novrian Arbi/ANTARA FOTO
Dia mengatakan berdasarkan laporan, banjir yang terjadi di Subang, selain karena curah hujan, juga disebabkan kerusakan lingkungan di wilayah sekitar Subang.
ADVERTISEMENT
Menurut Ma'ruf, ada dua aturan Allah yang tidak boleh dilanggar yakni tata aturan alam semesta dan tata aturan syariah.
"Dua-duanya tidak boleh dilanggar. Apabila dilanggar akan timbul kerusakan," tegasnya.
Banjir di Subang paling parah terjadi di daerah Pamanukan. Akibat curah hujan yang tinggi, Sungai Cipunagara meluap dan tanggul penahan air jebol hingga merendam permukiman. Total 472 warga mengungsi akibat bencana alam ini.