Melihat Blok M yang Kian Bergeliat, Percontohan Placemaking sebelum Kota Tua

Ramai namun tenang, begitu deskripsi tentang Taman Literasi Martha Tiahahu di kawasan Blok M saat kumparan mengunjunginya pada Rabu (9/9/2026) sore.
Di sekitarnya, lalu-lalang pengunjung membuat lokasi itu begitu hidup. Sastia, karyawan 31 tahun, jadi salah satu orang yang sedang ada di taman terkenal itu.
Sastia mengaku sering menghabiskan waktunya di kawasan Blok M karena lokasinya yang strategis. Menurutnya, Blok M punya daya tarik magis tersendiri.
“Menyenangkan dan seperti selalu follow the hype gitu, di sini ada semua, dari kuliner, komunitas anak muda, sampai kajian majelis keagamaan juga ada," katanya.
Dia yang sejak lahir tinggal di Kota Metropolitan ini, melihat sendiri transformasi Blok M dari masa ke masa.
Sementara di sisi lain taman tersebut, ada Miftah dan Dion, pemuda asal Tangerang yang sengaja datang ke sana pada sore itu. Dion tampak menyalurkan hobinya sebagai fotografer di taman yang kini jadi salah satu ikon kawasan Jaksel tersebut.
“Di sini banyak spot foto. Terus juga tadi saya lihat banyak orang juga nge-dance, mungkin itu hobi mereka,” katanya.
Kalau Dion, mengakui dirinya sangat menikmati suasana di sana, bercengkrama dengan teman-temannya dengan segelas es kopi di tangan.
“Buat duduk-duduk adem, aksesnya gampang, tempat parkir juga oke,” kata mereka.
Sastia, Miftah dan Dion hanya sebagian kecil dari pengunjung Blok M setiap harinya. Bergeliatnya kawasan Blok M adalah salah satu hasil pengembangan konsep placemaking yang diinisiasi oleh PT MRT Jakarta.
Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, Samuel Ryan Pradipta, mengungkap konsep placemaking adalah upaya menghadirkan ruang untuk mengekspresikan diri warga Jakarta usai menjalankan aktivitas masing-masing.
Namun, Samuel menyebut bahwa konsep placemaking tak sekadar hanya membuat atau menyediakan ruangnya, tapi juga mengelolanya dengan tepat.
“Jadi kalau mau disingkat, placemaking adalah bagaimana sebuah tempat itu bisa dikasih ‘soul’-nya, jiwanya apa nih tempat ini? Supaya orang akan selalu ingat, setiap mau melakukan aktivitas akan pergi ke tempat itu,” kata Samuel di Wisma Nusantara pada Rabu (9/9).
Sebuah kawasan bisa dibilang jadi placemaking yang sukses jika memenuhi beberapa prinsip. Samuel menyebut prinsip-prinsip tersebut antara lain adalah mudah dijangkau dengan berbagai akses transportasi; adanya fasilitas yang nyaman, aman, bersih; tersedianya kegiatan yang menarik; serta adanya ruang berkumpul untuk saling berinteraksi.
Dengan begitu, diharapkan, akan tumbuh keterikatan emosional antara masyarakat Jakarta dan kawasan. Ruang yang mati atau kurang optimal pun pada akhirnya bisa jadi pusat kegiatan sosial yang dinamis.
“Wah saya udah berapa minggu nih gak ke sana, udah kangen sama tempatnya. Itu yang sebetulnya dibangun, supaya ada keteringatan antara masyarakat dengan tempatnya,” ungkap Samuel.
Keterlibatan Komunitas
Samuel menambahkan, mulusnya transformasi Blok M juga dipengaruhi oleh keterlibatan komunitas-komunitas sekitar. Katanya, ini penting untuk menghindari penolakan-penolakan setelah pengembangan berjalan.
“Misalnya untuk Blok M itu kami membuat sayembara desain. Jadi melibatkan komunitas, masyarakat, bahkan mitra bisnisnya, akhirnya berhasil direvitalisasi,” katanya.
Menurutnya, kini pengembangan placemaking akan terus dilakukan. MRT Jakarta juga akan mulai fokus merancang konsep placemaking untuk kawasan Kota Tua.
"Jadi kami sebetulnya baru setengah jalan untuk revitalisasi Blok M, konsep ini nanti akan diterapkan di Kota Tua juga. Harapannya Jakarta dan area TOD MRT akan semakin liveable dan loveable,” kata Samuel.
