Megawati Bicara Patung Bung Karno hingga Sentil Islam Garis Keras

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 9 menit

Megawati Soekarnoputri resmikan sejumlah kantor partai.  Foto: PDIP
zoom-in-whitePerbesar
Megawati Soekarnoputri resmikan sejumlah kantor partai. Foto: PDIP

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri meresmikan Taman UMKM dan Patung Bung Karno di Bandar Lampung, juga 16 kantor partai. Hal ini alam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.

Acara itu dilaksanakan secara hybrid (offline dan daring) dari berbagai daerah. Megawati menandatangani prasasti dari kediamannya di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, ditemani oleh eks Sekjen PDIP Pramono Anung Wibowo.

“Dengan mengucapkan alhamdulilah, baru saja saya menandatangani prasasti peresmian kantor partai di Provinsi Aceh dan 14 kantor partai di berbagai kabupaten/kota. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, dengan ini saya resmikan juga taman dan patung Bung Karno di Kota Bandar Lampung," kata Megawati.

"Dengan demikian saya sebagai ketua umum mengucapkan beribu terima kasih kepada kader, petugas partai, yang dengan penuh semangat untuk mempunyai rumah partai, rumah rakyat yang harus segera digunakan sebaik-baiknya," tambah Megawati.

Acara juga dihadiri oleh Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto yang mengikuti di kantor DPP di Jalan Diponegoro. Di sana Hasto ditemani Wasekjen Sadarestuwati dan Ketua DPP PDIP Eriko Sotarduga serta Wiryanti Sukamdani.

Lalu politikus senior PDIP Tjahjo Kumolo, memimpin proses peresmian di Aceh. Di sana, Tjahjo ditemani Ketua DPD PDIP Nusyirwan Soedjono bersama dua anggota DPR Paryono dan M Nabil Haroen.

Kemudian satu kantor partai di Kalimantan Utara diresmikan peletakan batu pertama oleh Ketua DPP PDIP Tri Rismaharini. Di sana, Risma ditemani Deddy Yevri Sitorus.

Ketua DPP PDIP Ribka Tjiptaning memimpin peresmian di Tangerang. Elva Hartati memimpin peresmian taman dan patung Bung Karno di Lampung.

Seluruh Ketua DPP PDIP lainnya seperti Prananda Prabowo, Puan Maharani, Bambang Wuryanto, Ahmad Basarah, Sukur Nababan hadir bersama ratusan pengurus partai daerah dan kepala/wakil kepala daerah dari seluruh Indonesia.

Patung Soekarno di Blitar. Foto: Shutterstock

Bikinlah di Tiap Daerah Patung Sukarno, Jika Mungkin, Jangan Buru-buru

Megawati Soekarnoputri menanggapi soal patung Sukarno yang belakangan mulai masif dibangun di berbagai daerah. Menurutnya, sebagai proklamator bangsa, patung Sukarno dapat menjadi pengingat bangsa, khususnya bagi generasi muda tentang sejarah dan jasanya dalam memerdekakan Indonesia.

Megawati sangat mendukung jika sosok pahlawan yang juga ayahnya itu banyak dijadikan patung. Ia pun berharap patung Sukarno bisa dibangun di setiap daerah.

“Kita partai nasionalis, artinya harus mengikuti yang disebut pemikiran atau ajaran Bung Karno. Saya terima kasih pada Lampung (pengurus PDIP) karena telah membuat patung beliau. Bukan hanya karena saya putri, tapi saya secara ideologi mengikuti pemikiran beliau. Bung Karno itu, waktu suatu saat sepertinya ingin ditenggelamkan, tapi menurut saya enggak bisa,” kata Megawati.

“Legacy itu hal yang telah dibuat seorang pemimpin yang belum tentu dibuat pemimpin lainnya. Tidak bisa dihapus sejarah bangsa. Kalau memungkinkan, tentu tidak perlu terburu-buru, bikinlah di setiap daerah patung beliau,” lanjutnya.

