Megawati Bicara Kerap Dibully hingga Alasan Jadi Ketua Dewan Pengarah BPIP-BRIN

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 7 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarnoputri, meninjau lokasi peresmian Kebun Raya Mangrove Surabaya. Foto: Dok. DPP PDIP
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarnoputri, meninjau lokasi peresmian Kebun Raya Mangrove Surabaya. Foto: Dok. DPP PDIP

Presiden Kelima RI Prof. Dr. (HC) Megawati Soekarnoputri meresmikan Kebun Raya Mangrove Surabaya pada Rabu (26/7). Peresmian ini bertepatan dengan Hari Mangrove Sedunia yang jatuh pada 26 Juli.

Hadir dalam acara itu Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Sebelum peresmian, Megawati berkeliling di kawasan kebun mangrove. Megawati mengatakan, kebun mangrove memiliki peran penting untuk meminimalisasi dampak tsunami, menekan polusi, hingga menambah kadar oksigen.

instagram embed

Megawati menceritakan peresmian hutan ini merupakan arahannya kepada Wali Kota Surabaya sebelumnya, yakni Tri Rismaharini yang kemudian dilanjutkan Eri Cahyadi.

“Sebetulnya ini inisiasi saya sama Ibu Risma, ketika Ibu Risma itu bertanya mula-mula yang genjeran (eceng, red). Beliau bilang begini, ‘Bu bagaimana, ya untuk menanam sesuatu supaya genjeran itu jangan gersang'. Lah, saya spontan saja, 'Mbak, cari yang namanya cemara udang',” kata Megawati.

Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini menuturkan, cemara udang bisa berfungsi menjadi penahan banjir rob atau juga tsunami. Cemara udang memiliki cabang yang masuk ke dalam lapisan bawah tanah perairan.

“Karena tsunami itu, kan, sebetulnya yang berbahaya adalah tingginya dan juga tekanan dahsyatnya itu,” kata Megawati.

Megawati menyatakan, cemara udang memiliki akar yang sangat kuat sehingga tidak mudah roboh atau terseret arus. Putri Proklamator RI Bung Karno ini juga menyampaikan hutan mangrove bisa menjadi ruang produksi oksigen.

"Surabaya, kan, kota panas, tetapi tapi kenapa di sini sejuk? Karena mangrove itu kerjanya mengeluarkan oksigen dan CO2-nya diambil,” kata dia.

Megawati turut membahas topik lain dalam acara ini. Mulai dari siapa sosok bakal cawapres yang akan mendampingi Ganjar hingga salam Pancasila yang ia selalu kampanyekan.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri (tengah) berbincang dengan Presiden Joko Widodo (kiri) dan Bakal Capres Ganjar Pranowo (kanan) saat berlangsungnya Rakernas PDI Perjuangan di Jakarta, Selasa (6/6/2023). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Bakal Umumkan Cawapres Ganjar di Waktu Tepat

Megawati meminta media massa dan masyarakat bersabar soal nama bakal calon wapres pendamping Ganjar Pranowo. Megawati berjanji, pada saatnya akan mengumumkan kepada publik ketika sudah waktunya.

“Saya kan tidak kekurangan ngomong. (Saya jawab) lah kamu sabar aja loh, nanti saya akan umumin. Kan sudah ngerti, kenapa dia mesti nanya itu lagi?” kata Megawati.

Megawati mengaku, wartawan ingin dianggap memiliki prestasi jika terlebih dahulu mendapatkan informasi pertama soal bakal cawapres Ganjar. Namun dia harap agar dipahami juga bahwa proses itu sedang berjalan.

“Kayak sekarang aku tiap hari ditanyain, siapa yang mau dijadiin nomor 2. Loh nunggu aja, nanti juga ada harinya. Saya nanti umumin,” katanya.

Kerap kali pertanyaan demikian diberikan ketika wartawan hadir di sebuah acara yang sama sekali tak berkaitan dengan isu politik praktis.

