Ma’ruf Amin: Paradigma Alon-alon Asal Klakon Harus Ditinggalkan

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana saat Maulid Akbar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (21/11/2019). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
zoom-in-whitePerbesar
Suasana saat Maulid Akbar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (21/11/2019). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Wakil Presiden, Ma’ruf Amin, berpendapat pepatah Jawa 'alon-alon asal klakon' yang artinya pelan-pelan asal terlaksana tak lagi relevan di era revolusi industri 4.0. Sehingga menurut Ma'ruf, paradigma tersebut harus ditinggalkan.

Sebab untuk menjadikan Indonesia menjadi yang maju, kata dia, perubahan harus dilakukan dengan cepat dan tepat.

“Perubahan itu harus kita lakukan sekarang ini dengan cepat tidak boleh lamban. Paradigma lama alon-alon asal klakon itu harus ditinggalkan. Kita ketinggalan kalau alon-alon asal klakon, harus cepat diakselerasi,” kata Ma’ruf dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama warga NU DIY di Ndalem Habib Hilal Alaidid di Jakan Dongkelan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Minggu (24/11) malam.

“Tetapi harus tepat, walau pun cepat harus tepat, harus baik, harus terukur. Bekerja dengan baik dengan cepat,” lanjutnya.

Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Kantor Wapres. Foto: Nadia Riso/kumparan

Selain cepat dan tepat, kata Ma'ruf, bekerja juga harus memberikan manfaat bagi sekitar. Hal itu menurutnya sesuai perintah Allah SWT.

“Pahala itu tergantung manfaat, maslahat yang dihasilkan. Tergantung dari produktivitasnya. Bekerja itu tepat, cepat, dan manfaat,” ujarnya.

Meski harus bekerja secara cepat, Ma'ruf menyatakan di era revolusi industri 4.0 masyarakat harus tetap menjaga tradisi yang ada.

“Tradisi yang lama yang baik jangan dihabisi tapi dijaga,” tutupnya.