Melihat Pagar Stasiun Cawang yang Kini Tertutup: Bikin Rapi, Tapi Pedagang Rugi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tampak belakang pagar pembatas yang sudah ditutupi plastik fiber di Stasiun Cawang, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Tampak belakang pagar pembatas yang sudah ditutupi plastik fiber di Stasiun Cawang, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Deru kereta datang dan pergi bersahutan di peron Stasiun Cawang, Jakarta Selatan, Senin (27/4). Di tengah keramaian penumpang, ada satu perubahan yang kini mencolok: pagar pembatas yang tak lagi sekadar jaring besi, melainkan tertutup lembaran plastik fiber berwarna putih.

Penutup itu tidak membentang sepenuhnya. Hanya setengah bagian yang kini tertutup rapat, sementara sisi lainnya masih mempertahankan bentuk lama, jaring besi yang memungkinkan pandangan tembus ke luar.

Dulu, di balik jaring besi itu, ada interaksi yang terbangun antara penumpang dan pedagang kaki lima di sekitar stasiun. Penumpang yang menunggu kereta di peron bisa curi waktu untuk jajan.

Kondisi pagar pembatas yang ditutupi plastik fiber di Stasiun Cawang, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Kondisi pagar pembatas yang ditutupi plastik fiber di Stasiun Cawang, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Roni (43), pedagang yang telah berjualan di area belakang stasiun sejak 1999, mengingat betul bagaimana perubahan itu terjadi. Menurutnya, perubahan itu terasa tiba-tiba.

"Emang dari dulu emang udah dagang di sini, ya kan, udah lama. Emang nggak ada penutupan-penutupan gini, ya kan, dari dulu,” ujar Roni saat ditemui kumparan di lokasi, Senin (27/4).

"Cuman secara mendadak, secara sepihak lah gitu kan, nggak ada ini langsung ditutup jebret,” lanjutnya.

Sejak penutupan dimulai, dampaknya kini sudah terasa. Akses pembeli dari dalam stasiun terputus. Interaksi yang sebelumnya terjadi lewat celah pagar kini hilang.

"Anjlok lah penjualan, ya kan, hampir 40 persenan,” kata Roni.

Roni, pedagang yang berjualan di belakang Stasiun Cawang, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Bahkan, sejumlah pedagang yang biasa berjualan di pagi hari memilih berhenti sama sekali.

"Apalagi yang pagi, yang nasi pagi tuh, di sini kan ada nasi kuning, nasi uduk, kue pukis, nasi kuning, nasi kebuli di situ. Udah nggak dagang lagi. Dari Selasa kemarin tutup, siang, nah masangnya juga siang jam 11, nah terus jam 11. Nah pagi tuh pagi, Rabu udah nggak ada jualan,” jelas Roni.

Bagi Roni, perubahan ini bukan sekadar soal fisik pagar, melainkan hilangnya ekosistem kecil yang sudah terbentuk bertahun-tahun.

"Jadi, ya udahlah, mati pokoknya UMKM baru udah mati,” tutur dia.

Ia pun menceritakan bagaimana pelanggan datang dari berbagai arah—bahkan rela menyeberang peron hanya untuk membeli makanan.

"Banyak kadang-kadang dari kereta ini kereta banyak yang dari, Alhamdulillah banyak pelanggan dari Kota nih ya, dari Kota turun di Bogor nih, seberang. Kadang nyeberang dulu ke sini. Beli, beli, tau nyeberang lagi, naik lagi,” kata Roni.

Tak jarang, ada juga yang menjadikan tempat itu sebagai titik singgah sebelum melanjutkan perjalanan.

"Nah orang mau naik kereta juga nih lewat, wah masih penuh kan, seberang kan penuh nih kalau hari-hari jadi sore ya kan, ada nunggu dulu di sini, 'wah masih penuh,' ya kan. Udah nunggu kosong dulu, kadang makan dulu di sini gitu entar kalau udah ngelongok baru naik,” ungkapnya.

Pedagang: Tak Apa Ditutup, tapi Pakai Bahan Transparan

Penutupan pagar ini menghadirkan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, area stasiun terlihat lebih tertata. Tidak ada lagi aktivitas jual beli yang menumpuk di satu titik. Alur penumpang juga tampak lebih bersih.

