Melihat Penerapan Sistem Jalan Berbayar Elektronik di Singapura

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Electronic Road Pricing. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Electronic Road Pricing. (Foto: Wikimedia Commons)

Macet dan menyebalkan. Mungkin dua kata itu yang menggambarkan situasi ruas jalan di Jakarta saat ini. Kendati demikian, Pemprov DKI Jakarta rupanya tengah melirik sistem jalan berbayar elektronik atau Electronis Road Pricing (ERP) untuk diterapkan di Jakarta.

Dalam mengurai kemacetan, ERP menawarkan skema pembebanan tarif untuk setiap kendaraan yang melintas ruas jalan. Dengan cara seperti itu, pengendara diprediksi dapat menahan diri untuk tidak membawa kendaraan sendiri.

Sementara itu, menurut Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), ERP akan segera diterapkan di Jakarta tahun depan. Nantinya mesin ERP ini akan dipasang di setiap jalan di perbatasan Jakarta, baik itu jalan tol maupun non-tol.

“Peraturan ganjil genap ini kan jangka pendek, sangat pendek. Besok apa yang bisa kita lakukan? Ya itu (ERP). Jadi misal mobil dari Bekasi masuk Jakarta langsung kena tarif. Rencananya tahun depan mulai diberlakukan,” ungkap Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono di Kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat (23/3).

Sebelum rencana tersebut direalisasikan oleh Pemprov DKI Jakarta, nyatanya ERP sudah lebih dahulu diterapkan di Singapura. Singapura bahkan menjadi negara pertama yang menerapkan ERP. Kepada Reuters, Senin (23/10/2017), otoritas Singapura mengatakan penerapan ERP dapan memangkas tingkat pertumbuhan kendaraan yang diizinkan menjadi 0 persen dari saat ini yang mencapai 0,25 persen per tahun untuk mobil dan sepeda motor.

Bagaimana penerapan ERP di Singapura?

Singapura menerapkan sistem ERP pada September 1998. Meski sebetulnya cikal bakal ERP sudah dilakukan secara manual sejak 1975. Di Singapura, ERP adalah upaya mengelola kemacetan jalan berdasarkan prinsip pay as you use (bayar seharga yang kamu pakai)..

Di Singapura, ERP diterapkan untuk meminimalkan volume kendaraan di pusat bisnis dan perkantoran Central Bussines District (CBD), di pusat wisata dan Orchard Road, serta jalan tol utama.

Dilansir dari laman pengelola ERP Singapura, Land Transpport and Authority (LTA), disebutkan bahwa harga yang harus dibayar oleh pengendara untuk melintasi jalan ERP sangat tergantung pada kondisi lalu lintas setempat. LTA sendiri mengklaim sistem sepenuhnya otomatis beroperasi 24 jam dan selalu berfungsi dengan baik.

Selain kondisi lalu lintas, harga juga ditentukan oleh kendaraan seperti apa yang dibawa oleh pengedara. Singapura memiliki satuan yang dinamakan Passenger Car Unit (PCU) Sebuah mobil biasa akan dinilai setara dengan 1 PCU, sepeda motor senilai 1,5 PCU, sementara kendaraan berat dan bus bernilai 2 PCU.

Electronic Road Pricing. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Electronic Road Pricing. (Foto: Wikimedia Commons)

Jika pengendara di Indonesia sudah akrab dengan penerapan e-toll di jalan tol, maka ERP di Singapura memiliki cara kerja yang hampir sama. Bedanya, pengendara di Singapura tak mesti berhenti dan menempelkan kartu di palang tol.

Adanya alat pemindai di setiap gerbang ERP, serta in-vehicle unit (IU)yang yang tersemat card-cash di dalam masing-masing kendaraan, menjadikan proses pembayaran serba otomatis. Pengendara cukup melaju seperti biasa, nantinya saldo akan terpotong sendiri.

Layaknya sebuah kartu e-toll, Cash Card un harus diisi ulang secara berkala. Pengendara di Singapura harus rajin mengisi ulang saldo agar bisa melewati ruas jalan. Card-cash dapat diisi ulang di bank maupun SPBU. Nantinya, setiap kali kendaraan dioperasikan, pengendara wajib memasukannya ke dalam IU.

In-vehicle Unit (IU). (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
In-vehicle Unit (IU). (Foto: Wikimedia Commons)

Jika lupa mengisi saldo dan terlanjur melewati gerbang ERP, pengendara tetap bisa melewati jalan tersebut. Meski pengendara itu tercatat secara otomatis oleh sistem, serta akan kena tilang berupa biaya ERP ditambah biaya administrasi sebesar 10 Dolar Singapura dalam waktu dua minggu sejak surat diantar ke rumah pemilik kendaraan.

Adapun sejak Februari 2003, pengendara hanya membayar paling tidak 2 Dolar Singapura ketika melewati sebagian besar jalan yang memiliki gerbang. ERP.

Menariknya lagi, tak selamanya ERP itu diterapkan selama 24 jam. Kadang ada jam-jam tertentu ketika para pengendara dapat melewati jalan ERP tersebut secara lebih murah atau bahkan gratis.