Membandingkan Situasi Gelombang Corona Varian Omicron vs Delta di Indonesia
·waktu baca 6 menit

Indonesia masih terus berjibaku melawan COVID-19 sejak virus tersebut dilaporkan masuk tahun 2020. Jumlah kasus positif corona pun naik turun seiring dengan dilakukannya program vaksinasi dan pemberlakuan kebijakan lainnya, seperti PSBB, PPKM, dan PTM terbatas.
Saat ini, kasus COVID-19 di Indonesia kian meroket di atas 10 ribu di tengah merebaknya varian Omicron. Per Rabu (2/2) kemarin, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan penambahan kasus corona di Indonesia sebanyak 17.895 kasus dalam 24 jam terakhir. Secara keseluruhan, kasus positif COVID-19 di Indonesia sudah mencapai 4.387.286 kasus.
Ahli wabah Griffith University Dicky Budiman menyebut Indonesia tengah menghadapi gelombang ketiga corona akibat varian Omicron. Analisis ini bahkan sudah diungkapnya sejak November 2021 berdasarkan riset yang matang.
Kenaikan kasus positif corona yang begitu cepat ini mengembalikan ingatan pada gelombang kedua di pertengahan tahun 2021. Kala itu, kemunculan varian Delta memberikan efek parah di dunia kesehatan. Selain dikenal lebih ganas dibandingkan varian yang sudah ada, varian Delta mampu membuat Indonesia kewalahan dengan langkanya berbagai fasilitas vital di rumah sakit.
Berdasarkan pengalaman ini, Indonesia sebenarnya dalam posisi lebih beruntung. Sebab, sudah banyak yang memiliki antibodi, baik karena infeksi maupun vaksinasi.
“Tapi kalau tidak dimanfaatkan secara cepat hasilnya akan sama kita akan gagal menyelamatkan banyak korban. Omicron ini rawan bukan hanya untuk lansia dan komorbid, tapi anak-anak juga. Ini serius sekali makanya saya bilang PTM (pembelajaran tatap muka) dihentikan dulu,” jelas Dicky saat dihubungi kumparan, Rabu (2/2).
Lantas, bagaimana data keadaan pandemi di RI saat kemunculan varian Omicron vs varian Delta?
Pertumbuhan Kasus Positif
a. Varian Omicron
Sejak Omicron dilaporkan masuk RI pada 14 Desember 2021 lalu, kasus positif corona terus meningkat. Namun, kenaikan secara signifikan baru terlihat usai libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Saat itu kasus positif harian di RI mampu mencapai 500 kasus (6/1) dan terus merangkak hingga mencapai lebih dari 1000 kasus per hari (15/1).
Meroketnya angka kasus harian ini membuat Indonesia kini menghadapi gelombang ketiga. Angka positif harian ini tak terlalu berbeda dengan keadaan awal gelombang kedua saat didominasi varian Delta.
b. Varian Delta
Varian Delta diketahui sudah masuk Indonesia sejak Januari 2021. Meski begitu, kasus pertama baru diumumkan pada bulan April. Kala itu, kasus harian berkisar antara 3000-6000 kasus. Jumlahnya terus naik hingga membentuk gelombang kedua pada bulan Juni. Tertinggi, pada 15 Juli 2021, kasus baru mencapai lebih dari 56 ribu kasus dalam sehari. Situasi akhirnya berangsur membaik pada bulan September 2021.
Kematian Corona Harian
a. Varian Omicron
Kasus kematian akibat corona sebelum libur Nataru berkisar di bawah 20 per hari. Bahkan, Kemenkes melaporkan hanya ada 1 kematian akibat corona di RI pada 2 Januari 2021. Per Rabu (2/2) kemarin, angka kematian harian menunjukkan kisaran angka yang sama seperti sebelumnya, namun mulai menunjukkan kenaikan. Seiring dengan naiknya kasus positif, angka kematian mulai meroket hingga mencapai 28 kematian sehari.
Kemenkes pun mencatat ada sebanyak 5 pasien positif varian Omicron yang meninggal dunia. Pasien meninggal tersebut mayoritas belum divaksin lengkap. Sebagian dari mereka adalah lansia serta anak-anak.
b. Varian Delta
Pandemi di masa Omicron saat ini masih tergolong ‘aman’ dibandingkan masa varian Delta. Sebelum gelombang kedua sekitar Mei 2021 lalu, kasus kematian berkisar antara 100-400 sehari. Jumlah ini menukik tajam saat memasuki gelombang dan mampu mencapai 2.069 kasus kematian dalam satu hari. Angka tersebut menjadi yang tertinggi selama pandemi COVID-19.