Namun di sisi lain, ruang interaksi yang selama ini hidup di celah pagar ikut menghilang. Bukan hanya bagi pedagang, tetapi juga bagi penumpang yang terbiasa menjadikannya titik singgah.

Kondisi pagar pembatas yang ditutupi plastik fiber di Stasiun Cawang, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Roni menyebut, pelanggan kerap bertanya setelah perubahan itu terjadi.

"Pasti kadang banyak juga model pelanggan sini ya kan pada nanya gitu kan, 'Ini kenapa ditutup? Kenapa ditutup?'," ungkap Roni.

Ia berharap, jika memang penutupan harus dilakukan, setidaknya dengan bahan yang transparan. Sehingga, pelanggan yang biasa jajan dari dalam tetap mengetahui bahwa mereka tetap membuka dagangan.

"Ya kalau minta kita sih, minimal transparan lah. Masih bisa lihat, masih lihat yang dagang nih. Kan dia bisa keluar mutar gitu. Kadang kan yang naik KRL kan keluar tuh keluar loket kan bisa ke sini dulu,” ujar Roni.

“Kalau ini kan nggak bisa ngelihat, jadi ‘ah takutnya nggak dagang’. Terus kan kalau dari sono ke sini kan lumayan jalan, jauh kan. Takutnya ‘ah tutup, nggak ada, mending pulang aja sekalian dah’,” sambung dia.

Menurutnya, penutupan ini juga berdampak pada hal-hal kecil yang sebelumnya tak terlalu terlihat. Roni menyebut, anak-anak yang biasa datang untuk sekadar melihat kereta kini kehilangan akses.

"Yang kasian ini, yang kasian yang anak kecil. Anak kecil kan kadang-kadang ke sini nih mau makan, ya kan, makan bawa makanan, buat makan bawa liat kereta gitu kan,” jelas Roni.

Ia menggambarkan bagaimana beberapa anak bahkan mencoba mencari celah.

"Udah nangis, kadang nunduk-nunduk dari bawah gitu kan, pengin lihat kereta doang ke sini gitu kan,” tuturnya.

“Ya sekarang kadang-kadang ada yang maksa pengin lihat kereta, naik ke atas gitu lihat kereta doang,” sambung dia.

Penumpang: Terlihat Rapi, tapi Pedagang Kasihan

Kondisi pagar pembatas yang ditutupi plastik fiber di Stasiun Cawang, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Bagi sebagian penumpang, area itu dulu bukan sekadar jalur lewat, melainkan ruang singgah singkat. Ocha (26), karyawan swasta yang rutin transit di Stasiun Cawang, mengaku sering melihat aktivitas jual-beli di sana.

Ia menuturkan, banyak penumpang yang memanfaatkan waktu tunggu untuk membeli makanan ringan.

"Dagang sih nggak banyak cuma emang lumayan sih. Jadi orang-orang tuh biasanya kalau nunggu, kan ada yang balik Manggarai, itu biasanya suka, suka jajan di sini,” kata Ocha.

Namun, ia merasa suasana stasiun menjadi lebih rapi semenjak pagar itu ditutup.

"Kalau aku pribadi sih, jadi terlihat lebih rapi sih. Karena apa namanya, kan kemarin-kemarin tuh kayak semrawut banget,” tutur dia.

Hal serupa disampaikan Rian (27), pengguna KRL lainnya. Ia mengakui perubahan visual yang terjadi.

"Ya kalau dari aku sih ya lebih rapi sih kelihatannya karena putih, pas aja gitu sama pagarnya,” kata Rian.

Tampak belakang pagar pembatas yang sudah ditutupi plastik fiber di Stasiun Cawang, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Meski demikian, ia juga melihat sisi lain yang ikut terdampak, yakni para pedagang.

"Cuma kalau misalnya kita lihat kan itu sebenarnya pedagangnya kan jualan di situ juga biar nyari nafkah tambahan ya,” ujar Rian.

“Jadi lebih rapi, tapi ya lagi-lagi emang bener pedagangnya jadi kasihan. Apalagi bener-bener jadi berkurang banget tuh kayaknya yang mau beli-beli dagangan abang-abang, karena kan itu yang ditutup persis banget tuh yang di sela yang ada space buat dagangnya,” sambung dia.