Melihat Pembuatan Tas Kulit Tradisional di Maroko

Apakah Anda memiliki produk-produk dari kulit seperti misalnya sepatu kulit, tas kulit, jaket kulit, atau ikat pinggang? Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana benda-benda tersebut diproses sampai akhirnya bisa sampai ke tangan Anda?
Ternyata proses pembuatan produk-produk kulit tidaklah mudah. Kulit-kulit hewan tersebut diproses di sebuah tempat khusus yang bernama tannery. Salah satu tannery tertua dan terbesar di dunia ada di kota Fes, Maroko. Disinilah kulit-kulit tersebut diproses dan kemudian dikirimkan ke seluruh dunia.
Menemukan tannery di Fes tidaklah mudah. Anda harus melewati gang-gang kecil di pusat kota tua yang berbelok-belok dan naik ke atap sebuah rumah untuk melihat tannery dari atas.
Agar bisa mencapai tempat ini tanpa tersesat, biasanya para pengunjung akan meminta bantuan masyarakat setempat untuk menunjukkan jalan dengan imbalan yang cukup murah. Di atap rumah tersebut, Anda bisa melihat orang-orang bekerja dan warna-warni air rendaman untuk membuat kulit hewan jadi berwarna.

Proses tanning kulit hewan melingkupi proses pembuangan protein secara permanen pada struktur kulit untuk membuatnya tahan lama. Bulu, lemak, garam, dan daging-daging yang masih menempel pada kulit hewan akan dihilangkan terlebih dahulu.
Selanjutnya, kulit hewan direndam di dalam air mulai dari 6 jam sampai 2 hari di dalam air yang mengandung kotoran merpati. Kotoran merpati yang mengandung amoniak berfungsi untuk menghaluskan kulit hewan agar warna yang akan diberikan di tahap selanjutnya dapat terserap dengan baik ke dalam kulit.
Fase-fase di atas adalah tahapan yang dianggap paling berbahaya karena kulit hewan yang sedang dibersihkan ini akan mengeluarkan bau yang sangat busuk dan tersebar kemana-mana. Setelah bersih barulah kulit hewan bisa diwarnai macam-macam sesuai selera dengan menggunakan pewarna kimia maupun tumbuh-tumbuhan.
Bunga poppy digunakan sebagai pewarna merah, indigo untuk biru, henna untuk jingga, kayu cedar untuk warna cokelat, mint untuk hijau, dan saffron untuk warna kuning. Sementara minyak olive digunakan untuk membuat kulit jadi bersinar. Setelah diwarnai, kulit hewan kemudian akan dijemur dan akhirnya dikirimkan ke pengrajin untuk dibuat produk-produk kulit seperti tas atau sepatu.
Sayangnya, ada harga yang harus dibayar untuk menciptkan indahnya kulit tas yang Anda miliki. Bahan kimia dan senyawa organik seperti kromium yang digunakan dalam proses tanning kulit memiliki dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan.
Telah tercatat banyaknya polusi air yang terjadi akibat bahan-bahan kimia dari tannery yang dibuang begitu saja ke selokan. Air yang terpolusi ini pun juga akhirnya mencemari sawah dan tanaman pangan yang tumbuh di atas tanah tersebut.
Keselamatan dan kesehatan para pekerja di tannery juga tidak terlalu diperhatikan. Mereka biasanya tidak menggunakan pelindung apa-apa ketika bekerja yang membuat harapan hidup mereka menjadi cukup pendek. Karena masalah kemiskinan-lah mereka tetap mau mengerjakan pekerjaan tersebut.
Masalah kesehatan yang timbul antara lain asma, masalah penglihatan, dan gangguan pada kulit yang biasanya disebabkan oleh jamur dan bakteri. Anthracene yang digunakan pada proses tanning juga dapat menganggu ginjal. Sementara penggunaan formaldehida dan arsenik dapat mengganggu mata, paru-paru, hati, ginjal, dan kulit.
Bukan hanya pekerja saja yang mendapatkan efek tersebut, namun juga orang-orang yang tinggal di dekat tannery. Karena nyatanya tannery terletak di tengah kota yang berdempetan dengan rumah-rumah penduduk.
Tas kulit memang bagus. Tapi ada baiknya untuk telusuri terlebih dahulu bagaimana barang-barang tersebut dibuat.
