Melihat Alat Pembayaran Pakai Sidik Jari Karya Mahasiswa UGM

Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) lintas jurusan yakni Muhammad Fakhri Ghonim dari Elektronika dan Instrumentasi, Tiara Ramadhani dan M. Rakhma Aifil Indira dari Ilmu Aktuaria, Al Farabi Obiansyah dari Teknik Mesin, serta Marcelino Budi Prakasya dari Ilmu Komputer membuat inovasi pembayaran digital berbasis biometrik sidik jari.
Mereka tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Alat ciptaan mereka ini masih berstatus prototipe.
Diberi nama Polpay, alat ini memungkinkan konsumen melakukan transaksi tanpa menggunakan kartu maupun telepon genggam. Alat ini diklaim tetap aman, nyaman, dan efisien.
Alat ini mengintegrasikan sensor sidik jari dengan perangkat Electronic Data Capture (EDC) sehingga memungkinkan pengguna melakukan autentikasi biometrik secara langsung saat bertransaksi.
Data biometrik diproses menggunakan teknologi edge computing dan dienkripsi dengan algoritma Advanced Encryption Standard 256-bit (AES-256) sebelum dikirimkan ke server melalui protokol SSL/TLS untuk pemrosesan lebih lanjut.
"Kita buat alatnya itu dari masalah tentunya ya di masyarakat. Jadi kita mengkaji dulu sebenarnya masalah apa sih yang ada terutama di pembayaran," kata ketua tim, Tiara, saat ditemui di UGM, Selasa (1/9).
Tiara mengatakan Polpay dapat disediakan oleh toko-toko. Sistem kerjanya, pengguna bisa mendaftar terlebih dahulu ke bank.
"Jadi nanti buat tahu kita tuh saldonya sisa berapa sih, ini tuh bakalan dihubungin ke bank. Makanya ini nanti juga bakalan dimasukin nanti di banknya tuh kita pakai bank apa," ujar Tiara.
"(Pemindaian) sidik jarinya itu bakalan dilakukan dua kali. Buat apa? Buat menjaga kalau misalkan nanti kalau, ini kan banyak banget ya pertanyaan tentang ragam jempol atau jarinya bakalan diambil sidik jarinya. Nah, nanti jadi pengguna itu bakalan daftarin dua sidik jari. Dan sidik jarinya itu bebas, jadi yang tahu tuh cuman pengguna," katanya.
Ketika dibuat massal dan tersedia di toko-toko, pengguna cukup menempelkan dua sidik jarinya untuk membayar barang yang dibeli.
"Nanti dari kasirnya itu bakalan masukin nominal yang harus kita bayar. Nanti udah dimasukin di sini dari aplikasi PolPay-nya. Masukin ke sidik jarinya juga, sama sidik jarinya juga dua kali. Dua kali dan nanti transaksinya bakalan diproses," ujarnya.
Awal Mula Ide Terkumpul
Fakhri menambahkan, latar belakang ini bermula dari banyaknya ide yang terkumpul. Dari banyaknya ide muncullah ide membuat Polpay ini dari ketidaksengajaan.
"Terus ide terakhir itu kita tuh nggak sengaja banget pas tuh dari salah satu teman kita tuh ngomong ke kita kayak, 'eh kayaknya keren deh kalau misalnya kita buat pembayaran kita nggak pakai QRIS tapi cuma pakai sidik jari.' Nah, kita melontarkan ide tersebut lah ke dosen pendamping tadi sama ke kating (kakak tingkat) gitu," kata Fakhri.
Keamanan, kecepatan, dan privasi menjadi dasar dalam pengembangan alat ini.
"Sekarang kan kita udah sering banget kan kita ngegunain kode QR di aplikasi-aplikasi bank gitu kan. Tapi kalau kita membuka aplikasi bank, itu kita kayak 'wah lama banget latensinya.' Terus kita nge-scan juga kita nungguin yang namanya internet," kata Rakhma.
"Nah, internet di sinilah yang jadi problem utama kita. Karena internet yang ada di sini terutama di Indonesia tuh masih naik turun latensinya, sekaligus nggak merata lah, apalagi kita ngomonginnya di luar Jawa," ujarnya.
Rakhma mengatakan, selain QRIS, ada pula penggunaan kartu untuk transaksi. Namun, menurutnya, risikonya adalah skimming.
"Jadi skimming itu istilahnya peretasan data pada kartu. Jadi kalau misal kartu ditaruh di bagian EDC ataupun ditaruh di bagian ATM, itu bisa mengalami peretasan kepada pihak yang tidak bertanggung jawab. Nah, akhirnya dari tiga masalah itu, kita pengin ngebuat sebuah solusi yang terjangkau, sebuah solusi yang tanpa gawai, sebuah solusi yang istilahnya efektif, dan solusi yang kita efisien gitu," bebernya.
Menjaga Keamanan
Marcelino mengatakan, timnya menerapkan komunikasi yang aman seperti SSL/TLS dan juga menerapkan enkripsi seperti untuk mencegah terjadinya pencurian data atau penyadapan data di tengah jaringan transmisi.
"Lalu untuk meningkatkan privasi, salah satunya adalah dengan tidak menyimpan data secara mentah seperti yang tadi saya sebut. Menggunakan gambar mentah secara langsung dan disimpan di database tuh bukanlah solusi yang membawa privasi. Tapi dan untuk membawa privasi tersebut, kami menyimpannya dalam bentuk template terenkripsi," katanya.
Lalu bagaimana jika ada orang yang tak bertanggung jawab menjiplak sidik jari dan urutannya? Tim telah mempersiapkan verifikasi OTP yang bersifat dinamis.
"Jadi akan berganti setiap harinya. Dan yang bisa membuka PIN kode tersebut hanyalah si pengguna tersebut di HP-nya masing-masing. Itu jika dibutuhkan kalau misalkan ada suatu hal yang memang tidak sewajarnya atau tidak normal," pungkasnya.
