Melihat Wajah Planetarium yang Alat-alatnya Sudah Berusia 23 Tahun

Ruangan Planetarium di Taman Ismail Marzuki begitu dingin saat dimasuki. Berbeda dari biasanya, saat kondisi normal.
Kata Teknisi Planetarium, Wahyu Hidayat, suhu dingin ini disengaja untuk mencegah overheat dari mesin pemancar bintang M8 Carl Zeiss buatan Jerman.
“Sengaja dingin, biar nggak overheat mesinnya pas jalan,” ujar Wahyu saat ditemui kumparan di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (16/7).
Mesin yang terdiri dari dua partisi, yaitu pemancar bintang yang berbentuk bola dan juga pemancar planet, ternyata sudah 23 tahun bekerja. Pertama kali dipakai di planetarium ini pada tahun 1997.
Hingga saat ini mesin tersebut dirawat dengan teliti dan hati-hati oleh para teknisi. Alasannya, Wahyu menceritakan, karena sudah tidak ada suku cadang baru dari mesin tersebut.
Bila ada kerusakan, ia dan tim teknisi mengandalkan suku cadang bekas yang masih disimpan. Bahkan suku cadang bekas pun dirawat baik-baik oleh tim teknisi.
“Ini (mesin planetarium) kita bersihin. Seminggu sekali kita semprot semua biar nggak ada debu-debu. Kalau kebanyakan debu-debu makin parah dong, ibaratnya kaya merawat bayi ajalah,” ujar Wahyu.
Wahyu menjelaskan, mesin ini bekerja dengan memancarkan proyeksi bintang dan planet di langit-langit planetarium. Nantinya 380 pengunjung akan melihat simulasi diiringi penjelasan dari apa yang sedang ditampilkan. Meski terlihat sederhana, mesin yang memancarkan bintang dan planet tersebut mempunyai mekanikal yang lumayan rumit.
“Kita ngebuka ini (mesin planetarium). Ibaratnya ini gesper, ini kita bersihin semua biar jangan ada debu di dalam. Kalau di sini dibersihin tiap minggu, walaupun di sini kedap udara tetap aja namanya debu naik ke sini,” ungkap Wahyu.
Namun debu bukanlah masalah utama yang dihadapi mesin ini.. Masalah listrik menjadi permasalahan paling sering dihadapi. Apabila listrik kerap mati, hal itu bisa menambah kemungkinan kerusakan lebih cepat.
“Kita semampu kita, misalnya udah mati alatnya enggak ada, kebakar. Kita mau gimana lagi? Paling juga kita moga-moga kalau ada barang dulu yang bekas, tapi masih bagus kualitasnya kita pasang,” ujar Wahyu pasrah.
Planetarium Jakarta menjadi perbincangan belakangan ini karena sejak tahun lalu perwakilan Carl Zeiss Jerman yang ada di Indonesia secara resmi menyatakan tidak akan menjual dan merawat suku cadang kepada Planetarium dan Observatorium Jakarta. Ternyata hal ini karena ada kasus hukum yang sedang berjalan.
