Masjid Ramah Lingkungan di Bantul, Pakai Panel Surya Penuhi Kebutuhan Listrik

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Situasi Masjid Al-Muharram, Pedukuhan Brajan, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul yang menggunakan panel surya untuk tenaga listrik, Selasa (19/8/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Situasi Masjid Al-Muharram, Pedukuhan Brajan, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul yang menggunakan panel surya untuk tenaga listrik, Selasa (19/8/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Hujan deras melanda sebagian besar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak terkecuali di Masjid Al-Muharram, Pedukuhan Brajan, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Selasa (19/8).

Meski cuaca tak cerah, tetapi cahaya dari luar tetap bisa masuk ke dalam masjid dengan baik. Ruangan masjid cukup terang tanpa bantuan lampu.

Sejak 2010-an, masjid telah didesain ramah lingkungan. Salah satunya menata bukaan yang baik agar cahaya matahari bisa dimaksimalkan pada siang hari.

Masjid ini juga tak memerlukan pendingin ruangan atau AC berkat ventilasi lebar di dinding-dindingnya.

Situasi Masjid Al-Muharram, Pedukuhan Brajan, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul yang menggunakan panel surya untuk tenaga listrik, Selasa (19/8/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Semangat ramah lingkungan ini pula yang membawa Masjid Al-Muharram sampai sejauh ini. Memilki panel surya untuk mencukupi kebutuhan listrik.

"Untuk mengurangi lagi pembayaran listrik maka kita berupaya mencari solusi yaitu pilihannya panel surya," kata Ketua Takmir Masjid Al-Muharram, Ustaz Ananto Isworo, ditemui, Selasa (19/8).

Situasi Masjid Al-Muharram, Pedukuhan Brajan, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul yang menggunakan panel surya untuk tenaga listrik, Selasa (19/8/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sempat Diragukan Banyak Orang

Ananto yang menjadi takmir sejak 2010 ini mengatakan rencana awal untuk memasang panel surya diragukan banyak orang. Mulai dari mitos sulit dirawat hingga biaya yang tinggi. Namun itu tetap tak menyurutkan tekadnya.

Sejak awal menjadi takmir, Ananto telah menerapkan tujuh program ramah lingkungan mulai 2013 yakni arsitektur bangunan ramah lingkungan memanfaatkan pencahayaan sinar matahari untuk mengurangi penggunaan listrik.

Kemudian penghijauan di sekitar masjid, sedekah sampah, memanen air hujan dengan sumur resapan, masjid ramah anak, masjid ramah difabel, hingga panel surya untuk masjid.

"Sampai 2018 kita ditunjuk sebagai tuan rumah Hari Perubahan Iklim Sedunia di sini diskusi sampai jam 5 sore tanpa listrik. Waktu itu sempat ada kawan-kawan dari UGM, ada sempat tawaran," kata Ananto yang dapat julukan Ustaz Crazy itu.

Namun ternyata proyek tersebut dialihkan ke desa tertinggal.

Lalu pada 2023 masjid dapat sedekah energi dari Mosaic (Muslims for Shared Actions on Climate Impact).

"Mereka punya program sedekah energi klop dengan kita sedekah sampah yang juga secara substansial sedekah energi karena mengubah sampah menjadi energi baru untuk anak-anak bisa sekolah, orang tua dapat sembako," katanya.

Akhirnya 2023 panel surya terpasang dengan penggalangan dana dari 5.500 orang yang membantu. Dana terkumpul Rp 85 juta untuk operasional, pelatihan, dan instalasi.

Situasi Masjid Al-Muharram, Pedukuhan Brajan, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul yang menggunakan panel surya untuk tenaga listrik, Selasa (19/8/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Hasilkan Lebih dari 4.300 Watt

Panel surya ini dapat menghasilkan energi listrik sebesar 4.300 watt. Jumlah ini jauh di atas kebutuhan masjid.

"Jadi ada delapan panel. Ada dua baterai. Yang satu kapasitas 2.000 sekian, satu baterainya sekitar Rp 10 juta. Karena dua baterai bisa menampung 4.300 watt itu," katanya.

