Membongkar Muslim Cyber Army, Pasukan Bersenjata Hoaks

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Polda Jatim meringkus anggota jaringan MCA. (Foto: Phaksy Sukowati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Polda Jatim meringkus anggota jaringan MCA. (Foto: Phaksy Sukowati/kumparan)

Menjelang berlangsungnya perhelatan politik Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu Presiden 2019, Kepolisian berhasil menangkap enam orang tersangka pengurus inti jaringan kelompok penyebar berita bohong atau hoaks: Muslim Cyber Army (MCA).

Pengurus MCA yang tertangkap itu diduga kuat menjadi otak di balik serangkaian pemberitaan palsu dan provokasi yang kerap berseliweran di lini masa akun-akun media sosial milik masyarakat.

Di Mabes Polri, Selasa (27/2), Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, M Iqbal, menyayangkan aksi-aksi MCA yang disebutnya bertanggung jawab atas “upaya-upaya provokasi seperti menyampaikan isu-isu negatif seperti tentang PKI, penganiayaan ulama, dan--dalam tanda petik--menghujat pemimpin negara dan beberapa tokoh tertentu.”

Enam orang tersangka yang ditangkap Senin (26/2) itu tergabung dalam satu grup WhatsApp rahasia bernama The Family of MCA. Grup ini menjadi pusat jaringan peredaran berita palsu yang diproduksi oleh MCA.

Para tersangka ditangkap di enam kota berbeda: Jakarta, Pangkal Pinang, Sumedang, Denpasar, Yogyakarta, dan Palu.

Penangkapan enam pengendali akun jaringan MCA tersebut merupakan hasil pengembangan penyelidikan yang telah dilakukan oleh Direktorat Cyber Crime Bareskrim Polri dan Direktorat Keamanan Khusus Badan Intelijen Kepolisian.

Sebelumnya, sepanjang medio 2017-2018, polisi telah menangkap 14 tersangka penyebar berita bohong yang juga terkait MCA.

Muslim Cyber Army sendiri bukan nama asing di media sosial. Kelompok itu lekat dengan kampanye anti-Ahok pada momen Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. Belakangan, jaringan ini juga aktif bergiat membela ‘ulama’ mereka di berbagai platform media sosial.

Salah satu pegiat media sosial yang mengaku sebagai bagian dari MCA ialah Jon Riah Ukur Ginting atau Jonru. Ia telah lebih dulu ditangkap polisi karena kasus ujaran kebencian. Jonru dengan gamblang menyatakan, bergabung dengan MCA merupakan kewajiban muslim untuk menunaikan tugas mereka: berdakwah di internet.

Modus Operandi

Jaring Muslim Cyber Army (Foto: Faisal Nu'man/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jaring Muslim Cyber Army (Foto: Faisal Nu'man/kumparan)

Anggota jaringan Muslim Cyber Army yang baru ditangkap polisi bukanlah kelompok yang bekerja secara amatir atau asal-asalan. Faktanya, kelompok ini punya struktur dan sistem pembagian tugas yang terorganisir.

Menurut Kasubdit I Ditpisiber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar, MCA terdiri dari beberapa grup. Masing-masing grup itu punya peran dalam memproduksi berita palsu dan menyebarkan provokasi kebencian.

Berdasarkan pernyataan Direktur Cyber Crime Bareskrim Polri, Muhammad Fadil Imran, MCA punya tiga akun yang beroperasi di platform media sosial Facebook. Ketiga akun tersebut adalah: United MCA, Cyber Muslim Defeat Hoax MCA, dan Team Sniper.

Akun United MCA merupakan grup terbuka di Facebook yang mempunyai lebih dari 100 ribu anggota dan dikelola oleh 20 admin. Grup besar ini, menurut Irwan, merupakan tempat “mereka mengunggah dan menyebarluaskan konten SARA yang bersifat provokatif dan berita bohong.”

