Memasak Menu Nusantara untuk Jemaah Haji RI di Makkah: Ikan Patin Balado-Tumisan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja mengemas paket makan malam bagi jamaah calon haji Indonesia di dapur Raghaeb Catering, Makkah, Arab Saudi, Selasa (13/5/2025). Foto: ANTARA FOTO/Andika Wahyu
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja mengemas paket makan malam bagi jamaah calon haji Indonesia di dapur Raghaeb Catering, Makkah, Arab Saudi, Selasa (13/5/2025). Foto: ANTARA FOTO/Andika Wahyu

Api menyala panas mengiringi aktivitas di dapur Raghaeb, Makkah, Rabu (14/5). Suara ‘sreeeng’ terdengar saat tumpukan ikan patin yang sudah dibumbui kuning dimasukkan ke wajan besar dilengkapi minyak goreng panas.

Chef yang bertugas terlihat memantau dan mengarahkan para orang dapur atau helper untuk memasak makanan yang nantinya dihidangkan untuk jemaah haji Indonesia.

Suasana di dapur Raghaeb, Makkah. Foto: Moh Fajri/kumparan

Untuk siang ini, menu yang dihidangkan adalah nasi putih, ikan patin bumbu balado, tumis wortel, kacang polong, dan jagung pipil. Menu tersebut dilengkapi jeruk dan air mineral.

Suasana di dapur Raghaeb, Makkah. Foto: Moh Fajri/kumparan

Sembari menunggu ikan goreng matang, ada yang bertugas mengolesi bumbu ke ikan patin, mengaduk bumbu balado, hingga memasak tumis. Mereka terlihat terampil menjalankan tugas yang sesuai porsinya masing-masing.

Di dapur Raghaeb ada 6 chef asal Tanah Air yang bergantian untuk memastikan masakan yang diolah sesuai dengan lidah orang Indonesia. Setiap hari, menu yang disajikan beragam untuk makan pagi, siang, dan malam.

Pekerja mengemas paket makan malam bagi jamaah calon haji Indonesia di dapur Raghaeb Catering, Makkah, Arab Saudi, Selasa (13/5/2025). Foto: ANTARA FOTO/Andika Wahyu

Tahun ini, bumbu yang digunakan instan dari Indonesia. Pada tahun sebelumnya, para chef meraciknya di Arab Saudi.

“Kalau secara produksi lebih mudah sekarang instan. Jadi membuat kita agak mengurangi pekerjaan, tidak harus dari awal banyak waktu. Misalkan dulu 5 jam, sekarang cukup 3 jam,” ungkap Chef di dapur Raghaeb, Muhammad Toha.

Layanan katering untuk jemaah Haji. Foto: Moh Fajri/kumparan

Setelah sudah matang semua, masakan tersebut nantinya akan dikemas atau dibungkus.

Dicek kualitasnya

Dua sampel makanan akan dikirimkan ke Kantor Daker Makkah dan Klinik Kesehatan Jemaah Haji Indonesia untuk dipastikan kualitasnya. Sebab makanan untuk jemaah haji Indonesia tidak bisa sembarangan dihidangkan.

Konsultan Tenaga Ahli Konsumsi PPIH Arab Saudi, Agung Ilham, menegaskan makanan untuk jemaah haji harus dijaga kualitasnya dengan baik.

“Untuk menjaga kualitas makanan, setiap dapur wajib mengirimkan dua sampel ke Kantor Daker dan dua sampel ke KKHI kesehatan itu untuk mengecek kualitas dari makanan tersebut baik gramasinya, rasa maupun kualitas makanan tersebut,” kata Agung di dapur Raghaeb, Makkah, Rabu (14/5).

Konsultan Tenaga Ahli Konsumsi PPIH Arab Saudi, Agung Ilham. Foto: Moh Fajri/kumparan

Agung mengatakan pihaknya juga bertugas untuk mengawasi proses memasak sampai makanan dihidangkan ke jemaah haji. Ia memastikan menu yang disajikan bercita rasa nusantara.

“Untuk produksi bumbu itu dilakukan di Indonesia, kemudian dikirim ke Arab Saudi untuk digunakan oleh para dapur yang akan melayani para jemaah haji Indonesia,” ujar Agung.

Agung mengungkapkan kapasitas dapur bisa memasak sampai 5.000 paket setiap harinya. Namun, saat ini jemaah haji belum semuanya memasuki Makkah. Sehingga paket makanan juga menyesuaikan jumlah jemaah yang sudah tiba.

“Jika sudah di masa puncak itu biasanya sudah 5.000, yang saat ini kita lihat masih dalam posisi 500, tapi ini akan terus naik, sampai ke puncak haji akan terus bertambah porsinya,” tutur Agung.