Membahas Tradisi Cawapres PDIP dari Kalangan NU

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konsolidasi pemenangan bacapres Ganjar Pranowo di GOR PKPSO Kaliwates, Jember, Minggu, (7/5) Foto: PDIP
zoom-in-whitePerbesar
Konsolidasi pemenangan bacapres Ganjar Pranowo di GOR PKPSO Kaliwates, Jember, Minggu, (7/5) Foto: PDIP

Sosok cawapres pendamping Gubernur Jateng Ganjar Pranowo masih menjadi teka-teki. Muncul isu Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri menginginkan cawapres Ganjar berasal dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU).

Sejumlah nama yang berasal dari NU, seperti Erick Thohir, muncul dalam bursa cawapres Ganjar. Bagaimana kans tokoh NU dipilih Megawati sebagai cawapres Ganjar?

Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saidiman Ahmad, mengatakan PDIP memang memiliki tradisi memilih cawapres dari NU. Ia mencontohkan terpilihnya Jusuf Kalla (JK) hingga Ma'ruf Amin sebagai cawapres.

"Dalam empat kali pemilihan presiden langsung sejak 2004, tiga kali PDIP mengambil tokoh NU sebagai calon wakil presidennya. Hasyim Muzadi di 2004, Jusuf Kalla 2014, dan Ma'ruf Amin di 2019," kata Saidiman saat dihubungi, Selasa (9/5).

"Artinya ada semacam tradisi di PDIP untuk selalu mempertimbangkan tokoh NU dalam format pasangan capres-cawapres yang mereka usung," imbuhnya.

Saidiman Ahmad, peneliti SMRC. Foto: saifulmujani.com

Namun, Saidiman menuturkan dalam simulasi yang dilakukan SMRC, cawapres tak terlalu signifikan untuk mendongkrak elektabilitas capres, termasuk Ganjar.

"Dalam survei eksperimental yang pernah kami lakukan di SMRC, tidak ditemukan efek signifikan dari tokoh cawapres untuk elektabilitas capres, termasuk Ganjar dalam simulasi tiga nama," kata dia.

Menurutnya, selama ini kemenangan di pilpres selalu bergantung pada kekuatan seorang capres. Sedangkan pengaruh cawapres tak terlalu signifikan.

"Pengalaman beberapa kali Pilpres juga menunjukkan demikian. Pengaruh cawapres tidak signifikan. Yang paling penting adalah capresnya," tutur Saidiman.

Namun, jika dilihat adanya kemungkinan tiga poros di 2024 yakni Ganjar, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan, maka popularitas seorang tokoh akan dipertimbangkan sebagai cawapres. Hal ini dianggap penting untuk menenangkan pilpres dua putaran.

"Namun demikian, karena pertarungan tiga nama (Ganjar-Prabowo-Anies) sangat ketat, popularitas tokoh kemungkinan akan dipertimbangkan oleh partai untuk menjadi cawapres," tandasnya.