Konten bertendensi SARA dan berita bohong yang beredar di grup tersebut bersumber dari satu grup lain di Facebook yang bersifat sangat rahasia, yaitu Cyber Muslim Defeat Hoax MCA. Grup ini diikuti oleh setidaknya 145 anggota dan bertugas memproduksi berita palsu atau konten provokatif untuk disebarluaskan di akun United MCA.

Berita yang diproduksi di grup ini, menurut Fadil Imran, digunakan “untuk setting opini, yang kemudian akan dibagikan secara serentak.”

Satu akun grup lain bernama Team Sniper. Sama seperti grup Cyber Muslim Defeat Hoax MCA, Team Sniper juga bersifat rahasia dengan keanggotaan terbatas: 177 anggota. Para anggota bertugas melaporkan (report) akun Facebook milik pihak yang mereka anggap lawan, agar diblokir oleh Facebook. Tak hanya itu, kelompok ini juga bertugas melakukan kontranarasi terhadap kelompok yang berseberangan dengan mereka.

Selain tiga grup tersebut, terdapat satu akun lain yang menjadi pusat pergerakan dari ketiga grup di atas. Satu akun induk ini tak berada di Facebook seperti tiga lainnya. Ia ada di platform WhatsApp. Akun itu ialah The Family of MCA.

The Family of MCA punya anggota terbatas. Enam tersangka yang baru ditangkap polisi merupakan anggota grup rahasia ini. Mereka bertugas memproduksi berita palsu, sekaligus mengendalikan aktivitas kelompok MCA di platform media sosial Facebook.

Menurut Irwan, “mereka yang disebut The Family ini adalah orang-orang yang telah lulus dari tahapan-tahapan di grup besar, grup kecil, dan kemudian berlanjut ke grup inti--The Family. Untuk dapat masuk ke grup ini, mereka harus dibaiat terlebih dahulu.”

Menariknya, tak semua pemegang akun The Family of MCA saling kenal satu sama lain. Mereka, ujar Brigjen Fadil Imran, dipertemukan dalam satu wadah MCA itu oleh kesamaan kepentingan, kesamaan visi, dan kesamaan misi.

Bagaimana mereka bisa bertemu? Tentu lewat jejaring sosial di jagat maya yang begitu luas.

“Jejaring media sosial bisa menjadi forum untuk sama-sama berkumpul,” ujar Fadil di kantornya, Cideng, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (28/2).

Motif Menyebar Hoaks

Contoh hoaks yang disebar Muslim Cyber Army. (Foto: Dok. Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Contoh hoaks yang disebar Muslim Cyber Army. (Foto: Dok. Istimewa)

Hoaks erat bersinggungan dengan kepentingan politik. Hoaks atau berita palsu dipercaya dapat mempengaruhi pilihan elektoral publik terhadap partai-partai maupun calon-calon pejabat yang akan berkontestasi di pemilu. Motif politis ini pula yang melatarbelakangi aktivitas MCA.

Hal itu dikatakan oleh Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, bahwa motif penyebarluasan berita palsu oleh MCA tak lepas dari motif politik. Terlebih, seperti telah dikatakan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, “Di awal tahun 2018 semua partai politik tengah memanaskan mesinnya, terutama partai yang berkepentingan (mengikuti) Pilkada 2018.”

Meski demikian, Kepolisian belum mengungkap lebih lanjut mengenai kemungkinan keterlibatan partai politik tertentu di balik pergerakan jaringan MCA.

“Harus dibuktikan dulu bahwa dia mendapatkan order dari siapa, kalau (membuat hoaks) itu memang ada perintah,” kata Setyo, Kamis (1/3).

Namun, tak dapat dinafikan produksi hoaks juga bisa karena motif lain. Pemerhati politik dan media sosial, Katherine Haenschen, dalam artikelnya, Disrupting the Business Model of Fake News, mengatakan bahwa selain motif politik, motif ekonomi juga bisa melatari produksi berita bohong.

