Melihat Wisdom Park UGM yang Viral Usai Pengunjung Ditagih Rp 129 Ribu

Wisdom Park Universitas Gadjah Mada (UGM) viral setelah seorang pengunjung mengeluhkan penagihan tarif sebesar Rp 129.500 saat piknik bersama teman-temannya pada Minggu (11/10).
Pada Rabu (14/10), kumparan mengunjungi tempat yang memiliki nama lengkap Taman Kearifan Wisdom Park tersebut.
Meski pada hari kerja, Wisdom Park tampak cukup ramai dikunjungi masyarakat. Mereka berolahraga, seperti joging, atau bersantai dengan duduk-duduk di atas rumput.
Ruang terbuka hijau milik UGM ini dikelola UGM Residence. Luasnya mencapai enam hektare. Taman ini tidak hanya dikunjungi sivitas akademika UGM, tetapi juga masyarakat umum.
Sejumlah fasilitas tersedia di Wisdom Park UGM, seperti musala, toilet, rumah kaca (greenhouse), lampu taman, kursi taman, planter box, dan taman vertikal (vertical garden). Ada pula dermaga apung, view deck, dan forest walk di area Danau Bijak Wisdom Park.
Dikutip dari situs resminya, sejarah Wisdom Park bermula pada 5 Desember 2010, bertepatan dengan penyelenggaraan World Conference on Culture, Education, and Science (WISDOM) 2010 di UGM.
Peresmian konferensi tersebut secara simbolis ditandai dengan penanaman pohon yang sekaligus menjadi awal pembangunan Taman Kearifan (Wisdom Park).
Rektor UGM saat itu, Prof. Sudjarwadi, memimpin penanaman 38 pohon yang melibatkan 38 perguruan tinggi di Indonesia di halaman depan Grha Sabha Pramana (GSP) UGM.
Sebanyak 38 jenis pohon yang ditanam mewakili tanaman khas dari berbagai provinsi di Indonesia. Jenisnya antara lain kayu manis, puspa, meranti damar hitam, menteng, pala, kenari, cengkeh, kayu biti, ulin, saga, eboni, cendana, dan pasak bumi.
Viral Usai Pengunjung Ditagih Tarif Piknik
Seorang warga mengeluhkan penagihan tarif oleh seorang petugas keamanan saat piknik di Wisdom Park UGM. Warga tersebut mengunggah keluhannya melalui akun Threads @elraflukha.
kumparan telah mendapat izin untuk mengutip unggahan tersebut.
"Gaes, skrg d wisdom park ada biayanya.. Pdhl aku uda ngadain kumpul2 jg d bulan sebelum nya uda ijin jg bilangnya gpp free.. Tp skrg d datengin satpam katanya skrg tuh kl mau pake space/macem tikar itu berbayar kalian tau gak ngmgnya brp?? 129.500 per 1 jam bilangnya.. Berlaku baru2 aja katanya... 1 jam cm pake space doang, mending k cafe gk sih yg dpt AC dpt fasilitas speaker dan proyektor jg kdg2," tulis akun @elraflukha.
"Pdhl kita jg alumni UGM, dan msh ada mahasiswa UGM jg.. Pdhl cm acara picnic kumpul2 santai," lanjutnya.
Peristiwa Terjadi pada Minggu
Elraflukha mengatakan peristiwa itu terjadi pada Minggu (11/10), saat Sunday Morning (Sunmor). Sekitar dua atau tiga minggu sebelumnya, ia mengaku telah bertanya kepada petugas keamanan dan mendapat informasi bahwa pengunjung tidak dikenakan biaya.
"Dua atau tiga minggu sebelumnya saya udah tanya-tanya ke satpam sana katanya free aja, yang penting nggak bawa bus atau yang rombongan besar. Kalau cuma duduk-duduk ala piknik cuma 10 orang atau kurang saja nggak masalah," kata Elraflukha saat dikonfirmasi kumparan melalui pesan singkat, Selasa (13/10).
Ia mengatakan, pada Minggu itu, sejumlah pengunjung yang berkumpul dan menggelar tikar didatangi petugas.
"Aku lihat juga ada yang sekeluarga berempat gelar tikar juga didatengin," katanya.
Sempat Berdebat dengan Petugas
Saat ditagih tarif tersebut, Elraflukha mengaku sempat berdebat dengan petugas karena sebelumnya tidak mendapat informasi bahwa kegiatan piknik dikenakan biaya. Ia juga mengaku telah meminta izin.
"Tapi akhirnya nggak bayar kak, kita cuma disuruh minta ke GOR buat ketemu admin di sana, karena udah bad mood nggak lama kita juga beberes dan pulang, lebih tepatnya pindah tempat gitu," ujarnya.
Minta Transparansi dan Aturan yang Jelas
Elraflukha mengatakan dirinya tidak keberatan apabila pengunjung memang dikenakan tarif untuk menggunakan area Wisdom Park. Namun, menurut dia, besaran tarif harus masuk akal dan disampaikan secara transparan.
"Kalau emang mau ditarik biaya kita sebenrnya juga nggak papa, tapi tolong jangan mematok harga segitu karena terlalu besar dengan UMK kita yang mini ini. Sangat nggak worth it," katanya.
"Karena kalau harga segitu cuma buat 1 jam dan ternyata nggak dapat fasilitas apa-apa, jujur mending ke cafe space yang lebih nyaman dan lengkap fasilitasnya," lanjutnya.
Ia juga meminta pengelola menyosialisasikan aturan dan memasang pengumuman yang jelas mengenai tarif tersebut. Menurut dia, informasi itu tidak ditemukan saat berkunjung.
"Juga dikasih deh pengumuman besar di depannya, kalau mau ngadain acara atau bawa tiker ditarik biaya, biar komunikasinya jelas, karena masa sesama petugas aja komunikasinya nggak jelas, yang satu bilang free yang satunya bilang berbayar kan udah aneh," katanya.
Selain itu, ia meminta pengelola memberikan bukti pembayaran resmi apabila penggunaan area memang dikenakan tarif.
"Dan saran saya, kalau emang berbayar ada bukti pembayaran atau nota yang resmi, sehingga jatuhnya nggak kayak pungli," tegasnya.
Respons UGM
Terkait hal ini, kumparan telah mengonfirmasi Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana.
"Ditunggu nggih, belum ada info niki (ini)," kata Made Andi saat dikonfirmasi.
kumparan juga telah menghubungi Sekretaris UGM, Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu.
"Langsung ke Mas Andi Arsana ya," kata Andi Sandi.
