Melihat Pameran Karya Seni Henk Ngantung: Saksi Bisu Proklamasi Kemerdekaan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Koleksi karya seni Henk Ngantung yang dipamerkan untuk memperingati HUT ke-80 RI di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi karya seni Henk Ngantung yang dipamerkan untuk memperingati HUT ke-80 RI di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, goresan tangan Henk Ngantung terpampang rapi. Karya itu membuka kembali lembaran sejarah bangsa.

Pameran ini resmi dibuka oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha. Tujuannya untuk menampilkan karya sang seniman legendaris sekaligus mantan Gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965 itu dalam rangka memperingati HUT ke-80 RI.

Fadli Zon menekankan, karya Henk Ngantung tidak hanya bernilai seni, tetapi juga menjadi bagian penting sejarah bangsa. Ia menjelaskan peran Henk dalam pembangunan monumen di Jakarta.

“Pada sore hari ini kita membuka satu pameran seni dan diplomasi karya-karya dari seorang perupa Indonesia yang juga pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta tahun 1964-1965, sebelumnya Wakil Gubernur tahun 1960-1964, yaitu Henk Ngantung,” ujar Fadli usai meresmikan pameran, Sabtu (16/8).

Koleksi karya seni Henk Ngantung yang dipamerkan untuk memperingati HUT ke-80 RI di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

“Henk Ngantung ini juga membuat monumen-monumen waktu itu bersama atas instruksi dari Presiden Sukarno sehingga kita ada monumen-monumen yang kita lihat sekarang di Jakarta, antara lain Monumen Selamat Datang,” lanjutnya.

Selain itu, Fadli menjelaskan karya Henk Ngantung juga menjadi saksi sejarah perundingan penting bangsa. Sketsa-sketsa yang dibuatnya menangkap ekspresi tokoh-tokoh seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir saat Perundingan Linggarjati, Renville, dan Kaliurang.

“Jadi kita memperkenalkan seorang perupa yang terutama terkenal karena sketsa-sketsanya. Sketsa-sketsa Henk Ngantung yang dilakukan itu langsung di depan orang yang bersangkutan,” jelas Fadli.

“Selain merekam peristiwa, juga ekspresi-ekspresi dari tokoh-tokoh bangsa Indonesia ketika itu Sukarno, Hatta, Sjahrir, masih banyak lagi tokoh-tokoh yang disketsa dan juga peristiwa dan bagaimana mereka berunding,” tambahnya.

Putri dari Henk Ngantung, Geni Ngantung, menjelaskan pameran ini menampilkan karya asli maupun reproduksi, tergantung koleksi yang ada. Beberapa lukisan dan sketsa kini berada di museum atau kolektor pribadi.

Putri dari Gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965 sekaligus pelukis legendaris Henk Ngantung, Geni Ngantung, di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

“Seperti itulah sketsa maupun lukisan, tapi mungkin yang sudah direpro (direproduksi) ya, karena sudah lama kan kejadiannya itu, dan lukisan dan sketsanya sudah banyak yang berada di kolektor. Jadi ini bisa dilihat tadi, koleksi sketsa mengenai perjuangan melalui goresan sketsa Pak Henk Ngantung,” ujarnya.

Ia menambahkan karya yang dipamerkan dipilih sesuai tema kemerdekaan, sehingga tidak semua karya ditampilkan.

“Ya, mungkin sesuai dengan temanya mereka, jadi dipilih yang berkaitan dengan proklamasi merebut kemerdekaan,” tutur Geni.

Geni menceritakan salah satu kisah menarik terkait lukisan berjudul "Pemanah" adalah keterlibatan Presiden Sukarno saat proses pembuatannya.

“Gambar itu sebenarnya belum selesai waktu dipamerkan. Lalu dibawa pulang kembali oleh Bapak saya ke studionya. Dan kebetulan Pak Henk itu berteman baik dengan Pak Sukarno saat itu. Dan Pak Sukarno waktu itu sedang bermain berkunjung ke studionya. Beliau melihat lukisan tersebut dan ingin membeli. Tapi ayah saya bilang, katanya itu belum jadi. Belum terlalu jadi karena di tangannya itu mungkin masih ada kekurangan,” ujar Geni memulai ceritanya.

Koleksi karya seni Henk Ngantung yang dipamerkan untuk memperingati HUT ke-80 RI di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

“Ya sudah, dengan spontanitas Pak Sukarno langsung buka baju dan jadi modelnya. Dan itu setelah selesai langsung dibawa. Langsung dibawa ke rumahnya, ya, di Proklamasi. Sampai akhirnya tercetus Proklamasi. Gambar itu masih ditaruh menjadi saksi bisu tadi, kan. Yang Pak Fadli Zon bilang dia saksi bisu pembacaan pernyataan proklamasi bagi bangsa Indonesia,” sambung dia.

Geni pun menambahkan, Henk Ngantung juga sangat rapi dalam mendokumentasikan karya-karyanya. Beliau selalu membuat arsip sebelum menyerahkannya ke museum atau kolektor.

“Jadi kalau Bapak dulu sebelum diserahkan ke negara atau ke museum, itu Bapak bikin dokumentasi dulu sebagai arsipnya. Jadi kita hanya pegang repro,” ujar Geni.

Menurut Geni, sosok Henk Ngantung adalah pribadi sederhana, pemikir, dan selalu ingin memajukan kota melalui seni.

“Bapak seorang yang sederhana saja, pemikir. Dan selalu mau maju gitu loh. Apa yang terjadi di kota ini tuh biar maju. Dan terutama dia seninya aja. Dia merasa seni itu harus juga ditonjolkan gitu,” kata Geni.

“Seperti ya itu juga yang seperti Presiden Sukarno mau, kan, di mana dari masa kolonial penjajahan, di mana kota masih bertanah merah. Di situlah mungkin Henk Ngantung, dipilih untuk ada titik seninya di kota-kota pusat, ya. Menjadikan kota yang berbudaya,” tambahnya.

Koleksi karya seni Henk Ngantung yang dipamerkan untuk memperingati HUT ke-80 RI di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Geni menyebut, Henk Ngantung juga menata kota dengan dekorasi, termasuk mendirikan pot-pot bunga besar sepanjang jalan protokol untuk menyambut tamu negara.

“Ya, karena dia seorang seniman, ya, jadi dia lewat seni, ya, kan pertama-tama ibu kota ini, kan, masih belum tertata dengan baik, ya, Bapak yang menata di kota itu, di pusat itu. Waktu itu beliau mendirikan pot-pot bunga yang besar di sepanjang jalan protokol, karena Jakarta saat itu sedang giat-giatnya menyambut tamu-tamu negara. Bapak juga kan dulu kan sebagai panitia negara dalam dekorasi kota,” ungkap Geni.

“Jadi memang, kan, dari awalnya, dari sebelum itu juga, sebelum beliau menjabat (menjadi Gubernur), beliau juga memang sudah aktif menjadi panitia, kepala panitia tamu-tamu asing, ya. Jadi tamu-tamu asing itu, jadi Bapak yang suka menata, jadi panitia itu, seksi dekorasi,” lanjutnya.

Pameran ini menjadi kesempatan bagi publik untuk mengenal Henk Ngantung sebagai pemimpin atau seniman yang karyanya merekam momen-momen penting bangsa.