Megawati Cerita Dicap Komunis Usai Hadiri Ulang Tahun Partai Komunis China

11 Juni 2021 16:45 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pengukuhan Guru Besar Tidak Tetap Prof. Dr. (H.C) Hj. Megawati Soekarnoputri di Unhan, Jumat, (11/6).
 Foto: Youtube/PDIP
zoom-in-whitePerbesar
Pengukuhan Guru Besar Tidak Tetap Prof. Dr. (H.C) Hj. Megawati Soekarnoputri di Unhan, Jumat, (11/6). Foto: Youtube/PDIP
ADVERTISEMENT
Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno menceritakan pengalamannya ketika diundang Presiden China, Xi Jinping, dalam acara ulang tahun Partai Komunis.
ADVERTISEMENT
Dalam kesempatan itu, Megawati turut diberikan kesempatan untuk memberikan sambutan.
"Saya diundang Presiden Xi Jinping ulang tahun Partai Komunisnya untuk memberikan sambutan," kata Megawati dalam orasi ilmiahnya dalam pengukuhan profesor kehormatan dari Universitas Pertahanan, Sentul, Jawa Barat, Jumat (11/6).
Berawal dari peristiwa itu, membuat banyak pihak menuding Megawati menganut paham Komunis. Setelah itu, dalam setiap momen banyak yang mengaitkan Megawati dengan Komunis.
"Itu Partai Komunis RRC kalau saya bilang begini 'betul kan Bu Mega Komunis'. Saya kan selalu dibilang begitu kan. Sampai saya jadi anggota DPR saja sudah distempel itu," ucap Megawati.
Ketua DPR RI Puan Maharani di acara Pengukuhan Megawati Soekarnoputri sebagai Profesor Kehormatan di Unhan, Jumat, (11/6). Foto: Youtube/PDIP
Padahal, yang diharapkan Megawati bisa menjadi perbandingan bahwa Indonesia yang merdeka sejak 1945 seharusnya bisa lebih maju lagi ketimbang China yang baru keluar saat ada Konferensi Asia-Afrika.
ADVERTISEMENT
"Padahal maksud saya mengatakan ini gimana ya? RRC kan keluar dari persembunyiannya waktu Asia-Afrika. Bung Karno yang suruh Mao Zedong 'ayo keluar jangan ada di Tirai Bambu'," ucap Megawati.
"Kalau dibanding kita 45 sudah merdeka, go internasionalnya RRC itu berapa tahun bedanya," tambahnya.
Presiden China, Xi Jinping saat menghadiri perayaan 70 tahun China. Foto: Reuters
Ketua Umum PDIP itu lantas mempertanyakan kenapa Indonesia tak membuka diri. Artinya, belajar dari negara-negara lainnya. Apalagi, soal menuntaskan kemiskinan yang ada.
"Kita kenapa enggak membuka diri untuk melihat apa yang terjadi pada negara-negara di dunia ini. Kemarin Presiden Xi Jinping mengatakan bahwa 100 tahun partai itu proverty 0 persen," ujarnya.
"Ini yang saya maksud, kita kan cuma seperapatnya. Jadi kepemimpinan strategis berfokus kepada keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dengan menggerakkan segenap sumber daya yang ada untuk tujuan bersama," pungkasnya.
ADVERTISEMENT