Melihat Inovasi Pertanian Melalui Bank Tani di Desa Bulusari, Banyuwangi

kumparanNEWSverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bank Tani di Desa Bulusari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Foto: Dok. Pemkab Banyuwangi
zoom-in-whitePerbesar
Bank Tani di Desa Bulusari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Foto: Dok. Pemkab Banyuwangi

Salah satu desa di Banyuwangi berinovasi di bidang pertanian demi meningkatkan kesejahteraan petani, dengan mendirikan Bank Tani.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pun mengapresiasi inovasi ini. Ia secara langsung meresmikan Bank Tani yang terletak di Desa Bulusari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Senin (30/11) sore.

Anas pun berharap Bank Tani ini akan berkembang dan memberikan manfaat bagi para petani. Bahkan bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain.

“Pemda akan senantiasa mendukung inovasi yang untuk mendorong kesejahteraan petani di daerah. Semoga bank tani bisa dimplementasikan denga baik, sehingga nantinya apabila sudah sukses di Desa Bulusari bisa diduplikasi di desa-desa lainnya,” harap Anas.

Dalam kesempatan yang sama, Camat Kalipuro Hendry Suhartono menjelaskan Bank Tani yang dikembangkan tersebut memiliki konsep agribisnis pertanian, dengan melayani simpan pinjam produk pertanian hingga pemberdayaan petani desa setempat.

“Simpan pinjam yang dilakukan di Bank Tani ini nantinya bukan simpan pinjam uang sebagaimana bank pada umumnya. Tapi Bank Tani memberikan pinjaman berupa produk yang menjadi kebutuhan pertanian seperti puput, bibit hingga alat-alat pertanian seperti sprayer, traktor dan sebagainya,” jelas Hendry.

“Kalau butuhnya pupuk ya pengajuan ke banknya pupuk, cairnya pupuk. Lalu kalau butuhnya bibit ya pengajuannya bibit, cairnya juga berupa bibit, yang pasti bukan dalam bentuk uang. Cara ini menjamin pinjaman petani digunakan sesuai kebutuhan, tidak untuk kebutuhan lainnya,” lanjut Hendry.

Bank Tani di Desa Bulusari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Foto: Dok. Pemkab Banyuwangi

Sementara itu, Kepala Desa Bulusari Mukhlis menjelaskan selama ini desanya tidak memiliki pasar sebagai tempat bertransaksi warga menjual dan membeli hasil bumi. Imbasnya, banyak hasil panen warga tidak terdistribusikan dengan baik dan seringkali dimanfaatkan tengkulak.

"Pemdes melalui BUMDes akhirnya bergerak mendirikan Bank Tani. Bank ini akan memberikan pinjaman kepada warga sesuai yang dibutuhkan. Selain itu, juga siap menampung hasil panen warga sesuai harga pasar," kata Mukhlis.

Kasi Pemberdayaan dan Kesra Kecamatan Kalipuro, Eko Mulyanto, yang juga pencetus Bank Tani ini mengatakan, nantinya Bank Tani tidak hanya sekadar memberikan pinjaman saja tapi juga arahan dan pendampingan budidaya tanaman pertanian yang baik dan benar bagi petani.

“Jadi misalkan ada petani yang minta bibit jagung, padahal beberapa bulan ke depan prospek jagung sedang tidak bagus, maka bank tani akan memberikan alternatif dan pandangan untuk menanam bibit yang lain misalnya pisang atau lainnya yang prospeknya bagus,” terangnya.

Bank Tani di Desa Bulusari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Foto: Dok. Pemkab Banyuwangi

Uniknya lagi, saat pengembalian pinjaman, petani juga membayarnya dengan produk pertanian.

“Jadi untuk membayar pinjaman tadi, petani juga membayar dengan produk pertanian jadi bisa diistilahkan barter. Bisa dengan padi, kelapa atau bahkan sayur mayur. Atau kalau punya ternak ayam, bisa juga membayar dengan ayam,” terang Eko.

Lalu, dari mana Bank Tani bisa mendapatkan dana pengadaan produk pinjaman kebutuhan petani hingga pengembangan usaha?

Eko menjelaskan ada sejumlah skema. Salah satunya, sebagai modal awal Bank Tani mendapatkan dana penyertaan dari BUMDes.

"Bank Tani juga mengembangkan lahan pertanian. Selain sebagai pemasukan, juga untuk memberdayakan petani yang tidak memiliki tanah. Saat ini lahan yang siap diolah merupakan tanah kas desa seluas 3,7 hektar," jelas Eko.

kumparan post embed