Pertumbuhan Tes Corona Harian
a. Varian Omicron
Saat kasus varian Omicron pertama ditemukan pada 14 Desember 2021, pemerintah terus melakukan tes corona di Indonesia. Setiap harinya, per Rabu (2/2), sekitar 160-200 ribuan tes dilakukan guna mendeteksi adanya COVID-19. Jumlah tersebut sebenarnya tak jauh berbeda dari masa sebelum Omicron masuk ke RI.
b. Varian Delta
Pada masa varian Delta masih mendominasi kasus corona di Indonesia, jumlah tes corona tergolong rendah. Setiap hari, tes dilakukan pada sekitar 100-200 ribu orang. Meskipun virus mengganas, tes paling banyak hanya mencapai 293 ribu saja.
Capaian Vaksinasi Harian
Pemerintah terus gencar melakukan vaksinasi di seluruh wilayah di Indonesia demi mencapai total sasaran 208 juta dosis vaksin. Usai varian Omicron dilaporkan pertama kali muncul akhir 2021, pemerintah lantas memulai program vaksinasi booster atau dosis ketiga bagi masyarakat umum pada 12 Januari 2022. Berdasarkan data Kemenkes, angka vaksinasi booster harian tertinggi mencapai 2.817.741 dosis (30/1).
Sebelumnya, pada masa varian Delta, pemberian dosis ketiga dimulai pada 1 September 2021. Vaksinasi tambahan saat itu hanya diperuntukkan bagi tenaga kesehatan saja.
Pada 17 Januari 2022 lalu, Presiden Jokowi mengapresiasi 30 provinsi di Indonesia. Sebab, capaian vaksinasi corona di wilayah tersebut sudah melebihi target 70 persen. Total vaksinasi di seluruh Indonesia saat ini sudah lebih dari 297 juta dosis. Hal ini menjadikan Indonesia negara tertinggi keempat di dunia dalam cakupan vaksinasi COVID-19.
Keterisian Tempat Tidur/Bed Occupancy Rate (BOR)
Keterisian tempat tidur (BOR) COVID-19 di rumah sakit di seluruh Indonesia mengalami peningkatan tak lama setelah varian Omicron terdeteksi. Meski begitu, kenaikannya tak begitu besar (di bawah 10 persen) jika dibandingkan dengan masa gelombang varian Delta. Saat itu, tempat tidur untuk pasien COVID-19 hampir penuh terisi, yakni mencapai 77 persen.
Namun, saat ini masyarakat di beberapa daerah patut waspada. DKI Jakarta, misalnya, mulai menunjukkan kenaikan persentase BOR yang cukup drastis sejak awal Januari 2022. Per 30 Januari, persentase keterisian tempat tidur COVID-19 mencapai 52 persen.
Positivity Rate
a. Varian Omicron
Sejalan dengan naiknya jumlah kasus positif harian, positivity rate di Indonesia kian meninggi. Termasuk ketika Omicron dilaporkan masuk ke RI pada Desember 2021 lalu. Sejak libur Nataru, positivity rate harian terus meroket hingga mencapai 7,88 persen. Angka tersebut telah melebihi ‘batas aman’ yang dikehendaki WHO, yakni 5 persen.
Menurut WHO, kasus corona di suatu negara bisa dikatakan sudah terkendali apabila positivity rate-nya di bawah 5 persen. Artinya saat ini pemerintah dan masyarakat harus berusaha lebih keras untuk mencegah penularan virus corona, terlebih varian Omicron.
b. Varian Delta
Hal ini tentu agar kejadian gelombang kedua pada pertengahan 2021 lalu tidak terulang. Saat itu, angka positivity rate mampu menembus 32,40 persen, tertinggi selama pandemi.
Kebijakan PPKM
Pemerintah secara berkala mengupdate kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Pada masa varian Omicron ini, pemerintah masih menjalankan PPKM Level di Jawa-Bali dan Luar Jawa-Bali. Sejumlah daerah beberapa kali naik dan turun level. Namun, saat ini tidak ada daerah yang berstatus level 4.
Keadaan sekarang sebenarnya lebih baik dan lebih longgar dari PPKM yang berlaku tahun lalu. Awalnya, pada Juli 2021, pemerintah memberlakukan PPKM Darurat dengan berbagai pembatasan perjalanan guna mencegah penyebaran varian Delta. Masyarakat pun harus melakukan sebagian besar kegiatan di rumah saja.
Aturan PPKM kini tak lagi menggunakan sistem penyekatan sebagaimana pada gelombang kedua. Pemerintah kini memperbolehkan masyarakat bepergian jauh asalkan sudah vaksin dan melakukan tes COVID-19.
