Marzuki Alie Cerita Anaknya Hampir Direkrut Kelompok Radikal di Kampus

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie menceritakan mengenai pengalaman anaknya, FH --nama samaran-- yang sempat hampir direkrut organisasi misterius saat berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Marzuki membagikan pengalaman anaknya itu melalui akun Twitternya Kamis (17/5).
kumparan memperjelas cerita tersebut kepada Marzuki. "Sebetulnya hal ini pernah diceritakan, tapi saya tidak terlalu intens mendengarkan karena kan belum banyak kasus ya, sekarang pas banyak berita kan terkait kampus sudah disusupi oleh ideologi yang radikal, maka saya teringat kembali dan minta diceritakan ulang," kata Marzuki saat dihubungi kumparan, Kamis (17/5).
Marzuki menceritakan awal mula anaknya diajak masuk dalam organisasi misterius itu pada 2012. Saat itu anaknya sudah masuk tahun ke-2 di masa studi S1nya.
"Jadi (berawal saat) dia habis ketemu dengan sahabat dia yang kebetulan kenal saat mahasiswa baru. Jadi tidak akrab betul tapi kenal, sama-sama sebagai mahasiswa baru, itu sudah berjalan selama setahunanlah," kata Marzuki.
Mulanya, kata Marzuki, FH hanya dimintai tolong untuk wawancara mengisi kuisioner tentang film perjuangan. Saat itu, FH mengiakan untuk membantu mengisi kuisioner, tanpa kecurigaan apapun terhadap temannya, AW --nama samaran.
"Kemudian, diajaklah dia ketemu dengan seseorang, orang itu perempuan rupanya, dia gak pake jilbab, pake pakaian biasalah, umum ya. Kemudian perempuan itu tidak cerita masalah film, tidak cerita masalah kuesioner, tetapi menceritakan tentang kebangkitan Islam pertama," lanjut Marzuki.

Menurut Marzuki anaknya diberikan materi tentang ayat Al-Quran yang dipotong-potong. "Seolah-olah berjalan di jalan Tuhan dengan nyawa, dengan harta, berjihad begitu istilahnya".
Saat penyampaian materi, AW pura-pura tidak tahu mengenai isi konten dalam pertemuan itu yang tidak sesuai dengan apa yang disampaikan di awal.
"Yang ngajak tadi pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak dengar diskusi itu, tapi anak saya yakin dia tahu kan," kata Marzuki.
Pertemuan itu pun memberikan kesan berbeda kepada FH, namun pertemuan itu barulah yang pertama, karena menurut Marzuki, anaknya masih penasaran dan mengikuti serangkaian pertemuan selanjutnya.
"Kemudian anak saya cerita dengan temannya yang lebih senior di prodi lain, dia bilang "jangan dilayanilah nanti gak bener arahnya" ceritanya, ada adik seniornya yang begitu juga," ungkap Marzuki.
Namun, anaknya tidak begitu saja percaya dan memutuskan untuk ikut pertemuan kedua. Dalam pertemuan kedua itu, perempuan --pemateri di pertemuan pertama-- membawa seorang laki-laki yang kata FH memiliki marwah yang mempengaruhi.
Sebelum pertemuan, FH pun sudah berpesan kepada sopirnya untuk menegur apabila ada sesuatu yang aneh yang terjadi terhadap dirinya setelah pertemuan.
"Dia ingatkan ke sopirnya, dia ingin tahu aja mungkin waktu itu," ujarnya.
"Arahnya memang sangat ekstrem, terakhir menceritakan tentang negara islam, tentang jihad harus mengorbankan harta dan nyawa. Hartanya dari mana? dari rumah juga bisa diambil, itu halal saja," kata Marzuki.
Di tengah pertemuan itu FH dan meminta untuk mengakhiri pembahasan dan izin terlebih dahulu meninggalkan forum. "Nanti disambung lagi, saya sudah ada janji," kata Marzuki menjelaskan cerita anaknya.
Namun tidak berhenti sampai di situ, AW mengikuti dan meminta untuk ikut menginap di rumah FH. Namun, FH menolak karena ada janji, namun AW memaksa dengan alasan kunci kosan tertinggal di Bogor.
"Akhirnya sopir bilang mobilnya sudah penuh dan tidak jadi ikut," ungkap Marzuki.
Beberapa hari kemudian, FH dipanggil dosen dan menceritakan bahwa AW jarang pulang, dan barang di rumahnya banyak yang hilang, sehingga teman FH itu mendapat perhatian dari dosen.
"Dosen FH bilang, jangan ikut-ikutan, itu kelompok tidak baik," ungkap Marzuki.

Setelah pertemuan terakhir, FH mengatakan bahwa ia bertemu lagi dengan AW dalam proses wisuda beberapa bulan lalu. Dirinya mengatakan bahwa AW sudah tobat dan kembali ke jalan yang benar.
Marzuki pun mengatakan bahwa tujuan ia menceritakan pengalaman anaknya adalah untuk sharing kepada kepolisian bagaimana rekrutmen yang terjadi di kampus-kampus.
"Saya sharing itu supaya saya tembuskan ke Mabes kan, supaya Mabes juga tahu bagaimana rekruitmennya itu di kampus-kampus jadi jangan salahkan anak kita begini, tapi bisa menghadirkan solusi, jadi solusinya itu yang penting," pungkas Marzuki.