Di Indonesia, hal tersebut bukanlah fenomena asing. Sebelum membongkar jaringan MCA, polisi beberapa waktu lalu telah lebih dulu membongkar bisnis gelap berita palsu yang dilakukan sindikat bernama Saracen. Namun, dalam konteks MCA, polisi masih akan mendalami motif lain selain motif politis

“(Penyelidikan) digital forensik sedang berjalan. Kalau kami melakukan pemerikasaan berdasarkan tanya jawab kan (tersangka) bisa ngelantur ke sana kemari. Tapi kami ada pegangan scientific untuk melakukan investigasi terhadap mereka semua,” ujar Fadil.

Para pelaku yang tertangkap dijerat pasal 45A ayat (20) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-Undang 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan/atau pasal Jo pasal 4 huruf b angka 1 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau pasal 33 UU ITE dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara atau denda sebanyak 1 miliar rupiah.

Belum Berakhir

Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala. Tapi satu tulisan bisa menembus jutaan.

Kalimat yang pernah diucapkan Sayyid Qutb--anggota utama Ikhwanul Muslimin Mesir--itu terpampang sebagai cover foto di dinding akun bernama “{MCA} Muslim Cyber Army 212”.

Pesan yang tertera di situ agaknya cukup dapat menjelaskan tujuan dibentuknya grup tersebut: pentingnya membangun narasi-narasi ideologis.

{MCA} Muslim Cyber Army 212 merupakan grup yang cukup besar. Anggotanya berjumlah 15.709 orang dan dikendalikan oleh 14 orang admin.

Tepat di hari tertangkapnya anggota jaringan MCA kemarin, tim kami menjajal masuk ke grup {MCA} Muslim Cyber Army 212 ini. Sebelum masuk, kami diminta untuk menuliskan syahadat dalam huruf latin. Kami juga mesti menjawab pertanyaan: Isa adalah nabi atau Tuhan?

Konten-konten yang dibagikan dalam grup {MCA} Muslim Cyber Army 212 mencakup berita internasional dari sumber yang kurang begitu jelas, video-video, sampai opini-opini pribadi anggota. Isu yang tersebar meliputi soal PKI, bela Islam, sampai Pemilu Presiden 2019.

Namun, ditilik dari indikator “like” dan “share”, grup ini tampaknya kurang begitu populer. Perdebatan di kolom komentar pun tak begitu panjang.

Grup (MCA) Muslim Cyber Army 212 di Facebook (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Grup (MCA) Muslim Cyber Army 212 di Facebook (Foto: Istimewa)

Pada platform Facebook, memang mudah saja menemukan akun yang melabeli diri dengan embel-embel Muslim Cyber Army. Mulai dari grup yang anggotanya puluhan hingga ribuan. Artinya, grup-grup semacam ini berserakan di tengah pengguna Facebook Indonesia yang menurut data Statista jumlahnya mencapai 87,75 juta orang.

Jonriah Ukur Ginting alias Jonru, dalam wawancara dengan CNN Indonesia (9/6/2017), pernah mengatakan bahwa Muslim Cyber Army bukanlah organisasi, melainkan semangat.

Pernyataan Jonru ditambah fakta yang terdapat di berbagai platform media sosial sebetulnya bisa diterjemahkan sebagai petunjuk bahwa: Muslim Cyber Army memang terlihat sebagai gerakan yang kekuatannya tidak bersifat sentralistik, namun menyebar.

Dengan demikian, akan sangat sulit untuk membungkam suara-suara MCA di media sosial, karena yang dihadapi adalah sebuah gerakan yang bersifat cair, otonom, dan terdesentralisasi, namun di sisi lain juga terorganisasi.

Indonesia, sejak dulu hingga kini, memang tak pernah lepas dari hoaks. Wujudnya, wajahnya, mungkin tak sama karena ia berkembang seiring zaman. Namun, satu hal yang jelas dari hoaks: ia menghasilkan kebodohan akut yang menyebar bak wabah di tengah masyarakat.

===============

Simak ulasan mendalam lain dengan mengikuti topik Outline.