Jumlah panel yang dipasang banyak bukan tanpa alasan. Ananto mengatakan setiap tahun masjid menggelar tiga acara besar pengajian akbar yang menggunakan sound system besar.

Bahkan suatu ketika saat pengajian akbar listrik PLN mati, tetapi panel surya bisa mem-backup-nya tanpa bantuan genset.

"Mati listrik satu desa tapi kita tetap bisa berjalan 500 jemaah tetap datang. Ustaznya bisa pengajian. Beliau berpikirnya ini genset. Padahal ini panel surya, kaget," katanya.

Ustadz Ananto Isworo, Ketua Takmir Masjid Al-Muharram, Pedukuhan Brajan, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Selasa (19/8/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Hybrid dengan Listrik PLN

Meski kapasitasnya mumpuni, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) ini digunakan secara hybrid dengan listrik dari PLN. Hal ini menurut Ananto sesuai dengan regulasi yang ada.

Jadi pada siang hari masjid menggunakan listrik dari PLN. Sementara malam hari dengan panel surya. Penggantian sumber listrik ini hanya melalui sebuah saklar saja.

"Kita buat SOP sore menjelang Maghrib sampai Subuh full pakai panel surya," katanya.

Situasi Masjid Al-Muharram, Pedukuhan Brajan, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul yang menggunakan panel surya untuk tenaga listrik, Selasa (19/8/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Biaya Lebih Hemat

Dengan panel surya ini, masjid bisa mengurangi biaya listrik PLN mencapai 80 persen. Jika rata-rata masjid lain seukuran masjid ini dengan berbagai kegiatannya, biaya listrik bisa mencapai Rp 400-500 ribu per bulan. Bahkan saat puasa bisa mencapai Rp 1,5 juta.

Sementara masjid ini hanya mengeluarkan uang untuk biaya listrik sekitar Rp 150 ribu untuk bulan Ramadan. Sementara hari biasa hanya berkisar Rp 60 ribu.

"Bulan biasa Rp 60-80 ribu. Jadi cukup signifikan pengurangannya," katanya.

Situasi Masjid Al-Muharram, Pedukuhan Brajan, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul yang menggunakan panel surya untuk tenaga listrik, Selasa (19/8/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Hindari Dosa Ekologis

Pesan soal pentingnya masjid ramah lingkungan kerap Ananto bawa ketika mengisi ceramah di masjid lain. Bahkan banyak yang tak suka padanya ketika dia blak-blakan soal masjid ber-AC.

"Ketika njenegan merasa nyaman salat (dengan AC di masjid) bisa sujud dengan khusyuk, di sisi lain Anda sedang menggali dosa yang lain," katanya.

Dengan menggunakan AC otomatis masjid akan membutuhkan listrik yang banyak. Sementara hampir semua masjid masih menggunakan listrik yang berasal dari batu bara. Inilah yang kata Ananto disebut dosa ekologis.

"Di sana batu baranya naik. Kedalaman (tambang) batu bara lebih dalam, mungkin luasan hutan yang diambil bisa lebih luas," jelasnya.

"Kenyataannya begitu. Ketika anda pasang AC mau empat mau lima ada orang masjid berkontribusi pada dosa ekologi yang ada di sana. Bahkan mungkin kedzaliman terhadap masyarakat lokal yang diambil tanahnya, tanah adat yang diambil," bebernya.

Situasi Masjid Al-Muharram, Pedukuhan Brajan, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul yang menggunakan panel surya untuk tenaga listrik, Selasa (19/8/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Banyak Warga Tertarik

Ananto mengatakan banyak warga yang tertarik untuk mempunyai panel surya seperti ini. Tetapi memang masih ada keraguan seperti perawatan hingga soal regulasi.

"Karena kan tadi kebetulan setelah pemasangan di sini (masjid), terjadi perubahan regulasi di pemerintah untuk pasang panel atap itu dibatasi sekali," katanya.

Santoso Rahayu, takmir Masjid Al-Muharram lainnya mengatakan perawatan panel surya ini sangat mudah. Bahkan nyaris tak mengeluarkan biaya.

"Perawatannya disiram air saja. Tidak ada yang rumit," kata Santoso.