Ma'ruf Minta Negara Penghasil Emisi Besar Transfer Teknologi ke Negara Terdampak

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2024. Foto: BPMI Setwapres
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2024. Foto: BPMI Setwapres

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menghadiri Hari Lingkungan Hidup 2024 di Arboretum Manggala Wanabakti, Jakarta. Dalam sambutannya, Ma'ruf menyinggung pentingnya penguatan tata kelola lahan dan hutan.

"Tingkatkan pengawasan aktivitas yang dapat memperburuk degradasi lahan serta meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi dan penegakan hukum sesuai dengan penerapan sanksi yang sesuai," kata Ma'ruf, Jumat (5/7).

Ma'ruf mengatakan, restorasi lahan harus menjadi bagian dari strategi nasional yang terintegrasi dalam berbagai kebijakan pembangunan. Selain itu, ia meminta dampak perubahan iklim ditanggung secara adil dan merata.

"Dengan mempertimbangkan tanggung jawab sejarah, tingkat kerentanan, dan kapasitas masing-masing pihak," ujarnya.

Ia menilai, perlu ada tanggung jawab sosial dari semua negara. Khususnya negara penghasil emisi besar kepada negara terdampak perubahan iklim.

"Perlu adanya pendanaan khusus penanganan perubahan iklim dan transfer teknologi dari negara-negara penghasil emisi yang besar kepada negara-negara terdampak sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Kebijakan mitigasi dan adaptasi iklim harus memperhitungkan kebutuhan dan kerentanan kelompok yang terpinggirkan," tuturnya.

Ilustrasi polusi udara. Foto: Fahroni/Shutterstock

Selain itu, Ma'ruf meminta stakeholder terkait mendorong riset dan pengembangan teknologi inovatif untuk pemulihan lahan terdegradasi dan dampak perubahan iklim.

"Kembangkan teknologi energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan hidrolik untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang menyebabkan emisi gas rumah kaca. Bangun ekosistem transportasi yang ramah lingkungan seperti kendaraan listrik, kendaraan berbahan bakar hidrogen maupun sistem transportasi massal yang dapat mengurangi emisi karbon," jelasnya.

Menurut Ma'ruf, perubahan iklim akibat peningkatan emisi gas rumah kaca berdampak ke berbagai kehidupan. Seperti cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut hingga banyak spesies yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan.

"Polusi udara yang ekstrem juga berisiko menyebabkan penyakit pernapasan pada manusia dan gangguan kesehatan lainnya. Agar dampaknya tidak meluas ke berbagai aspek kehidupan seperti lingkungan, kesehatan, masyarakat dan laju pembangunan, krisis ini perlu segera ditangani," pungkasnya.