Melihat Tiang Telepon Peninggalan Belanda Berusia 118 Tahun di Depok

Sekilas tampak tak ada yang aneh dan berbeda dengan tiang setinggi sekitar 7 meter yang berdiri di Jalan Kartini, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok ini. Bahkan sadar atau tidak sadar warga atau orang yang melintas di kawasan ini mungkin tidak tahu keberadaan benda ini. Padahal, benda itu merupakan tiang telepon bersejarah yang sudah berusia 118 tahun.
kumparan pada kamis (24/5) mencoba melihat lebih dekat keberadaan benda tersebut. Dari Stasiun KRL Depok Baru butuh waktu sekitar 15 menit menggunakan sepeda motor untuk sampai di Jalan Kartini lokasi tiang tersebut berada. Sulit memang menemukan tiang telepon itu.
Setelah berputar-putar selama 20 menit dan menanyakan kepada warga sekitar bermodal foto dari internet, akhirnya diketahui posisi pasti tiang telepon bersejarah itu.
"Oh ini lokasinya bukan arah ke sini, (Stasiun Depok Lama) mas harus putar balik saya lupa persisnya di mana, tapi coba nanti putar balik saja seingat saya tiang lampu itu berada di kiri jalan," ujar warga tersebut di Jalan Kartini, Depok, Kamis (24/5).

Setibanya di lokasi benar memang tiang tersebut sekilas mirip tiang lampu lalu lintas karena memiliki pengait lampu seperti tiang lampu pada umumnya. Tapi, jika diperhatikan, tiang tersebut memiliki bentuk yang unik. Tiang itu bukanlah tiang lampu, melainkan tiang telepon peninggalan Belanda yang diperkirakan berdiri sejak tahun 1900-an.
Ketua Umum Depok Herittage Comunity Ratu Farah mengatakan, benda tersebut merupakan tiang telepon pertama dan tertua peninggalan Belanda yang dibangun sejak tahun 1900 di Depok.
"Jadi tiang itu merupakan central tiang teleponnya. Jadi kalau ke rumah-rumah warga itu kan ada yang keramik putih itu dulu dibuat kabel yang di atasnya itu tuh yang disalurkan ke rumah-rumah warga," kata Ratu kepada kumparan.

Ratu menambahkan, dulu kabel-kabel dari tiang tersebut terhubung ke rumah warga yang memakai jaringan telepon menggunakan kayu dan bambu sebagai penyangga kabel dari tiang pusat ke rumah warga.
"Jadi untuk pusat kabelnya di tiang itu. Dari situ disalurkan ke rumah warga. Kan dulu Depok enggak seluas sekarang, jadi itu khusus untuk warga di Depok Lama. Nah dari tiang itu disalurkan ke rumah-rumah yang memasang telepon. Nah itu tiap rumah yang masang ditarik kabelnya menggunakan kayu atau bambu untuk tiang teleponnya karena enggak semua orang menggunakan telepon saat itu," tutur Ratu.
Namun, hingga saat ini belum ada literatur dan arsip yang menjelaskan kapan tepatnya tiang telepon itu dibangun, termasuk biaya pembangunan dan kapan terakhir kali digunakan.
Ratu menjelaskan, benda tersebut sudah masuk dalam inventaris cagar budaya sehingga perawatan dan statusnya sama dengan benda-benda cagar budaya lainnya.
"Kita sekarang berupaya untuk aset di Depok itu untuk dijadikan cagar budaya termasuk tiang ini yang masuk dalam daftar inventaris cagar budaya Depok. Cuma memang belum ditetapkan sebagai cagar budaya, cuma tim ahli cagar budaya Jawa Barat kan kemarin bulan Februari tanggal 22-23 sudah observasi," ujar Ratu.

Meskipun sudah diusulkan masuk sebagai cagar budaya, kondisi tiang telepon bersejarah ini tampak tak terurus.
Tiang berukuran 7 meter yang terbuat dari fondasi beton dan tiang besi ini kondisinya benar benar tidak terawat. Besi besi yang menjulang ke atas ditempeli tali rapia dan juga poster poster promisi iklan.
"Saya sebenarnya menyayangkan ya karena sebenarnya itu bisa dijadikan monumen peninggalan sejarah sebagai aset budaya. Memang itu sebetulnya kita sudah coba menyelamatkanya sudah lama juga itu kan tahun 2014 ya itu waktu pelebaran Jalan Kartini mau dipotong, mau dipindahkan, hingga sekarang masih ada di situ," ungkap Ratu.

Ratu menambahkan. masih ada kemungkinan tiang-tiang peninggalan sejarah yang sama dengan di Depok. Sejauh ini baru empat tiang telepon yang teridentifikasi sebagai peninggalan Belanda dapat ditemukan di Indonesia.
"Ternyata kemarin di Subang ditemukan satu lagi oleh tim Ahli Cagar Budaya Jabar. Ketika mereka observasi di daerah Subang menemukan lagi tiang telepon jadi ada empat, satu ada di Depok. Kemudian di Jalan Pasar Jamblang Cirebon ada di dekat pintu kecil daerah Belakang Bank Mandiri Jakarta dan di Subang," pungkas Ratu.
Ironisnya lagi saat mencoba bertanya kepada 5 orang warga sekitar yang berada di dekat tiang tersebut, tidak ada satu pun yang tahu benda tersebut bersejarah. Bahkan pada umumnya mereka mengira benda tersebut merupakan tiang lampu jalan yang rusak atau tiang listrik yang tidak bisa digunakan lagi.
