Ma’ruf Amin Soal Prabowo Perlu Kritik Bukan Nyinyir: Seperti Abu Bakar

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mantan Wakil Presiden, Ma'ruf Amin menyampaikan sambutan saat Tasyakuran Milad 50 Tahun MUI di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (26/7/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Wakil Presiden, Ma'ruf Amin menyampaikan sambutan saat Tasyakuran Milad 50 Tahun MUI di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (26/7/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan

Mantan Wakil Presiden RI, Ma’ruf Amin menyinggung soal pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaku perlu kritik masyarakat, bukan nyinyir. Katanya, pernyataan Prabowo itu seperti apa yang dikatakan sahabat Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash Shiddiq.

“Alhamdulillah bapak presiden bilang ‘saya siap dikritik, asal jangan nyinyir’,” ujar Ma’ruf di acara Tasyakuran Milad MUI 50 Tahun di Asrama Haji, Jakarta Timur pada Sabtu (26/7).

“Ini apa yang dikatakan oleh Pak Prabowo, sama dengan yang dikatakan Abu Bakar Shiddiq,” tambahnya.

Ia pun menjelaskan apa yang dikatakan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq yang ia maksud. Katanya, Abu Bakar mengatakan kepada pengikutnya, bahwa ia bukanlah orang yang terbaik, namun yang dipilih untuk memegang mandat.

“‘’Oleh karena itu saya harus menjalankan tugas ini, walaupun saya bukan orang yang terbaik di antara kalian’,” ucap Ma’ruf.

“‘Kalau saya benar, baik, bantu saya. Dan kalau saya tidak baik, luruskan saya’,” tambah dia.

Ia pun menekankan kepada MUI bahwa mereka harus menjadi mitra pemerintah yang mendukung serta memberikan kritik kepada program-program nasional. Ma’ruf berpesan, bahwa MUI harus memberikan tausiah kepada pemerintah.

“Artinya memberikan nasihat dari orang yang mencintai atau dari orang yang dicintai kepada yang dicintai,” ucap Ma’ruf.

“Jadi, orang yang saling mencintai bentuknya adalah tausiah, bukan kritik, bukan nyinyir. Artinya apa? Kalau MUI memberikan tausiah kepada pemerintah, artinya MUI mencintai pemerintah itu namanya itu. Jadi bahasanya, bahasa tausiah,” tambahnya.

Sebelumnya, Prabowo mengaku perlu kritik saat berpidato di acara Hari Lahir PKB di JCC pada Rabu (23/7).

Awalnya, ia menyebut situasi di dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Setiap negara pasti memiliki strategi untuk bertahan, termasuk dengan negara adidaya seperti Amerika Serikat.

"Di bidang ekonomi, tidak hanya kita, semua negara sedang menghadapi Amerika Serikat yang alot, punya garis alot, tapi ya itu fakta kita harus berurusan dan pendekatan kita," kata Prabowo.

"Pendekatan saya adalah tanggung jawab saya adalah melindungi kepentingan bangsa Indonesia, kewajiban saya adalah melindungi rakyat Indonesia." imbuhnya.

Prabowo pun heran, kenapa ada saja pihak yang nyinyir dengan tiap kebijakan yang diambil. Soal Amerika Serikat, ada deal soal tarif yang turun dari 32 persen menjadi 19 persen. Konsekuensinya AS dibebaskan dari biaya impor.

"Dalam bidang ekonomi saya harus menjaga asal tidak ada alasan untuk PHK pekerja-pekerja kita," kata dia.

“Karena itu ya saya bermusyawarah saya negosiasi, selalu ada yang nyinyir jadi gimana ya, kita perlu kritik, kita perlu pengawasan tapi kalau nyinyir, agak laen,” ucap Prabowo.

Ia menambahkan, kenapa kritik selalu ada di saat pemerintah punya niat baik. Salah satunya soal kebijakan Makan Bergizi Gratis.

"Kita enggak ada yang bener gitu, kita mau kerja baik enggak ada yang bener. Makan bergizi gratis di awal-awal bilangnya enggak ada gunanya makan bergizi gratis iya kan? Malah ada yang dipertanyakan mau makan bergizi gratis atau pendidikan gratis. Saudara-saudara undang-undang dasar 45 itu mewajibkan kita untuk pendidikan gratis," katanya.

"Kita harus mencari jalan untuk memberi pendidikan gratis untuk rakyat kita, jangan dipertentangkan, tapi anak-anak yang lapar tidak boleh dibiarkan lapar, dia masa depan kita," tutup dia.