Melihat 'Masjid di Atas Awan' Warisan Dakwah Sunan Muria Berusia 4 Abad
·waktu baca 2 menit

Terletak di puncak Gunung Muria, Masjid Sunan Muria dikenal sebagai masjid di atas awan karena berada di ketinggian 854,41 meter di atas permukaan laut (MDPL). Masjid itu menyimpan sejarah era Sunan Muria kala menyebarkan Agama Islam.
Masjid Sunan Muria berada di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, Mastur, mengatakan dahulunya masjid berada di tengah hutan belantara. Kondisinya masih sepi dan jalannya berupa jalan setapak.
”Masjid Sunan Muria perkiraan dibangun pada abad ke-16. Sampai tahun 1960-an di kawasan sekitar masjid masih berupa jalan setapak,” katanya, Kamis (19/2).
Mastur menjelaskan, ada bukti masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1.500-an atau 1.600-an. Hal ini mengacu pada adanya artefak di kayu jati yang tertera tanggal 4, bulan 4, tahun 1.660.
”Masjid ini didirikan oleh Sunan Muria. Beliau berdakwah menyampaikan syiar Agama Islam,” ujarnya.
Masjid Sunan Muria, menurutnya merupakan masjid dengan lokasi tertinggi di Kabupaten Kudus. Banyak yang menganalogikan Masjid Sunan Muria bak berada di atas awan.
”Lokasi letak masjid di puncak Pegunungan Muria memang menjadikan masjid ini seakan berada di atas awan,” terangnya.
Saat ini, Masjid Sunan Muria masih digunakan untuk salat lima waktu. Selain itu juga digunakan untuk salat Jumat.
”Kapasitas masjid saat ini bisa menampung 300 jemaah,” terangnya.
Di Masjid Sunan Muria ini terdapat beberapa peninggalan dari Sunan Muria. Di antaranya tempat imam, mustaka masjid, tongkat Sunan Muria, keris, pelana kuda, dan gentong air.
”Ada juga peninggalan tak benda beliau berupa ajaran Pager Mangkok. Yakni jangan memagari rumah dengan dinding tetapi dengan mangkok berisi makanan,” ucapnya.
Ajaran ini mengajak masyarakat untuk bersedekah. Berbagi ke tetangga sehingga hidup menjadi aman dan nyaman.
”Ajaran pagar mangkok ini sebagai cara untuk bersedekah,” imbuhnya.
