Maskapai Rusia Terpaksa Bongkar Pesawat untuk Suku Cadang Akibat Sanksi Barat

9 Agustus 2022 11:26
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Maskapai Rusia Aeroflot Buka Penerbangan Langsung dari Indonesia ke Rusia. Foto:  REUTERS/Maxim Shemetov
zoom-in-whitePerbesar
Maskapai Rusia Aeroflot Buka Penerbangan Langsung dari Indonesia ke Rusia. Foto: REUTERS/Maxim Shemetov
ADVERTISEMENT
Maskapai penerbangan Rusia mulai membongkar pesawat-pesawatnya untuk mengamankan suku cadang yang tidak dapat mereka beli di luar negeri akibat sanksi dari Barat atas invasi ke Ukraina sejak 24 Februari 2022.
ADVERTISEMENT
Sumber yang merahasiakan identitasnya mengungkap keputusan tersebut. Dia mengatakan, Aeroflot membongkar satu Sukhoi Superjet 100 dan sebuah Airbus A350. Pihaknya turut mengambil suku cadang dari Boeing 737 dan Airbus A320.
Aeroflot merupakan maskapai penerbangan nasional Rusia. Hampir 80 persen armada Aeroflot terdiri dari Boeing dan Airbus. Maskapai itu memiliki 134 Boeing, 146 Airbus, dan 80 Sukhoi Superjet 100 pada 2021.
Menurut Flightradar24, sekitar 50 pesawatnya belum lepas landas sejak akhir Juli. Angka itu berarti 15 persen dari keseluruhan armada. Maskapai Rusia mengurangi rute penerbangan karena sanksi Barat.

Aeroflot Merosot 22 Persen

Aeroflot pernah menjadi salah satu maskapai teratas di dunia. Namun, sanksi kemudian mencegahnya menuju sebagian besar negara Barat.
Pihaknya lantas mengalami penurunan lalu lintas hingga 22 persen pada kuartal kedua tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian pesawat yang dilarang terbang lantas dapat dilucuti.
Boeing 737-500 maskapai Rusia Utair Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Boeing 737-500 maskapai Rusia Utair Foto: Wikimedia Commons
Pasalnya, mayoritas armada pesawat Rusia terdiri dari pesawat jet penumpang buatan Barat. Sukhoi Superjet rakitan Rusia sangat juga bergantung pada suku cadang asing, sedangkan A360 dan Bombardier Q membutuhkan pemeliharaan di luar negeri.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, pesawat dari generasi baru memanfaatkan teknologi yang harus terus diperbarui. Pesawat-pesawat tersebut termasuk A320neo, A350, Boeing 737 MAX, dan Boeing 787.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Walaupun penerbangannya kompeten dan maju, Rusia akan menghadapi kesulitan dalam menerbangkan pesawat modern semacam itu dalam setahun sejak sanksi mulai berlaku.
Sanksi telah mencegah maskapai penerbangan mendapatkan suku cadang atau menjalani perawatan di Barat. Alhasil, Rusia harus mencari jalan untuk memastikan operasi pesawat buatan asing.
"Produsen Barat memahami bahwa hampir semua Superjet dioperasikan di Rusia," terang Kepala Aviaport, Oleg Panteleev, dikutip dari Reuters, Selasa (9/8).
"Anda bisa menghentikan produksi dan pengiriman suku cadang dan itu akan merugikan," lanjut dia.
Turis Rusia melambai dari penerbangan charter ke Rusia di bandara Juan Gualberto Gomez di Varadero, Kuba pada (6/3). Foto: YAMIL LAGE/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Turis Rusia melambai dari penerbangan charter ke Rusia di bandara Juan Gualberto Gomez di Varadero, Kuba pada (6/3). Foto: YAMIL LAGE/AFP

Sesuai Prediksi Pakar

Para pakar penerbangan telah memprediksi situasi pelik itu sebelumnya. Mereka meyakini, Rusia akan mulai membongkar pesawat-pesawatnya untuk dijadikan suku cadang.
ADVERTISEMENT
Keputusan itu sejalan dengan saran yang diberikan Pemerintah Rusia pada Juni. Usulan tersebut berniat memastikan dua pertiga armada asing dapat tetap terbang pada akhir 2025.
Setelah dibongkar, pesawat masih bisa diterbangkan asalkan suku cadangnya dikembalikan. Praktik melepas bagian satu pesawat untuk tetap mengoperasikan pesawat lain relatif jarang terjadi. Langkah itu diambil ketika menghadapi kesulitan ekonomi dalam skala besar.
Rusia akan kesulitan mengamankan pasokan dari negara-negara yang tidak menjatuhkan sanksi pula. Sebab, Asia dan Timur Tengah mengkhawatirkan risiko serupa dari Barat.
"Setiap bagian memiliki nomor unik sendiri dan jika dokumen tersebut menyatakan maskapai Rusia sebagai pembeli akhir, maka tidak ada yang akan setuju untuk memasok, baik China maupun Dubai," jelas seorang sumber yang merahasiakan identitasnya.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020