Masjid At-Thohir di LA yang Bekas Gereja
·waktu baca 5 menit

Akhirnya Komunitas muslim Indonesia di Los Angeles (LA), Amerika Serikat, bergembira ketika keinginan untuk memiliki masjid sendiri menjadi kenyataan pada Agustus 2018.
Kegembiraan mereka semakin bertambah karena renovasi masjid yang diberi nama Masjid At-Thohir ini selesai. Ternyata, bangunan masjid ini sebelumnya merupakan gereja.
Ketua Yayasan Indonesia Muslim Foundation (IMFO), Dwirana Satyavat, menceritakan keinginan komunitas muslim di LA untuk memiliki masjid sudah menggebu-gebu sejak 1996 lalu.
Saat itu, komunitas muslim Indonesia membentuk Yayasan IMFO. Salah satu program utama adalah bagaimana mereka bisa membangun masjid untuk tempat ibadah, belajar dan melakukan silaturahim.
Sejak itu, komunitas muslim Indonesia melakukan donasi pendirian masjid ini. Sampai akhirnya donasi ini mencapai US$ 400 ribu, mereka pun serius mencari bangunan untuk dibeli dan dibangun masjid.
Namun, mencari bangunan untuk dijadikan masjid ternyata cukup sulit. Sejumlah bangunan, seperti bekas klinik dan bengkel, pernah didekati untuk dibeli, namun ternyata masih belum terlaksana. Selain, harga belum cocok, juga ada kendala izin tempat ibadah.
Sampai akhirnya, kata Satyavat, pengurus Yayasan IMFO bertemu Garibaladi ‘Boy’ Thohir, Dirut Adaro Energy Indonesia, pada 2016.
Kala itu, Boy mengutarakan keinginan yang sama bagaimana agar ada masjid yang dibangun komunitas muslim Indonesia di LA. Keinginan Boy Thohir ada masjid di LA setelah ayahnya, Mochamad Thohir, berkali-kali mengeluh saat akan salat Jumat ketika berlibur di LA.
Di LA, sebenarnya sudah banyak berdiri masjid, namun didirikan dan dikelola oleh komunitas muslim negara lain, seperti Turki, Mesir, Libya, dan lain-lain. Belum ada masjid yang dikelola komunitas muslim Indonesia. Padahal, ada sekitar 55 ribu warga Indonesia di LA.
Sampai akhirnya IMFO menemukan sebuah bangunan gereja di Jalan Kenmore, di pusat kota LA, dekat dengan pusat komunitas Korea. Bangunan gereja jemaat Samoa ini dipilih karena sudah mulai kosong dan akan memudahkan dalam perizinan karena sudah mendapat izin pendirian tempat ibadah.
Akhirnya, Satyavat dan pengurus IMFO bertemu dengan pastur Gereja Samoa ini untuk menanyakan rencana pembelian. Sang pastur mengkonfirmasi bahwa bangunan memang dijual karena komunitas jemaatnya sudah pindah ke daerah lain.
“Awalnya pastur menawarkan harga US$ 2 juta. Namun akhirnya kami tawar di angka US$ 1,75 juta. Dan akhirnya deal, karena pastur itu bercerita bahwa ada anggota keluarganya yang menikah dengan orang Indonesia,” kata Satyavat.
Menurut Satyavat, pembelian bangunan gereja itu menggunakan dana donasi komunitas muslim Indonesia sekitar 40 persen dan 60 persen sisanya ditanggung keluarga Thohir. Setelah dibeli pada 17 Agustus 2018, langkah selanjutnya adalah melakukan renovasi.
Renovasi masjid membutuhkan anggaran sekitar US$ 1,3 juta. “Dana renovasi berasal 40 persen dari komunitas muslim Indonesia dan 60 persen dari keluarga Pak Thohir,” jelas Satyavat.
Desain renovasi bangunan gereja menjadi masjid dibuat oleh Tarek Abdelhady, seorang arsitek asal Mesir yang tergabung di Architect International Association (AIA). Sesuai ketentuan, desain bangunan ini tidak boleh diubah karena termasuk heritage. Bangunan ini dibangun pada 1920.
“Desain luar, kami tidak ubah. Yang kami ubah hanya bagian dalam. Sesuai keinginan pengurus IMFO, desain interior masjid harus memperlihatkan transparansi. Makanya, ini banyak jendela kaca,” kata Tarek.
Hal lain yang dia buat adalah desain yang memperlihatkan kenyamanan jemaah. Salah satunya Tareq membuat semacam kubah masjid berornamen kaligrafi Ayat Kursi dengan lampu gantung yang terlihat mewah.
“Ini kalau dari dalam, jemaah merasakan ada kubah. Padahal bagian luarnya tidak ada,” kata Tareq. Dia juga menambahkan sejumlah kaligrafi di dinding masjid dan juga di atas mihrab.
Menurut Satyavat, kusen jendela dan pintu bangunan gereja tidak diubah sama sekali. “Selain karena tidak boleh diubah, kusen sudah hampir mirip dengan kusen-kusen masjid. Kami hanya mencopot lambang salib saja dan menambahkan tulisan Masjid At-Thohir,” jelas Satyavat.
Renovasi masjid mulai dilakukan pada 2019. Namun, karena pandemi, renovasi membutuhkan waktu yang lebih lama dan baru selesai awal 2021.
Boy Thohir yang mewakili keluarga Thohir meminta maaf atas keterlambatan renovasi ini. Namun saat ini Boy Thohir sudah merasa lega karena renovasi masjid sudah selesai dan diresmikan Dubes RI untuk Amerika Serikat Rosan Roeslani pada hari Minggu (27/3/2022).
Janji Boy Thohir, kakaknya dan Erick Thohir untuk membangun masjid sebagai bakti terhadap almarhum ayahnya, Mochamad Thohir, sudah ditunaikan.
“Saya berharap masjid ini bisa bermanfaat dan membawa pesan bahwa umat muslim Indonesia cinta damai, toleran dan rahmatan lilalamin,” harap Boy.
Tentang nama Masjid At-Thohir, Satyavat menjelaskan bahwa pengurus IMFO ingin memberi nama yang berbeda.
“Akhirnya tercetus ide mengapa tidak diberi nama At-Thohir saja, yang berarti ‘suci’. Selain itu, juga karena pembelian dan renovasi masjid ini mayoritas menggunakan dana bantuan keluarga Pak Thohir,” kata Satyavat.
Bangunan masjid ini berluas 650 meter persegi yang berdiri di lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi. Selain ada bangunan masjid, di area masjid juga bangunan rumah yang digunakan untuk marbut dan pengurus masjid.
Bangunan masjid sendiri terdiri dari ruang utama salat yang berkapasitas 250 orang, ruang pertemuan yang berkapasitas 250 orang, 4 ruas kelas, dan tempat wudu jemaah laki-laki dan perempuan.
Seorang pengurus IMFO yang juga pengelola Masjid At-Thohir, Siskandar, merasa terharu atas peresmian masjid ini. “Kami memang sudah berkeinginan memiliki masjid sejak lama,” kata Siskandar.
Dia yakin akan semakin banyak jemaah yang beribadah di masjid At-Thohir. “Kami sudah melakukan ibadah salat Jumat 4 kali sejak masjid selesai direnovasi. Kami juga melakukan salat lima waktu di sini,” ujar dia.
Dengan datangnya bulan Ramadhan, Siskandar yakin akan banyak umat muslim Indonesia dan negara lain yang akan beribadah. “Tahun lalu, ada seribuan orang yang mengikuti ibadah puasa di sini, meski renovasi belum selesai,” kata dia.