Megawati menegaskan Sukarno adalah proklamator Indonesia, Bapak Bangsa, dan memiliki gelar pahlawan nasional sehingga harus diingatkan pada generasi muda. Menurutnya, membangun patung Sukarno dapat lebih mendekatkan dan mengenalkan masyarakat kepada sosok Proklamator itu.

Kepada para kader PDIP, Megawati meminta mereka untuk membangun patung Bung Karno. Sebab, Bung Karno adalah sosok proklamator, bapak bangsa dan sudah diberi gelar pahlawan nasional.

Megawati Soekarnoputri resmikan sejumlah kantor partai. Foto: PDIP

Mega Bicara Islam Garis Keras Larang Patung

Megawati menyinggung ada kelompok Islam yang menentang pembentukan patung. Sebab, pembuatan patung sering diasosiasikan sebagai bentuk penyembahan.

"Ada yang mengatakan kalau Islam garis keras tidak boleh (patung), takut didewakan atau disembah, tidak ada niat seperti itu," kata Megawati.

"Hanya sebuah pengenalan dari sosok pahlawan," lanjut dia.

Megawati menjelaskan, patung merupakan representasi fisik dari pahlawan agar mereka dikenal oleh masyarakat. Ia mengatakan, jika memungkinkan seluruh pahlawan harusnya diwujudkan dalam bentuk fisik.

"Kalau bisa seluruh pahlawan bangsa, harusnya diwujudkan dalam bentuk fisik, sosok. Mana anak muda masih mengetahui? Saya saja kalau tidak diberi tahu ayah saya seperti apa sosok Pattimura, saya tidak tahu," kata dia.

Inilah alasannya, kata Megawati, banyak patung Bung Karno bermunculan di berbagai daerah.

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Presiden Hanya Boleh 2 Kali, Jika Partai Mau Menang Terus Tak Dilarang

Setelah berbicara soal patung Bung Karno, Megawati kemudian menyinggung soal PDIP yang sudah dua kali menang pemilu legislatif.

Megawati bersyukur karena PDIP sudah dua periode dipercaya rakyat.

"Pengalaman zaman susah seperti apa. Seperti sekarang, saya katakan PDIP mudah-mudahan sebuah partai yang dipercaya rakyat sudah 2 kali untuk menimba kemenangan," kata Megawati.

Ia menyebut, kemenangan ini pun harus terus dijaga. Sebab, tak ada aturan yang melarang sebuah partai untuk terus menerus meraih kemenangan dalam sebuah pemilu.

Berbeda dengan masa jabatan presiden yang dibatasi dua periode.

"Saya selalu mengatakan, apakah ada aturan bahwa kita tidak boleh menang terus? Ada, boleh. Maksud saya, enggak ada yang menghalangi. Karena yang harus dicari itu adalah Presidennya hanya boleh dua kali. Tapi kalau partainya mau menang terus, ndak ada aturan yang tak boleh," kata dia.

"Itulah yang saya inginkan, supaya partai kita terus, seperti dikatakan Pak Tjahjo, harus selalu ada sepanjang NKRI ada," lanjut Megawati.

Dalam kesempatan itu, Megawati juga mengingatkan bahwa PDIP adalah sebuah partai nasional. Artinya, partai harus mengikuti pemikiran atau ajaran Bung Karno.

Ia mencontohkan dirinya yang mengikuti ajaran Bung Karno bukan hanya karena merupakan seorang putri. Tapi juga karena memang mengikuti pemikiran Bung Karno.

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Tak Lagi Suka PDIP Silakan Mundur, Daripada Saya Capek Pecat-pecat

Megawati Soekarnoputri menegaskan partainya selalu disiplin dan berpegang teguh kepada AD/ART. Menurutnya, ini pula yang menjadi alasan PDIP selalu terlihat solid dari tahun ke tahun.

Megawati menambahkan PDIP pun selalu memastikan kadernya siap mengabdi untuk partai. Sehingga hal ini meminimalisir konflik internal yang dapat memecah PDIP.

