Membandingkan Pidato Prabowo dan Trump di Sidang Umum PBB

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden AS Donald Trump berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80, di New York City, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Jeenah Moon/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden AS Donald Trump berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80, di New York City, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Jeenah Moon/REUTERS

Presiden Prabowo Subianto menjadi pembicara ketiga dalam Sidang Umum PBB yang digelar di Markas PBB di New York. Ini merupakan penampilan pertama Presiden Indonesia di Sidang Umum PBB setelah absen selama 10 tahun.

Prabowo berpidato di hari yang sama dengan Presiden AS Donald Trump. Berdasarkan urutan, Trump yang lebih dulu menyampaikan pidato, kemudian baru Prabowo.

Isi pidato keduanya pun menarik untuk disimak. Ada sejumlah topik yang sama yang disampaikan Prabowo dan Trump, namun dengan pesan yang berbeda.

Berikut kumparan rangkum perbandingan pidato Prabowo dan Trump di Sidang Umum PBB:

Pidato Prabowo

Presiden Indonesia Prabowo Subianto berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di Markas Besar PBB di New York, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Angela Weiss/AFP

Waktu: 15 Menit

Alokasi waktu berpidato di Sidang Umum PBB adalah 15 menit. Berdasarkan catatan kumparan, Prabowo menyampaikan pidatonya selama 19 menit, lebih 4 menit dari waktu yang ditentukan.

Dukung Solusi Dua Negara

Terkait situasi di Gaza, Prabowo kembali menegaskan dukungannya terhadap Palestina dan meminta negara anggota PBB tidak menyerah memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

"Dan saat ini kita tidak boleh diam ketika warga Palestina tidak mendapatkan keadilan dan legitimasi yang sama di aula ini," tegas Prabowo.

Prabowo juga menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap two state solution, menyatakan two state solution harus terus diperjuangkan dan menjadi harapan yang harus diwujudkan.

Presiden Indonesia Prabowo Subianto berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di Markas Besar PBB di New York, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Jeenah Moon/REUTERS

Antisipasi Perubahan Iklim

Kemudian soal perubahan iklim, Prabowo menyinggung peningkatan air laut yang ekstrem membuat Indonesia berencana membangun Giant Sea Wall di Pantai Jakarta Utara. Ia mengungkap, permukaan air laut meningkat 5 cm setiap tahunnya.

"Oleh karena itu kami memilih untuk menghadapi perubahan iklim, bukan dengan slogan-slogan, namun dengan langkah-langkah segera," sambungnya.

Presiden Indonesia Prabowo Subianto tiba untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80, di New York City, New York, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Kylie Cooper/REUTERS

Untuk mengatasi perubahan iklim, Prabowo juga menyatakan menargetkan reboisasi 12 juta hektare hutan terdegradasi. Prabowo juga menekankan langkah Indonesia dalam beralih dari pembangunan berbasis bahan bakar fosil menuju energi terbarukan, dan bahkan menyinggung Perjanjian Paris 2015.

Solidaritas Melawan Penjajahan

Prabowo juga menyinggung pengalaman pahit Indonesia yang pernah dijajah. Menurut Prabowo, penderitaan itu membuat rakyat Indonesia tahu betul bagaimana rasanya ditolak keadilan, hidup dalam kemiskinan, serta tidak memiliki kesempatan yang sama. Karena itu pula, Indonesia mampu memahami arti solidaritas dalam perjuangan kemerdekaan.

"Kami, rakyat Indonesia, tahu apa artinya ditolak keadilan dan apa artinya hidup dalam apartheid, hidup dalam kemiskinan, dan ditolak kesempatan yang sama. Kami juga tahu apa yang dapat dilakukan solidaritas dalam perjuangan kemerdekaan kami, dalam perjuangan kami mengatasi kelaparan, penyakit, dan kemiskinan," ucap dia.

Dunia Masih Butuhkan PBB

Standing applause dari Delegasi Indonesia usai Pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di Markas Besar PBB di New York, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: YouTube/ United Nations

Kemudian soal peran PBB, Prabowo menegaskan peran PBB yang masih penting. Ia menyatakan, dunia membutuhkan PBB dan Indonesia akan terus mendukung PBB.