Bagi Megawati, seharusnya seorang jurnalis seharusnya punya rasa hormat terhadap pihak yang menyelenggarakan acara yang tak ada kaitan dengan politik praktis, misal terkait Pilpres.

Megawati menegaskan bakal cawapres pendamping Ganjar akan disampaikan pada waktunya. “Kalau sudah datang perlunya," ucap Megawati.

Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarnoputri, meninjau lokasi peresmian Kebun Raya Mangrove Surabaya. Foto: Dok. DPP PDIP

Megawati Ngaku Kerap Dibully Akibat Berita

Megawati juga mengeluhkan dirinya kerap menjadi bahan bully di berbagai forum media sosial. Megawati menilai, pemicunya akibat pernyataannya dipelintir wartawan.

Megawati menjelaskan, dirinya tidak hanya memiliki kemampuan berpolitik saja. Namun ia tahu banyak berbagai isu kehidupan. Ia menyayangkan pernyataannya kurang dipahami dan bahkan dipelintir.

“Kalau mau debat sama ibu, ayo. Jangan bully, sudah setop (bully). Jadi datang aja sendiri ke sini, sini, ngomong apa yang kamu mau ngomong. Ayo wartawan, lho iya, saya lagi tantang mereka, karena enak aja ngebully orang gitu,” kata Megawati.

Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarnoputri, meninjau lokasi peresmian Kebun Raya Mangrove Surabaya. Foto: Dok. DPP PDIP

Ketua Umum PDIP ini menegaskan, siap berdiskusi dan berdebat tentang berbagai topik yang dibahasnya. Namun, topik itu kerap disalahartikan hingga menjadi bahan bully di media sosial. Bahkan soal nuklir, Megawati siap berdebat.

“Iya di sini saya harus ngomong seperti ini, why? Karena sebentar lagi kan mau Pemilu, saya enggak mau digoreng-goreng lagi. Ini pernyataan saya tolong ditulis yang benar,” tegas Megawati.

Megawati lantas memberi contoh pemelintiran yang biasa dialaminya. Misal di dalam acara peresmian ini.

Megawati mencontohkan terkait mangrove di hadapan Kepala BRIN Laksana Tri Handoko. Akan tetapi, pemberitaan yang beredar bukanlah substansi penjelasan itu sendiri.

“Nanti pasti saya dibilang gini, ‘Ibu Mega sedang menunjukkan kekuasaan dan kepintarannya, gile he, wartawan itu gorengnya itu enak banget gitu lho, aih enggak kapok-kapok,” kata Megawati.

Oleh sebab itu Megawati berharap agar ke depan, wartawan dan media massa memberi perhatian pada isu lingkungan hidup. Ia beri contoh soal El Nino yang melanda Indonesia.

Dewan Pengarah BPIP Megawati mempratikkan Salam Pancasila Foto: BPIP

Salam Pancasila Saya Populerkan, Kalau Pada Marah, Marah Sama Jokowi

Megawati dalam awal sambutannya sempat menyinggung adanya wartawan dalam acara ini. Ia mengkritik wartawan yang dia anggap menjelekkan dirinya dan tidak ikut mengucapkan salam Pancasila.

"Salam Pancasila! Wartawan juga ikut ya. Kamu nih orang Indonesia apa bukan ya?" kata Megawati.

"Loh betul karena begini saya orang yang disayangi banyak orang, tapi juga tidak disukai banyak orang. Karena wartawan kalau sudah jelekin saya itu hebat deh. Jadi saya mikir gini, mereka ini dari kalangan apa ya," tambah dia.

Ketua Dewan Pengarah BPIP ini menegaskan ideologi negara Indonesia adalah Pancasila. Oleh sebab itu, ia membuat terobosan dengan membuat salam Pancasila. Menurutnya, jika ada rakyat yang tidak terima, mereka bisa memprotes langsung kepada Presiden Jokowi.