“Alhamdulillah organisasi ini terbangun dengan disiplin partai. Karena tanpa itu, kita akan morat marit, enggak ada guna. Hanya besar badan. Kita kan harusnya solid ya, melihat barang solid tuh enak. Ini umpamanya ada tempat minum saya solid, mau remek sulit karena solid, karena mengikuti aturan partai,” kata Megawati.

“Aturan partai yang bertanggung jawab Ketum, saya. Jadi kalau Anda tidak loyal atau ya tidak mau menjalankan tugas partai ya jangan jadi orang partai. Saya katakan kalau mereka nggak suka lagi dengan PDIP silakan mengundurkan diri daripada saya capek pecat-pecat. Sudah, selesai, itu hak kalian,” imbuh dia.

Megawati menyindir anggota yang menggugat partai padahal sudah ada AD/ART yang mengatur. Megawati menegaskan dari sisi hukum, partai adalah organisasi politik, maka anggota harus taat kepada aturan partai yang mengikat melalui AD/ART.

“Sekarang kan sedikit-sedikit dipecat, kok gugat. Ingat sekali lagi itu kongres partai yang dihadiri kalian semua. Jadi itu keputusan mutlak. Jadi jangan dibalik-balik. Digugat karena katanya menyalahi. Kok menyalahi? Aturannya ada,” ujarnya.

“Jangan dibalik-balik lho ya. Kalau ndak seneng tolong segera mundur. Sampe hari ini Insyaallah kalau gugatan kami menang, partai menang, karena menuruti AD/ART. Bukannya saya hanya main pecat sembarangan,” ucap dia.

Presiden Joko Widodo usai melantik Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Istana Negara, Jakarta, Rabu (13/10). Foto: Lukas/Biro Pers Sekretariat Presiden

Megawati Minta Kader PDIP Bantu Tugas BRIN

Dalam kesempatan itu, Megawati Soekarnoputri juga berbicara soal membangun infrastruktur BRIN di daerah.

Dalam Perpres BRIN, pemerintah daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota punya kewenangan membentuk Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida). Megawati berharap kader PDIP bisa membantu tugas BRIN di daerah.

"Nanti ada tugas kalian (kader PDIP) dalam hubungannya dengan BRIN ini, karena nanti harus ada di daerah masing-masing," ucap Megawati.

Megawati berharap BRIN dapat diisi oleh orang dari berbagai berlatar belakang suku. Karena BRIN sejalan dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Megawati adalah Ketua Dewan Pengarah BRIN dan BPIP.

Ia meminta para kader misalnya membantu menemukan kearifan lokal setempat. Seperti, membuat inventarisasi soal suku, bahasa setempat. Ini kemudian disampaikan pada BRIN daerah.

"dengar loh, dicatat loh, ini perintah ketum, yaitu mencari dari daerah masing-masing adalah suku. Di daerah itu ada suku apa saja, bahasa daerahnya apa saja, jadi harus ada ditugasi, ada seperti tim," ujarnya.

Megawati Soekarnoputri saat dilantik sebagai Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Istana Negara, Jakarta, Rabu (13/10). Foto: Lukas/Biro Pers Sekretariat Presiden

Megawati Soekarnoputri lantas mengungkapkan cerita di balik pemilihannya sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN. Ia bercerita bertanya kepada Presiden Jokowi mengapa memilihnya sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN.

“Jadi saya ditugasi lagi oleh Presiden menjadi Ketua Dewan Pengarah sebuah badan baru yang namanya BRIN, Badan Riset Inovasi Nasional. Saya tanya pada beliau, kenapa, kok, saya lagi Pak?” kata Mega.

Megawati melanjutkan, Jokowi ingin mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam riset. Apalagi, Megawati memang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP.

“[Jokowi mengatakan] ya, saya maunya Ibu. Karena saya sudah jadi Ketua Dewan Pengarah BPIP. Beliau ingin dari BPIP dengan BRIN itu bisa sejalan, jadi bukan asal riset saja,” jelas Megawati.

