Melihat Hidup Baru Pengungsi Rohingya di Pekanbaru: Ada Sekolah hingga Pasar

Suara anak-anak terdengar di antara rumah-rumah sederhana di sebuah kompleks tempat pengungsi Rohingya tinggal di Pekanbaru, Riau.
Mereka berlarian dan bermain bersama. Ada yang bercanda dengan teman sebaya, ada pula yang sekadar menghabiskan waktu di sekitar tempat tinggal mereka.
Sekilas, suasananya seperti sebuah kampung yang sedang menjalani hari biasa.
Di antara aktivitas itu, warga berjualan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada pasar, warung, tukang cukur rambut hingga pedagang es. Warga keluar-masuk rumah dan berinteraksi satu sama lain.
Namun, ada yang membuat lingkungan ini berbeda.
Sebagian besar warga di kompleks tersebut masih menggunakan bahasa Rohingya dalam percakapan sehari-hari. Tidak banyak yang bisa berbahasa Indonesia. Sebagian lainnya dapat menggunakan bahasa Melayu, sementara sebagian kecil mulai belajar bahasa Indonesia meski belum fasih.
Keterbatasan bahasa itu tidak terlalu terlihat ketika mereka berbicara satu sama lain. Percakapan mengalir dalam bahasa yang mereka kenal sejak dari tempat asal.
Rumah-rumah mereka juga jauh dari gambaran rumah permanen. Sebagian besar bangunan dibuat menggunakan kayu dan terpal. Bentuknya menyerupai tenda-tenda darurat, tetapi jumlahnya cukup banyak hingga membentuk sebuah lingkungan tempat tinggal.
Di sela-sela rumah tersebut, aktivitas warga tetap berjalan.
Anak-anak tetap bermain. Orang dewasa mengurus kebutuhan sehari-hari. Warung tetap melayani pembeli. Pedagang es berkeliling atau menunggu pembeli. Tempat cukur rambut juga menjadi bagian dari aktivitas di lingkungan tersebut.
Kehidupan di sana terasa komunal. Warga banyak beraktivitas bersama dan saling mengenal satu sama lain. Lingkungan yang terbentuk bukan sekadar tempat untuk tinggal sementara, tetapi telah menjadi ruang hidup bagi mereka selama bertahun-tahun.
Salah satu pengungsi, Muhammad, mengatakan dirinya telah tinggal di lokasi tersebut selama sekitar tiga tahun.
Ia menyebut terdapat sekitar 130 rumah di kawasan itu.
"Di sini ada sekitar 130 rumah," kata Muhammad saat ditemui wartawan di kompleks pengungsian Rohingya, Pekanbaru, Riau, Selasa (15/9).
Pengungsi lainnya, Abdullah, menyebut sekitar 570 orang tinggal di sekitar 130 rumah tersebut.
Jumlah anak-anak di lingkungan itu juga tidak sedikit. Faruk, salah satu pengungsi, mengatakan terdapat sekitar 200 anak.
Aktivitas anak-anak tidak hanya bermain. Menurut Faruk, terdapat sekolah dan madrasah di lingkungan mereka.
"Ada dua sekolah, madrasah untuk Al-Quran dan masjid," ujar Faruk.
Masjid menjadi salah satu ruang penting bagi komunitas tersebut. Begitu juga sekolah yang menjadi tempat anak-anak belajar.
Di tempat lain, kehidupan mereka juga bersentuhan dengan warga sekitar. Faruk mengatakan sebagian warga bekerja sebagai buruh bangunan.
"Ada yang kerja bangunan, misalnya dekat Ramayana," katanya.
Namun, kehidupan mereka tetap berada dalam keterbatasan. Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru Adrianus Tonny Budijaya mengatakan pengungsi di wilayah kerja Rudenim Pekanbaru mencapai sekitar 1.941 orang.
Mereka tersebar di tujuh lokasi akomodasi dan satu tempat penampungan sementara.
"Itu rata-rata Rohingya semua," kata Tonny saat ditemui di Kantor Rudenim Pekanbaru.
Menurut Tonny, para pengungsi Rohingya berada dalam perlindungan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Urusan Pengungsi atau United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan mendapat fasilitasi dari International Organization for Migration (IOM).
Pantauan kumparan di salah satu lokasi memperlihatkan fasilitas yang disediakan untuk kebutuhan dasar pengungsi. Salah satunya toilet yang disediakan oleh IOM.
Di tengah keterbatasan itu, aktivitas warga tetap berjalan.
Tidak ada pagar yang membatasi anak-anak untuk bermain bersama. Tidak ada bahasa yang harus dipaksakan ketika mereka berbicara dengan sesama. Bahasa Rohingya masih menjadi bahasa yang paling akrab bagi sebagian besar mereka.
Bagi sebagian pengungsi, Indonesia telah menjadi tempat tinggal selama bertahun-tahun.
Abdullah mengatakan mereka datang untuk mencari keamanan. Ia menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang mereka pilih karena mayoritas penduduknya Muslim.
"Kita cari keamanan. Sebelum di sini dipilih yang negara Islam. Dan juga Indonesia negaranya Islam. Kalau mau cari, keamanan di sini lebih bagus dari pada negara lain, tujuannya sini, Indonesia," kata Abdullah.
Di kompleks itu, rasa aman tersebut terlihat dalam bentuk yang sederhana. Anak-anak yang masih bermain, orang dewasa yang bercakap-cakap, warung yang tetap buka, dan warga yang menjalani aktivitas bersama.
Di balik rumah-rumah kayu dan terpal, kehidupan mereka terus berlangsung dari hari ke hari.
