Masyumi Reborn Bawa Isu Islamisme Dinilai Cukup Berisiko dan Tak Diminati

Sejumlah tokoh Koalisi Akis Menyelamatkan Indonesia (KAM) membentuk Partai Masyumi Reborn. Partai yang pernah dibubarkan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno ini kembali diaktifkan demi mengikuti kontestasi politik di 2024.
Lantas, apakah partai ini akan mendapatkan banyak dukungan masyarakat Indonesia?
Pengamat Politik, Adi Prayitno, punya tanggapan berbeda. Menurnya, mengaktifkan kembali Masyumi cukup berisiko. Apalagi, jika membawa jargon islamisme dan menolak sekularisme. Sebab, hal tersebut menurutnya sudah tak laku lagi saat ini.
"Saya melihat posisinya seakan-akan ingin memungkinkan romantisme masa lalu kejayaan Masyumi yang cukup kentara dengan isu-isu islamisme. Sementara kan saat ini kan melihat pasar pemilih sudah tidak terlampau tertarik dengan isu-isu islamisme itu," kata Adi kepada kumparan, Senin (9/11).
"Nah, saya melihatnya Masyumi reborn ini terlampau berisiko memainkan isu islamisme itu ya, karena tidak kontekstual, tidak uptodate, tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini," tambahnya.
Sejauh ini, yang lebih dibutuhkan masyarakat adalah partai yang punya tujuan dalam perbaikan ekonomi hingga punya isu-isu strearegis lainnya seperti lingkungan hingga anti politik uang dan politik dinasti.
"Yang dibutuhkan itu sesuatu yang nyata yang bisa kehidupan masyarakat pekerjaan perbaikan ekonomi," jelasnya.
"Yang kedua pada level isu ya enggak ada gunanya juga jargon islamisme kalau tak tegas pada sikap isu politik yang cukup strategis, misalnya tentang politik uang misalnya, politik dinasti misalnya, tentang lingkungan," lanjutnya.
Sekali pun, Masyumi Reborn tetap membawa jargon islamisme maka dia menyarankan untuk mengkombinasikannya dengan isu-isu strategis lainnya.Sehingga, bisa menarik dukungan masyarakat sekarang.
"Boleh membangun jargon-jargon Islam yang besar itu tapi misalnya haram hukum politik uang, lingkungan, menolak UU Omnibus Law itu saya kira cukup strategis," jelasnya.
"Kalau islamisme hanya direduksi pada satu romantisme keyajaan Islam masa lampau karena sekilas misalnya sempat terdengar mereka itu haram berkoalisi dengan partai sekuler. Itu kan pola pikir lama. Sudah gak relevan," pungkasnya.