Sebagai Ketua Dewan Pengarah, ia akan mengerahkan PDIP untuk mengeksplorasi kekayaan budaya di berbagai daerah. Megawati juga menilai hal ini akan menjadi kontribusi yang baik bagi BRIN.

“Saya sudah bilang ke Presiden harus diangkat kembali hal tersebut karena itu kearifan lokal dari bangsa kita. Nanti seperti ada informasi apa saja itu bahasa daerahnya, sukunya apa, juga mendokumentasi hal-hal seperti ini,” lanjutnya lagi.

Megawati pun tidak mempermasalahkan keterlibatan PDIP dalam BRIN. Baginya, partai politik harus berperan aktif dalam memajukan masyarakat.

Megawati Soekarnoputri resmikan sejumlah kantor partai. Foto: PDIP

Megawati Curhat Pernah Ditawari Masuk Golkar

Megawati Soekarnoputri menceritakan kisahnya yang hampir bergabung ke Partai Golkar. Megawati mengungkapkan pernah ditawari masuk Golkar, namun tawaran itu dia tolak.

“Saya masuk PDI dulu, padahal saya, ya, ditawari masuk Golkar. Tetapi saya pilih PDI karena saya bilang mau ikut Bapak saya,” ungkap Megawati.

Megawati mengingat jasa Sukarno ketika mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927, jauh sebelum Indonesia merdeka.

“PDI dulu namanya PNI. Bung Karno yang mendirikan sebelum merdeka karena beliau berpikir membangun sebuah kekuatan. Jadi bayangkan, waktu itu sebuah keberanian luar biasa. Bung Karno berani membangun yang Partai Nasional Indonesia,” jelas Presiden RI ke-5 itu.

Sementara terkait Sumpah Pemuda, Megawati berpesan agar selalu bersatu sebagai bangsa dan mengikuti semangat pendiri bangsa.

Megawati Soekarnoputri resmikan sejumlah kantor partai. Foto: PDIP

Megawati Sindir Penyerapan Anggaran Daerah Tak Sesuai

Terakhir, Megawati Soekarnoputri menyoroti penyerapan anggaran di daerah yang tidak sesuai dengan anggaran yang diajukan ke pemerintah pusat. Ia bahkan sempat mendiskusikan hal ini dengan Menkeu Sri Mulyani.

"Kenapa daerah dari pengelolaan anggaran itu mesti enggak sesuai dari sisi penyerapan anggaran. Jadi dialokasi seperti itu seperti itu. Itu yang ingin saya tahu," kata Megawati.

Megawati mengaku heran mengapa penyerapan anggaran di daerah tidak sesuai dengan anggaran yang diminta. Ia bahkan menyoroti daerah yang menggunakan sisa anggaran untuk menggelar rapat di hotel.

"Lalu mereka, kan, sering kali sisa anggarannya kalau bisa dipakai apa saja. Nanti rapat-rapat dipakai di hotel lah, apalah. Saya, kok, lupa kunjungan apa, ya, [pokoknya] dibuat sedemikian rupa. Ada studi banding, belum lagi dari pengertian pengelolaan ATK. Coba ayo itu, mbok, sudahlah berhenti. Katanya sekarang mau masuk zaman digital," tuturnya.

Kepada Sri Mulyani, Megawati mengaku kaget mengapa serapan anggaran bisa sampai triliunan rupiah. Ia bahkan mempertanyakan apa saja yang dibeli oleh daerah sampai penyerapan anggaran mencapai triliunan rupiah.

"Kalian kalau minta anggaran seperti itu ke pemerintah pusat, tolong, dong, benar penyerapannya selesai sesuai seperti anggaran yang dimintakan. Ini, kan, ndak. Saya sudah mengamati, loh," ungkapnya.

"Otonomi daerah itu, loh, tolong banget. Ini saya bilang tolong, loh," pungkasnya.