"Kita tetap berkomitmen pada internasionalisme, kepada multilateralisme, dan kepada setiap usaha yang memperkuat institusi yang hebat ini," ujarnya.

Siap Kirim 20 Ribu Personel di Daerah Konflik

Prabowo juga menyatakan siap mengirim 20 ribu pasukan atau lebih untuk membantu PBB menjaga perdamaian di berbagai wilayah, seperti di Gaza, Ukraina, Sudan, dan Libya. Tak cuma dari sisi pengiriman pasukan, tapi juga dari sisi pendanaan.

Pidato Donald Trump

Presiden AS Donald Trump berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di markas besar PBB di New York, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Mike Segar/REUTERS

Waktu: 57 Menit

Sementara, Trump berpidato lebih dari waktu yang ditentukan. Berdasarkan catatan kumparan, Trump berpidato selama 57 menit.

Memamerkan Diri Sendiri

Trump membuka pidatonya dengan memamerkan program-program apa saja yang telah dikerjakannya selama 7 bulan memimpin AS untuk yang kedua kalinya. Salah satu yang dipamerkan Trump adalah konflik di berbagai belahan dunia yang diselesaikan AS selama 7 bulan terakhr.

Berdasarkan klaim Trump, konflik yang telah dia akhiri adalah konflik perbatasan Thailand-Kamboja, konflik India-Pakistan, perang Iran-Israel, konflik Kosovo-Serbia, konflik DRC-Rwanda, konflik Mesir-Ethiopia, dan konflik Armenia-Azerbaijan.

Trump juga memamerkan kebijakan mengatasi imigran ilegal di negaranya. Dia dengan bangga mengungkap usaha yang dilakukan pemerintahannya untuk mengatasi imigran ilegal, seperti penggerebekan hingga pengerahan Garda Nasional ke sejumlah negara bagian di AS.

Presiden AS Donald Trump berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di Markas Besar PBB di New York City, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Mike Segar/REUTERS

Tak Setuju Pengakuan pada Palestina

Terkait banyak negara termasuk sekutu AS yang mengakui negara Palestina, Trump mengatakan pengakuan itu merupakan hadiah bagi Hamas. Ia secara terbuka mengaku tidak setuju dengan pengakuan negara Palestina yang dilakukan banyak negara, termasuk oleh para sekutunya.

"Ini akan menjadi hadiah bagi Hamas, termasuk serangan 7 Oktober, bahkan saat mereka menolak membebaskan sandera atau menerima gencatan senjata," kata Trump.

Presiden AS Donald Trump berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80, di New York City, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Jeenah Moon/REUTERS

Hina Isu Perubahan Iklim

Trump kemudian menghina perubahan iklim sebagai penipuan di Sidang PBB. Menurutnya, perubahan iklim adalah penipuan terbesar yang pernah dilakukan dunia.

Kritik PBB & Pertanyakan Fungsinya

Trump juga melemparkan sindiran pada PBB. Dia bahkan mempertanyakan fungsi PBB -- meski juga sempat memuji PBB punya potensi yang besar.

Menurut Trump, seharusnya PBB-lah yang menyelesaikan perang dan konflik di dunia. Namun, peran PBB itu malah dilakukan olehnya.

Trump bahkan melayangkan kritik kepada fasilitas di Markas PBB. Dia menyinggung eskalator yang sempat mati saat dia hendak menuju ruang sidang, dan teleprompter yang jelek.

Presiden AS Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump menaiki eskalator saat tiba untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80, di New York City, New York, AS, Selasa (23/9/2025). Foto: Kylie Cooper/REUTERS

"Saya hanya dapat dua hal dari PBB, eskalator yang rusak dan teleprompter yang jelek," kata Trump.

"Saya hanya bisa bilang siapa pun yang mengoperasikan teleprompter ini menghadapi masalah besar," lanjutnya.

Kecaman Trump ini muncul karena telemprompternya macet selama 15 menit sehingga dia kemudian bicara "ngalor-ngidul". Eskalator juga macet saat dia bersama istrinya, Melania, naik menuju ruang sidang.