Melihat Masjid Lama Gang Bengkok: Bukti Toleransi Beragama di Medan

Masjid Lama Gang Bengkok, Kesawan, Medan, menjadi salah satu tempat wisata bernilai sejarah di Kota Medan. Masjid tersebut menempati posisi kedua sebagai masjid tertua di Medan setelah Masjid Al-Osmani.
Selain itu, jika diperhatikan nama masjid ini juga terbilang unik. Nama Masjid Lama Gang Bengkok diambil dari sebuah gang yang menikung di depan masjid tersebut. Kini gang tersebut sudah diperbaiki dan diperlebar. Gang tersebut bernama Jalan Ahmad Yani.
Awalnya, masjid ini merupakan sebuah surau atau langgar dengan bangunan sederhana. Kemudian pada 1.885 Masehi, surau tersebut dibangun menjadi sebuah masjid oleh seorang dermawan berkebangsaan Cina, Tjong A Fie.

Dalam membangun masjid tersebut, Tjong A Fie bekerjasama dengan Muhammad Ali, tokoh masyarakat sekitar yang terkenal dengan sebutan Datuk Kesawan. Ali merupakan pemilik tanah wakaf masjid tersebut.
Masyarakat menganggap Masjid Lama Gang Bengkok adalah bukti toleransi antarsuku dan umat beragama di Kota Medan. Setelah dibangun oleh Tjong A Fie, masjid tersebut diserahkan ke Sultan IX Deli, Makmun Al Rasyid Alamsyah Perkasa.

Kini masjid tersebut dikelola dan diurus oleh Muchlis (58). Muchlis merupakan generasi keempat dari Syekh Muhammad Yaqub, seorang penasehat Sultan Makmun.
”Tatkala itu Sultan Makmun menyerahkan kepada atuk kami (Syekh Muhammad Yaqub) untuk mengurus mesjid lama gang bengkok ini,” ujar Muchlis di lokasi, Jumat (18/5).

Pria yang telah mengabdikan diri mengurus masjid selama 20 tahun tersebut mengatakan, pengunjung masjid biasanya didominasi oleh orang-orang lokal. Namun tak jarang, ada beberapa turis asing yang datang untuk melihat arsitektur bangunan masjid dan sejarah masjid.
Muchlis menjelaskan, arsitektur masjid ini merupakan kombinasi dari beberapa kebudayaan, seperti Cina, Melayu, dan Persia.
"Itu atap bentuknya menyerupai kelenteng. Kemudian juga ada Melayu dengan simbol lebah bergantung khas Melayu. Kemudian juga ada dari Persia, salah satu simbolnya yaitu lingakaran awalan tanpa akhir yang ada di dekat plafon bagian dalam masjid," jelas Muchlis.

Selain itu, Muchlis menjelaskan warna bangunan masjid sama sekali tidak diubah sejak dahulu. Warna yang didominasi kuning dengan sedikit guratan hijau ini tetap dijaga untuk tetap menggambarkan ciri khas masjid yang telah 4 kali direnovasi itu.

Renovasi sempat dilakukan pada bagian atap. Dulunya atap masjid menggunakan seng kemudian diganti dengan baja ringan. Dinding sebelumnya hanyalah semen kemudian diganti dengan marmer. Selanjutnya, lantai yang dulu menggunakan porselen diganti dengan granit.
"Meskipun dilakukan pergantian tapi tidak mengurangi ciri khas Mesjid Lama Gang Bengkok. Jadi perubahan bentuk engga ada," pungkas Muchlis.
