Mekanisme Pemisahan Penumpang Pria dan Wanita di Angkot di Jakarta

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah Angkot menunggu penumpang di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Kamis (5/8/2021).  Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah Angkot menunggu penumpang di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Kamis (5/8/2021). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Pekan ini Dinas Perhubungan DKI Jakarta akan mengeluarkan petunjuk pelaksanaan atau juklak pemisahan penumpang pria dan wanita di angkutan kota (angkot). Kebijakan ini sebagai antisipasi pelecehan seksual di angkot.

Sebelumnya kasus pelecehan seksual terjadi di sebuah angkot di kawasan Jakarta Selatan.

Lantas bagaimana mekanisme pemisahan penumpang tersebut?

Dari keterangan Kadishub DKI Jakarta Syafrin Liputo, penumpang perempuan akan diarahkan untuk duduk di baris sebelah kiri angkot tepat di samping pintu. Sedangkan untuk penumpang laki-laki akan duduk di sisi yang berseberangan.

“Untuk angkot di Jakarta tentu layanannya adalah tempat duduknya ada 2 baris yang di sisi kiri dan sisi kanan. Perempuannya di sisi kiri 4 (kursi), laki-lakinya nya 6 (kursi),” kata Syafrin kepada wartawan di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (11/7).

Namun mekanisme pemisahan tersebut tidak mengikat. Posisinya bisa berubah tergantung lebih banyak mana penumpang dalam angkot saat itu. Contohnya jika dalam angkot sudah ada 9 penumpang pria, maka penumpang wanita akan diarahkan untuk duduk di kursi depan.

“Kita harapkan perempuannya akan duduk di depan,” jelas Syafrin.

Kadishub DKI Jakarta Syafrin Liputo di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (11/7/2022). Foto: Haya Syahira/kumparan

Syafrin menjelaskan sopir angkot yang akan mengatur di mana penumpang wanita dan pria akan duduk. Sehingga penumpang pria dan wanita tidak ada yang duduk berdampingan.

Meskipun begitu, ia juga meminta kesadaran penumpang perempuan untuk duduk terpisah dari penumpang laki-laki.

“Kami berharap tidak hanya pramudi, tetapi para penumpang, calon penumpang juga melakukan upaya untuk tidak terjadinya kriminalitas dari sisi pelecehan seksual bagi dirinya,” jelas Syafrin.

“Jika banyak penumpang ternyata mayoritas laki-laki, dia (penumpang perempuan) berusaha untuk tidak duduk di pojok, tapi dia berusaha duduk di dekat pintu atau paling tidak dia minta untuk duduk di depan sopir sehingga jika terjadi sesuatu bisa dipantau pramudi,” tambahnya.

Sopir angkutan Mikrotrans Jak Lingko menggunakan masker dan sarung tangan di era new normal. Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO

Selain memisahkan penumpang, pengawasan juga dilakukan dengan menggunakan CCTV maupun spion yang ada di dalam angkot.

“Untuk seluruh layanan Mikrotrans yang sudah tergabung dengan Jaklingko, itu seluruhnya sudah dipasang CCTV. Kalau yang angkot sudah ada spion di tengah yang di depan, jadi bisa mengawasi,” tuturnya.