"Karena kalau salam ini sebetulnya itu resmi karena saya sebagai ketua dewan pengarah badan pembinaan ideologi Pancasila, saya bicara pada presiden bahwa 'Pak, supaya rakyat itu ingat bahwa ideologi kita tuh Pancasila enggak ada yang lain'," jelas Megawati.

"Jadi maksud ibu lalu bagaimana? Harus ada yang namanya simbol-simbolnya. Nah saya bikin 'boleh ndak Pak kalau salam Pancasila saya populerkan? Oh setuju sekali'," ucap Megawati.

"Jadi kalau nanti pada mau marah, marahnya sama Pak Jokowi. Karena sudah dapat izin beliau sebagai presiden," jelas Megawati.

Lebih jauh, Megawati ingin ke depan dalam setiap upacara setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya harus ada salam Pancasila. Masyarakat harus tahu dan paham bahwa perjuangan Indonesia meraih kemerdekaan tidak mudah.

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri saat menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatra Barat, pada 27 September 2017. Foto: Dok. Istimewa

Bicara Punya 9 Honoris Causa

Megawati tidak pernah menyelesaikan kuliah sehingga tak memiliki gelar S1. Megawati sempat duduk di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung pada 1965, namun berhenti tahun 1967.

Kemudian, kuliah lagi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Jakarta tahun 1970, dan tidak selesai lagi berhenti pada tahun 1972. Padahal ia menyebut hal itu terjadi karena peristiwa politik.

"Saya sekolah saya dibilang dulu drop outlah, dibilang bodohlah apa saya diem aja. Karena sebetulnya itu persoalan politik. Tapi sekarang profesor saya dua, Honoris Causa saya 9, masih nunggu 6 lagi," ucap Megawati.

Mantan Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri (kedua dari kanan), terima Doktor Honoris Causa di Jepang. Foto: Dok. PDIP

Meski begitu, Megawati menyebut dirinya tidak kalah dengan para peneliti BRIN.

"Makanya waktu menghadapi yang 10.000 (peneliti BRIN) ini saya bilang kalian kalah sama saya. Apa aja saya bisa ngomong. Ayo nuklir oke tanya Pak Handoko," jelas dia.

"Saya sudah ngomong nuklir loh, ya apalagi, persenjataan? tahu alutsista. Kenapa? Loh saya panglima tertinggi dulu waktu presiden, Jadi kalian jangan main-main lho sama saya," tegasnya.

Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Megawati Soekarnoputri di Kantor Pusat LPP TVRI, Senin (11/6). Foto: Haya Syahira/kumparan

Megawati Beberkan Alasan Bersedia Jadi Ketua Dewan Pengarah BPIP dan BRIN

Megawati Soekarnoputri mengatakan, sebenarnya dirinya ingin pensiun dalam mengurus negara.

Megawati saat ini mendapat mandat sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) hingga Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

"Mulut saya ini kalau boleh dia ngomong sendiri pada diri saya, dia sebetulnya mau pensiun. Sudah jangan cerewet-cerewet. Tapi saya mikir, loh sayangi bangsa dan negera seperti apa yang diinginkan oleh Pak Jokowi," kata Megawati.

Megawati lantas membeberkan bagaimana dirinya diberi tugas oleh Jokowi menjadi Ketua Dewan Pengarah BPIP dan BRIN. Termasuk mengapa ia bersedia menerima tugas itu.

"Kenapa saya disuruh Pak Jokowi jadi BRIN padahal saya bilang, 'Pak sudahlah, capek saya Pak, sudah BPIP,'" ucap Megawati.

"Beban BPIP itu lebih berat karena ideologi Pancasila. Tapi BRIN saya lihat juga research kita enggak jelas. Apa yang sudah di-research, saya ndak tahu. Terus ketika saya dikasih tugas menjadi ketua dewan pengarah, wadih, keren, BRIN," kata Megawati.